Rain Poor

Rain Poor
46


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aku sudah bangun. Aku mandi dan mengenakan pakaian dari kain biasa. Melepaskan segala atribut Putri dari tubuhku. Aku mengepang rambutku ke belakang, memakai sepatu tali. Pangeran telah siap. Kami berjalan berdua menuju halaman belakang istana. Saat Kami tiba, yang lain sudah menunggu Kami.


Dua buah Coracal diikat tak jauh dari Raldoft. Bangsawan Voldermon menguap lebar di sampingku. Wajahnya jelas menunjukan Dia kurang tidur. Tak jauh dari tempatnya Bangsawan Xasfir berdiri bagaikan patung. Wajahnya menyembunyikan kesedihan. Saat matahari terbit nanti Putri Marsha akan menjalani hukumannya.


Aku berusaha mengalihkan pikiranku. Mencoba fokus pada perjalanan kali ini. Mencoba tidak terganggu dengan masalah Putri Marsha. Aku meletakan tas ku ke atas punggung Coracal. Tapi, tiba-tiba Pangeran datang dan langsung mengambil tas ku. Membawanya menuju Raldoft.


"Apa Kau yakin bisa untuk ikut perjalanan ini ?" Tanya Pangeran pada Bangsawan Xasfir saat Pangeran akan melewatinya.


"Ya. Tentu saja. Ayo Kita pergi"


Pangeran menepuk bahu Bangsawan Xasfir. Dia kemudian berpaling padaku. Aku menyadari beberapa saat kemudian. Dia menungguku datang kepadanya. Aku melangkahkan kaki mendekatinya. Lebih baik Aku tidak berdebat dengannya sekarang. Kami harus segera pergi untuk menjalankan misi. Aku tidak mau ada pertengkaran yang tidak perlu. Aku menaiki punggung Raldoft. Bangsawan Xasfir naik seorang diri dan Bangsawan Voldermon naik bersama Bangsawan Asry. Setelah Kami semua siap. Kami langsung terbang menuju langit yang masih gelap. Menembus angin yang berhembus kencang di atas sana. Aku merapatkan mantel yang ku pakai. Dari belakang, Pangeran Riana memelukku di dadanya.


Perjalanan ini cukup panjang. Kami melalui delapan jam perjalanan udara tanpa berhenti. Sebentar lagi matahari akan tepat di kepala. Aku mengusap keringat yang mengalir di kening. Jika melihat dari kondisi sekitar sebentar lagi akan ada hujan yang cukup deras.


"Di sana" Kataku menunjuk hutan di bawah Kami. Kami telah sampai di gunung pribadi milik keluarga Darmount. Lekky membangun rumah sendiri di salah satu hutan di kaki gunung itu. Selama lima tahun ini di sanalah Aku tinggal bersama Lekky dengan menyembunyikan identitasku.


Pangeran mengendalikan Raldoft ke tempat yang Aku tuju. Aku berpegangan erat saat Raldoft menukik turun. Perlahan pepohonan terlihat jelas. Aku kembali menunjuk dengan tepat lokasi rumah Lekky. Dia menyanar cukup baik. Tidak ada masyarakat sekitar yang menyangka salah satu keluarga Darmount membuat rumah di luar pagar pembatas gunung, Berbaur dengan Mereka. Tidak sembarang orang bisa dengan mudah melewati gerbang batasan itu. Jika ada yang memaksa masuk Mereka akan berakhir tinggal nama tanpa jasad.

__ADS_1


Rumah yang di bangun Lekky adalah rumah tingkat dua dengan halaman yang cukup luas. Di kelilingi oleh kebun milik masyarakat. Aku sering berbaur dengan warga sekitar dan belajar bercocok tanam. Akhirnya Aku mempraktekan sendiri di perkarangan belakang. Membuat kebun keluarga berisi buah-buahan dan sayuran. Saat Raldoft mendaratkan kaki ke tanah. Pintu depan rumah terbuka. Ferlay keluar dan berlari dengan langkah kecilnya.


Wajahnya berbinar senang dengan semburat kemerahan di pipinya yang bulat.


"Mamaaa..." Teriak Ferlay senang. Aku merentangkan tanganku dan langsung menyambut Ferlay di pelukanku.


"Aku kangen sama Mama"


"Mama juga kangen denganmu. Bagaimana keadaanmu..Apa Kau sehat"


"Ya Mama.."


"Iya Dia anakku" Kataku cepat. Secara spesifik Ferlay memiliki fisik yang sama denganku. Dia memiliki warna rambut dan bola mata yang persis sama denganku. Banyak orang mengira Ferlay adalah anakku. Aku sengaja membiarkan Ferlay memanggilku Mama. Berharap dengan begitu bisa mengisi kekosongan di hatinya akibat kematian Ibunya.


George. Pelayan pribadi Lekky sekaligus kepala pelayan di rumah keluar dengan tenang. Membungkuk hormat menyambut Kami. "Nona anda sudah datang, Saya sudah menyiapkan kamar untuk Nona dan para tamu"


"Terimakasih. Apakah Lekky belum datang ?"

__ADS_1


"Tuan Lekky berpesan untuk menunggu sampai Dia datang"


Pelayan Pria yang lain datang dan membantu membawa Coracal. Aku mengambil tas ku di punggung Raldoft sementara Pangeran menepuk pipi Raldoft. Berkomunikasi dengan Raldoft yang kini mendengkur pelan seperti seekor kucing. Kami berjalan memasuki rumah dengan Ferlay di gendonganku.


Saat Aku memasuki rumah, Aku mencium aroma masakan yang menggiurkan. Nenek keluar dengan membawakan teh hangat dan beberapa roti yang jelas baru di panggang. Lekky ternyata serius membawa Nenek ke dirumahnya. Dia Membawa Nenek kemari sebelum berangkat pergi dengan perjalanan udara.


"Saya sudah menyiapkan makanan. Mungkin kalian ingin istirahat dan berganti pakaian terlebih dahulu" Tawar Nenek sambil membagikan teh untuk Kami.


"Ferlay Mereka teman-teman Mama. Ayo beri salam"


Kataku setelah Kami semua sedikit fokus. Teh dan Roti membantu menyelamatkan Kami dari hawa dingin yang seolah menusuk tulang.


Ferlay menundukkan kepala memberi hormat dengan gaya khas anak kecil


"Aku akan ke kamar untuk mandi" Kataku berpamitan. "Ferlay ayo ikut Mama" Aku mengandeng tangan Ferlay. Menyerahkan sisanya untuk George dan Nenek. Aku masuk ke dalam kamar dan mandi.


Setelah Makan. Aku menidurkan Ferlay dengan bercerita kesukaannya. Tidak lupa Aku bertanya segala hal menarik yang di lakukan ketika Aku berada di Garduete.

__ADS_1


Lekky belum juga datang. Sementara di luar turun hujan deras. Petir menggelegar. Apa yang terjadi ?. Aku mulai cemas.


Setelah memastikan Ferlay tidur Aku mematikan lampu kamarnya. Berjinggat keluar kamar. Namun betapa terkejutnya Aku saat mendapati Pangeran Riana sudah berdiri diam di depan kamar.


__ADS_2