Rain Poor

Rain Poor
26


__ADS_3

Lekky mengumpat, Dia bergerak mundur ketika Aku akan memukulnya lagi. Kedua tanganku di pegangnya, menahan gerakanku. Bangsawan Xasfir menatapku dengan ekpresi tidak percaya.


"Sialan Kau, Apa maksudmu dengan ini" Aku menunjukan tujuh jariku pada Lekky. "Kau jangan mengarang, Mana mungkin sebanyak itu"


"Aku belum selesai menghitungnya" Lekky berkelit ketika Aku berusaha memukulnya lagi.


"Tidak mungkin sebanyak itu" Sergahku lagi dengan kesal.


"Apa perlu kusebutkan namanya satu persatu agar Kau percaya" Tantang Lekky penuh percaya diri.


"Tidak" Tolakku langsung.


"Kenapa ?, Kau takut mengetahui jumlah yang sebenarnya."


"Tutup mulutmu. Katakan saja jika Kau sebenarnya cemburu padaku Kan, Iya kan.. Kalau bukan karena Kau adalah Kakakku, Kau pasti juga akan jatuh cinta padaku. Kau kan seperti Ayah. Menyukai wanita yang bukan manusia seutuhnya" Selorohku asal.


Lekky tertawa geli.


"Kakak ?" Aku terdiam. Menyadari Aku telah kelepasan bicara di tempat yang tidak seharusnya. Bangsawan Voldermon menatapku dan Lekky dengan tatapan menuntut jawaban.


"Bukan urusanmu" Jawab Lekky acuh. "Ayo kita mulai lagi" Lekky menurunkan satu jariku dengan paksa. Sekarang hanya Aku yang sudah kehilangan tiga jariku. Botol kembali di putar. Mengarah kepada Lekky.


"Sebutkan nama mantan yang berawalan R ?"


Aku mengernyit menatap Lekky. Putri Marsha bereaksi cukup keras. Dia sepertinya ingin menggoda Putri Marsha atau Pangeran Riana ?. Sifat iseng Lekky keluar di saat yang tidak tepat. Hanya Pangeran Riana dan Putri Marsha yang memilih untuk menurunkan jarinya.


"Kau bisa menurunkan jarimu kalau Kau mau" Ujar Lekky di sampingku. Aku tersenyum senang.


"Tidak. Aku punya Raymond untuk kesebut" Kataku puas. Raymond adalah mantan pacar pertamaku saat Aku masih di dunia sana. Aku pernah di tunjukan oleh Lekky bagaimana keadaannya sekarang. Dia berubah seratus delapan puluh derajat dari yang pernah kukenal. Aku tidak mengerti apa yang menyebabkannya begitu.


Lekky berdecak tidak senang. "Sial, Aku lupa dengan mantan pacar tersayangmu itu"

__ADS_1


Botol kembali di putar. Mengarah pada Bangsawan Asry kembali.


"Kau juga tidak akan bertanya siapa diantara kita yang berjenis kelamin perempuan kan ?" Tanya Bangsawan Xasfir membuat Bangsawan Asry terkekeh.


"Aku rasa Aku akan menanyakannya"


"Tidak adil" Seru Putri Marsha. Aku berwajah masam. Kenapa semua pertanyaannya sama sekali tidak berbobot. Dengan terpaksa Aku menekuk jariku lagi. Kini tinggal satu jari lagi dan Aku bisa tamat.


Botol di putar. Putri Marsha tampak senang saat Bagian kepala botol tepat mengarah kepadanya. Dia memandangku dengan tatapan mengejek. "Siapa yang meninggalkan suaminya untuk laki laki lain"


Sial.


Lekky tersenyum menanggapi perkataan Putri Marsha. Dia menyodorkan gelas anggurnya seolah memuji keberanian Putri Marsha. Bangsawan Voldermon membuka sebotol anggur dan meletakan di depanku. Aku mengangkat botol itu dengan rasa enggan. Lekky, Bangsawan Voldermon dan Bangsawan Asry menyanyikan lagu idiot merayakan kekalahanku.


