
Aku menatap Pangeran Sera tidak percaya.
"Singkirkan itu, Aku tidak perlu menggunakannya"
Tak jauh dari tempatku. Pangeran Riana juga menolak kain yang diberikan Bangsawan Asry. Aku menatap keduanya bergantian. Apa mereka pikir ini sesuatu yang bisa dibuat main-main.
Aku menatap Lekky. Meminta bantuannya.
"Biarkan saja Yuki. Tapi ingat kalian berdua. Jika kalian terkena mantera cinta itu. Jangan suruh Yuki untuk menolong kalian" Kata Lekky tegas. Kedua Pangeran itu tak bergeming. Mereka tetap pada pendiriannya. Semua orang sudah memakai penutup mata. Aku mengecek satu persatu sebelum Kami berjalan menuju jembatan. Kami berbaris satu banjar. Kuda-kuda di tuntun. Terdengar riuh rendah para Putri duyung melihat kehadiran Kami. Aku berjalan di depan didampingi Pangeran Sera. Lekky berada di belakangku memegang bahuku. Di belakangnya ada Bangsawan Voldermon. Pangeran Riana berada di barisan belakang lain bersama Curly.
"Aku tidak percaya ini. Begitu banyak wanita cantik telanjang di depanku, dan Aku harus menutup mataku" Protes Bangsawan Voldermon keras ketika Kami baru melangkahkan kaki menaiki jembatan.
Teriakan para Putri duyung semakin heboh.
"Kau bisa membuka penutup matamu dan terjun bersama Mereka kalau Kau mau. Apa perlu kubantu ?" Tawar Lekky cepat.
"Oh tidak..Terimakasih. Aku cukup melihat Mereka saja. Lagipula Aku tidak suka tidur dengan Wanita yang tidak punya Kaki"
"Kenapa Kalian tidak Menutup mulut dan fokus berjalan saja" Kataku kesal. Keduanya langsung terkekeh. Aku melihat ke arah Pangeran Riana yang melihat kearahku dengan wajah garang. Dia tampak tidak suka melihat Pangeran Sera menggandeng tanganku.
"Lekky...Lekky Apa Kau tidak mau melihat Kami..." Goda para Putri duyung. Suara berkecipak terdengar dari dalam air. "Ayolah Lekky...Lihat Kami..Kami semua untukmu"
"Ya..Ya..Ya..dasar para ikan betina..Aku tidak akan tergoda lagi dengan kalian" Sungut Lekky kesal.
"Hay tampan...Mari bermain bersama" Putri duyung lain berusaha menggoda Pangeran Sera. Namun Pangeran Sera tidak menoleh. Dia tetap memandang lurus ke depan. Tangannya menggengam tanganku erat. Aku melirik ke belakang. Pangeran Riana juga tidak tergoda dengan para Putri duyung.
Aku dapat bernafas lega ketika Kami sudah berada di seberang. Jauh dari sungai. Terdengar jerit kecewa para Putri duyung. Lekky melepaskan penutup matanya. Dia memandang Pangeran Sera dengan tatapan penasaran.
__ADS_1
"Bagaimana Kau.." Tanya Lekky sembari menunjuk ke arah Para Putri duyung.
"Aku bukan dirimu" Kata Pangeran Sera tenang. Dia menatapku penuh kebanggan diri. Lekky berdecak tak suka.
Kami melanjutkan perjalanan. Mendaki gunung es yang terjal. Akhirnya Kami sampai di tempat tujuan. Lekky menemukan gua untuk Kami menginap dan tersembunyi. Dari tempat Kami Aku bisa melihat kuil tempat pendeta suci di sembunyikan.
"Kita akan berangkat besok pagi" Kata Lekky sembari meletakan tas nya di dalam gua. Seseorang membuat api unggun untuk menghangatkan Kami. Di luar angin menderu. Badai akan segera datang. Aku duduk bersandar sementara Pangeran Sera berada di sampingku. Pendeta Serfa datang kemudian bersama rombongan lainnya.
Aku mencoba menghubungi Ferlay. Dia mengangkatnya. Terdengar celotehannya di seberang.
"Mama.."
"Hay sayang..Kau belum tidur ?"
"Siapa Itu ?" Tanya Pangeran Sera mendekat.
"Dua adalah Ferlay. Anak Lekky. Tapi Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Dan Dia juga menganggapmu sebagai Ayahnya jika Kau tidak keberatan"
"Ferlay ada seseorang yang ingin ku perkenalkan padamu" Kataku pelan.
"Siapa Ma ?"
"Dia adalah Suami Mama. Pangeran Sera."
Pangeran Sera muncul di layar. Dia melambaikan tangan ke arah Ferlay. Ferlay terkikik senang. "Dia seperti dirimu" Ujar Pangeran Sera memandangi Ferlay. Aku menganggukan kepala setuju. Ferlay berbicara seru dengan Pangeran Sera. Saat malam datang, Kamu tidur dengan membagi tugas berjaga.
Aku terbangun. Pangeran Sera sudah tidak ada di sampingku. Dia berdiri melihat ke luar Gua. Di sampingnya Lekky sedang berjongkok memegang peta. Aku mengikat rambutku. Berjalan menghampiri Mereka. Beberapa orang masih tidur nyenyak dalam Gua.
__ADS_1
"Ada apa ?" Kataku begitu di dekat Mereka.
"Lekky memintaku mengukur jarak antara Gua dan Kuil itu"
Aku melihat sebuah patok dengan tali di tancapkan kuat di atas batu. Tali itu merenggang menembus kabut. Terbentang di atas jurang.
Tak lama Curly terlihat terbang mendekat. "Aku sudah mengikatkan tali itu di tempat yang aman" Lapor Curly dengan nada puas.
"Bukankah Kita akan memasuki kuil dengan jalur darat ?" Tanyaku tidak mengerti.
"Secara spesifiknya Kita membutuhkan Satu pelindung di dalam kuil sementara Kami berusaha menyusup ke dalam"
Lekky berdiri. Menyerahkan peta di tangannya pada Pangeran Sera. Dia berjalan mengambil tas punggungnya. Mengeluarkan peralatan di dalamya. Suaranya membangunkan yang lain.
"Siapa yang akan menyusup terlebih dahulu ?" Kataku tidak mengerti ketika Lekky membuat simpul tali.
"Tentu saja Kau"
"Tidak !!" Tolak Pangeran Sera langsung.
"Akan lebih beresiko membiarkan Dia turun gunung daripada menyuruhnya menunggu di dalam kuil"
"Aku tidak akan menyetujuinya. Kau menyuruh Yuki bergelantungan di sana" Tunjuk Pangeran pada tali yang membentang melewati jurang di bawahnya. Angin berhembus kencang dari dasar jurang. Membawa kengerian tersendiri.
"Aku tidak bisa menggunakan sayapku. Para penjaga akan menyadari kehadiran kita. Kalau Kau ingin Dia selamat ikuti caraku" Kata Lekky tegas.
"Tidak apa-apa" Kataku akhirnya menengahi pertingkaian yang tidak perlu. "Aku bisa melakukannya"
__ADS_1
"Yuki" Protes Pangeran Sera tidak suka.
"Aku mohon Pangeran, Percayalah padaku" Aku menatap Pangeran dalam. Mencoba meyakinkannya.