Rain Poor

Rain Poor
9


__ADS_3

Aku menundukkan kepala dalam. Tidak berani menatapnya. Tanganku terasa berkeringat. Aku menahan mati-matian perasaan untuk berlari pergi. Pangeran Sera perlahan mengulurkan tangannya. Dia memegang daguku, memaksaku untuk mendongak.


Mata Kami bertemu. Ada sirat keterkejutan di matanya. Aku langsung menundukkan kepala dan melangkah mundur. Jantungku berdebar kencang. Pikiranku terus memanggil nama Lekky, berharap Dia berada di dekat sini dan mendengarkanku.


Pangeran Sera menarik pinggangku mendekatinya, wajahku membentur dadanya keras. Kami kembali bertatapan. Aku merasa membeku di depannya. Tangannya terangkat, terulur hendak melepaskan cadarku.


Tidak..!!


Sebuah kilatan cahaya yang menyilaukan muncul membuatku memicingkan mata. Ketika membuka mata Aku terkejut, Lekky sudah berada di antara Kami. Dia menempelkan pisau kecil di leher Pangeran Sera. Wajahnya tenang namun penuh ancaman. Satu tangan yang lain mencekal tangan Pangeran Sera yang nyaris membuka cadarku.


"Singkirkan tanganmu darinya" Kata Lekky menatap lurus kearah Pangeran Sera. Di belakang Pangeran Sera para prajurit Argueda turun dan bersiap. Terasa ketegangan di tempat Kami. Dari sudut mata Aku menyadari kehadiran Pangeran Riana. Entah sejak kapan Dia dan rombongannya berada di sana. Pangeran Riana diam ditempatnya, memperhatikan. Beberapa orang yang berada di sekitar berhenti untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Pangeran Sera menurunkan tangannya. Aku segera melepaskan diri dari pegangannya dan berdiri di belakang Lekky. Pangeran Sera dan Lekky saking bertatapan dalam diam. Pisau masih menempel di leher Pangeran. Aku memegangi bajunya, berjaga-jaga jika Dia melakukan sesuatu pada Pangeran Sera. Lekky sudah berjanji padaku tidak akan menyakiti Pangeran Sera maupun Pangeran Riana. Tapi Aku khawatir Lekky akan berubah pikiran jika ada sesuatu yang memicunya.

__ADS_1


"Lekky turunkan pisau itu" Bisikku memohon. Tapi Lekky tidak bergeming. "Lekky Aku mohon" Kataku lagi.


"Hey..Hey sudahlah..." Varmount, Sepupu Lekky. Anak laki-laki Lazzar datang. Varmount memiliki tubuh yang gempal dengan tulang yang besar. Rambutnya berwarna hitam dan memiliki kulit kecoklatan terbakar sinar matahari serta perut yang sedikit buncit. Dia datang menerobos kerumuman. "Lekky turunkan pisaumu" Perintahnya tegas.


Aku menyentakan baju Lekky memohonnya. Lekky membalikkan pisaunya sehingga gagang pisau berada di atas, lalu melepaskannya. Terdengar suara dentingan besi ketika pisau itu membentur tangga.


Lekky berjalan menuruni tangga sambil memegang pergelangan tanganku. Aku melangkahkan kaki mengikutinya. Kami melewati rombongan Pangeran Riana seolah tidak melihat mereka.


Rasanya semenjak kejadian itu Aku merasa sangat sulit bergerak. Dari Curly Aku tahu Pangeran Sera menyuruh orang untuk mengawasiku dua puluh empat jam. Tampaknya Dia curiga padaku. Namun yang paling membuatku terkejut, Raja Garduete, Putri Marsha, Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Voldermon juga menyuruh orang untuk memata-mataiku.


Aku mengenakan pakaian kain biasa, Aku berencana pergi ke pusat kota untuk memperlihatkan diriku sedang makan atau berbelanja di salah satu toko yang ada di sana sampai ada seseorang yang mengenaliku. Lalu Aku akan pergi kembali ke kamar Pendeta suci dan berjalan keluar dari sana, Sehingga seolah-olah Aku memang berada di sana saat "Yuki" muncul di kota.


Rencanaku cukup berhasil. Curly mengatakan kecurigaan padaku berkurang karena selain Mereka tidak dapat menemukan informasi apapun mengenaiku sebagai pelayan pribadi Lekky darmount, Mereka juga melihat Yuki berada di tempat lain yang sangat jauh letaknya dariku. Aku perlu berusaha sedikit lagi agar terlepas dari kecurigaan ini. Sangat berat harus terus berpura-pura dan berbohong. Rasanya Aku memiliki ketakutan sendiri jika penyamaranku ini terbongkar.

__ADS_1


Aku menemani Lekky berlatih di sebuah sarana pelatihan sembari membaca buku. Aku memilih duduk di dekat cendela sementara Lekky melatih otot-ototnya dengan sebuah barbel di dekatku. Tak jauh dari tempat Kami, Pangeran Riana bersama bangsawan Xasfir berlatih pedang. Beberapa orang lainnya ada yang berlatih tanding atau melakukan kegiatan bersama. Ruangan ini cukup luas dan nyaman dengan fasilitas yang lumayan untuk berlatih sehingga tidak heran banyak yang menggunakannya untuk mempertahankan bentuk tubuh dan fisik mereka di sini.


Angin bertiup cukup kencang dari cendela yang kubiarkan terbuka setengah. Pembatas bukuku terbang tertiup angin, jatuh di lantai dekat tempat Pangeran Riana dan Bangsawan Xasfir berlatih. Aku beringsut untuk mengambilnya. Ketika Aku berjongkok, tanpa sengaja kain yang menutupi rambutku terlepas ke bawah. Aku berdiri, memasukkan pembatas buku ke dalam selipan buku ditanganku ketika sebuah tangan menarikku kencang.


"Yuki..Kau kembali ?"


Aku terkejut. Bangsawan Voldermon menatapku dengan sorot senang. Aku tertegun beberapa saat sebelum akhirnya tersadar. Aku menyentakan cekalan tangannya hingga terlepas. Dengan gugup membenahi kain di rambutku.


Suasana tampak hening. Aku bisa merasakan tatapan tajam Pangeran Riana kepadaku walaupun Aku tidak melihatnya secara langsung. Untungnya di tengah ketegangan itu, Lekky berjalan ke arahku. Aku segera mundur, bersembunyi seperti seorang pengecut di belakangnya.


"Ada apa ?" Tanya Lekky kepada Bangsawan Voldermon. Bangsawan Voldermon mengangkat tangannya. Wajahnya tampak menunjukan penyesalan. Bangsawan Xasfir berada di belakangnya, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sorot mata Bangsawan Xasfir penuh ancaman ketika memandang Kami.


"Maafkan Aku, Aku salah mengira sebagai seseorang yang Kukenal. Bentuk dan warna rambutnya dari belakang mengingatkanku dengan temanku"

__ADS_1


Lekky diam memandang Bangsawan Voldermon. Kemudian Dia mengandeng tanganku, berjalan pergi sambil menyenggolkan bahunya dengan sengaja kearah Bangsawan Voldermon.


__ADS_2