Kami melanjutkan permainan.


Hari sudah larut malam. Lekky telah lebih dulu pergi setelah ada Panggilan dari Lazzar. Benar-benar kakak yang tidak bertanggung jawab. Sementara Putri Marsha sudah kembali ke istana karena ada upacara keagamaan besok. Bangsawan Xasfir memapah Bangsawan Asry yang mabuk karena terlalu banyak minum. Sementara itu Bangsawan Voldermon sudah ambruk di sampingku. Aku meletakan kepalaku di meja saat Pangeran menarik Bangsawan Voldermon untuk berdiri, membantunya kembali ke kamar.


Aku bangun dengan kepala berkunang. Pandanganku seakan berputar. Dengan sekuat tenaga Aku menggerakan tubuhku. Berjalan sempoyongan menyusuri lorong. Rasanya jarak kamar dan ruangan tempatku berada sangat jauh sekarang.


Pandanganku kacau. Aku melihat Pangeran Riana dan Bangsawan Voldermon dalam satu tubuh. Aku mengusap mataku, Mencoba fokus.


Ketika mendongak kembali, Aku melihat Bangsawan Voldermon membungkuk untuk mengangkatku ke dadanya. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Aneh...


Aromanya seperti Pangeran Riana.


Apa Aku tidak salah ?.


Bangsawan Voldermon membawaku ke dalam kamar. Membaringkanku ke atas tempat tidur. Dia pergi sebentar dan kembali dengan membawa baskom. Aku menepis tangannya menolak saat Dia mengelap wajahku dengan handuk hangat.


"Diam Yuki"

__ADS_1


Aku kembali mendongak. Rasanya suaranya seperti Pangeran Riana.


Bangsawan Voldermon selesai mengelap wajah, tangan dan kakiku. Membaringkanku di atas tempat tidur. Dia menyelimuti tubuhku. Aku berbaring menyamping untuk melihat sosoknya yang berjongkok di depanku.


"Jangan pernah lagi Kau mabuk seperti ini jika tidak bersamaku"


"Oke.." Jawabku cepat.


Aku mendesah. Memejamkan mataku. Rasa peningku semakin menjadi.


"Bangsawan Voldermon" Panggilku pelan. "Terimakasih banyak telah begitu baik padaku selama ini"


Bangsawan Voldermon diam.


"Aku merasa sangat bersalah padamu. Karena menyembunyikan rahasia itu Kau hampir kehilangan nyawamu"


"Rahasia apa ?" Tanya Bangsawan Voldermon. Aku mengerjap. Menatapnya tidak mengerti.


"Kau sudah berjanji padaku Kau tidak akan memberitahukan pada siapapun terutama Pangeran Riana"


"Kenapa Dia tidak boleh tahu ?"


"Sebab Dia akan marah. Aku tahu bagaimana sifatnya. Jika Dia mengetahui rahasia ini Dia pasti akan marah besar"


"Katakan Yuki...Rahasia apa itu ?"


Aku menggelengkan kepalaku. Semakin aneh. Sesaat Aku seperti melihat Bangsawan Voldermon. Sekarang Aku justru melihat Pangeran Riana. Aku seperti tidak bisa membedakan yang mana realita dan yang mana khayalan. Aku terlalu banyak minum anggur.


"Katakan" Kata Pangeran Riana sembari mengoyangkan bahuku. Aku menepisnya.


"Sampai mati pun Aku tidak akan mengatakan padamu"

__ADS_1


Aku menghela nafas. Aku harus mencoba menenangkan diri. Aku memejamkan mata. Merasakan perasaan seperti ketika baru turun dari kapal setelah berminggu-minggu berlayar.


Aku sempat membuka mata sebentar. Pangeran Riana berdiri dan meninggalkan kamar.


__ADS_2