
Bangsawan Voldermon tersenyum lembut. Aku jadi merasa semakin sedih mendengarnya.
"Kau benar-benar keras kepala" Kataku akhirnya. Musik selesai di mainkan. Bangsawan Voldermon menerima ajakan dansa seorang Putri. Aku kembali menuju area pesta. Celingak-celinguk mencari keberadaan Pangeran Sera. Akhirnya Aku menemukannya sedang berbicara dengan dua orang Putri yang menginginkan untuk berdansa dengan Pangeran Sera. Namun dengan tegas Pangeran menolaknya.
"Kau sudah selesai ?" Sapa Pangeran Sera mengabaikan dua orang Putri yang kini melihatku dengan tatapan tidak suka. Aku menganggukan kepala.
"Ayo kita mencari tempat duduk" Ajak Pangeran Lagi. Aku tidak membantah. Seorang pelayan mengantarkan Kami ke tempat duduk yang telah di tentukan. Aku bisa melihat Pangeran Riana dan Putri Marsha dari tempatku dengan jelas. Aku memalingkan wajahku berusaha bersikap tidak terjadi apa-apa.
"Aku ingin mengambil beberapa camilan terlebih dahulu." Pamitku kepada Pangeran Sera yang sudah mengobrol dengan seorang Bangsawan yang duduk satu meja dengan Kami. Aku berdiri. Merasa lega jauh dari jangkauan penglihatan Pangeran Riana yang seolah menusukku.
Aku mengambil piring kecil. Alunan musik lembut kembali terdengar. Beberapa pasangan berdansa. Putri Marsha berdansa dengan kakaknya. Bangsawan Voldermon masih bertahan dengan pasangannya.
Aku sedang memilih-milih kue ketika Aku merasakan tatapan menusuk. Saat mendongak, Pangeran Riana sedang mengobrol dengan lawan bicaranya. Namun matanya jelas menatapku, mengawasi setiap pergerakanku. Aku membeku dengan tatapannya itu. Tidak tahu apa yang harus Aku lakukan.
"Ini cukup enak" Aku terkejut ketika Pangeran Sera tahu-tahu sudah berada di sampingku. Dia mengambil beberapa kue dan meletakan di piringku. Apakah Dia menyadari situasi yang terjadi barusan ?.
Pangeran tampak tenang.
Aku rasa Aku terlalu berpikir berlebihan.
__ADS_1
"Sudah cukup. Aku tidak mungkin memakan semuanya" Kataku ketika Pangeran meletakan lagi cemilan lain di piringku.
Kami kembali ke bangku. Perayaan ulang tahun Bangsawan Voldermon berlangsung dengan cukup meriah. Semua orang seolah melupakan apa yang akan mereka hadapi ke depannya. Semuanya bersenang-senang.
"Aku akan ke kamar mandi dulu" Bisikku pada Pangeran Sera.
"Apa mau diantar ?"
"Tidak perlu" Tolakku cepat. Sangat memalukan jika Aku harus ke kamar mandi dan Pangeran Sera menungguku di depan. Pangeran seolah mengerti.
Aku berjalan menuju pintu keluar. Berbelok ke kiri dan menyusuri lorong di taman tengah gedung. Aku berhasil menemukan kamar mandi. Rasanya cukup lega berada di sini seorang diri dan terbebas dari suasana canggung di dalam sana. Pangeran Riana terus menerus melihat ke arah Kami dengan tatapan tidak menyenangkan. Aku ingin sekali pulang tapi ku tahan perasaan itu mengingat ini adalah ulang tahun Bangsawan Voldermon. Sahabatku. Aku tidak mau mengecewakannya.
Di tengah acara tadi, Tiba-tiba gelas di tangan Pangeran Riana pecah. Dia sudah pergi cukup lama, Meninggalkan pesta seorang diri. Pangeran Sera tampak acuh dan tidak mau terganggu dengan situasi yang terjadi.
Aku mendesah. Semua bagaikan jalan buntu untukku. Memikirkannya membuat kepalaku pecah. Aku mencuci tanganku dan memutuskan untuk kembali ke ruangan.
Ketika dalam perjalanan kembali. Aku terkejut saat melihat Pangeran Riana. Dia berjalan di seberang lorong, mengarah kearahku, Berjalan seorang diri. Aku menundukkan pandanganku. Menghindari tatapannya. Tangan kanannya diperban karena Luka akibat pecahan gelas. Saat Kami berpapasan, Tanpa di duga Pangeran menarikku kuat. Aku memberontak berusaha melepaskan diri. Pangeran menarikku memasuki lorong yang sepi. Aku melihat ke kanan dan ke kiri. Khawatir jika ada yang melihat Kami dan mengakibatkan salah paham. Pangeran Berdiri di depanku. Kedua tangannya mengurungku sedemikian rupa. Aku berusaha menahannya agar tidak mendekat dengan kedua tanganku.
"Lepaskan Aku" Kataku Akhirnya ketika tidak berhasil membebaskan diri. "Aku mohon Pangeran...Jika ada yang melihat Kita, Ini akan menjadi kesalahpahaman yang tidak perlu"
__ADS_1
"Kenapa Kau bisa dengan mudahnya kembali padanya Tapi tidak bisa kembali padaku ?" Tanya Pangeran Riana membuatku tertegun. Aku menatap Pangeran Riana. Ada emosi yang begitu besar di dalam dirinya. Rahangnya terkatup rapat menahan amarah.
"Jawab Aku Yuki" Kata Pangeran lagi lebih tegas. "Kenapa Kau bisa kembali dengannya tapi denganku tidak ?"
"Kami sudah menikah"
"Menikah ?, Lalu jika benar Kau menikah karena mencintainya kenapa Kau malah pergi meninggalkannya selama ini"
"Apapun yang terjadi dengan rumah tanggaku Pangeran Riana. Itu bukanlah hak mu untuk mencampurinya" Aku kembali berusaha melepaskan diri. Wajah Pangeran begitu dekat. Aku bahkan bisa merasakan kehangatan nafasnya di pipiku. Situasi yang sangat berbahaya. Aku harus segera kembali ke Aula. Aku khawatir Pangeran Sera akan mencariku dan malah menemukan Kami seperti ini.
"Aku tanya kenapa Kau tidak bisa kembali padaku sedangkan dengannya Kau bisa ?"
Terdengar suara langkah Kaki mendekat. Membuat jantungku seolah berdetak dengan kencang. aku semakin berusaha membebaskan diri.
"Pangeran Riana...Kita.." Pendeta Serfa muncul dan tertegun saat melihat Kami. Aku kembali mendorong Pangeran Riana dan berhasil. Bergegas Aku pergi. Melewati Pendeta Serfa yang terdiam di tempatnya.
Tapi...Sebuah sentakan keras memaksaku berbalik. Pangeran Riana merengkuh wajahku dan langsung mencium bibirku.
"Mmmpppp..." Aku mendorongnya kuat.
__ADS_1
Refleks menamparnya.
Tanpa banyak berbicara Aku langsung berlari pergi meninggalkan Mereka berdua. Terdengar suara tembok di pukul cukup keras di belakangku.