Rain Poor

Rain Poor
33


__ADS_3

Para wanita yang akan melaksanakan puncak acara perayaan jambaran telah berkumpul di pinggir sungai. Ribuan lilin di nyalakan menghiasi sekitar. Aku memegang nampanku. Mulai mengikuti alur pergerakan para wanita yang mengadahkan nampannya ke atas sambil berdoa. Bulan bersinar cukup terang. Suara gemerincing gelang kaki Kami terdengar memenuhi udara. Pangeran Sera menungguku bersama para suami. Aku berjalan menghampirinya. Berjongkok untuk membasuh kakinya dengan air dalam cawan sebagai simbol baktiku. Setelahnya Aku mengenakan gelang sarvana ke tangan Pangeran. Gelang yang dibuat untuk pasangan, teman, sahabat atau keluarga. Dipercaya sebagai pelindung orang yang Kita sayangi.


Pangeran menemaniku melarungkan mangkuk berisi lilin yang di nyalakan. Serentak sungai di penuhi cahaya lilin yang berpedar seperti bintang di atas langit.


"Yuki...Apa Aku tidak begitu berarti untukmu sehingga tidak mendapatkan gelang sarvana sama sekali ?" Protes Bangsawan Voldermon keras. Aku sedang duduk bersantai bersama Pangeran Sera di taman ketika Dia datang merorongku.


"Tutup mulutmu. Aku belum bertemu denganmu sama sekali hari ini" Kataku membalas protesnya. Aku mengambil gelang sarvana di sakuku. Menarik lengan Bangsawan Voldermon. Alis mataku terangkat ketika melihat banyaknya gelang sarvana di tangannya.


"Kau sudah mendapatkan cukup banyak untuk apa meminta sarvana dariku. Apa Kau ingin memenuhi seluruh lenganmu dengan gelang itu" Sindirku sambil memakaikan gelang sarvana di tangannya. Bangsawan Voldermon nyengir.


"Semakin banyak doa semakin bagus untuk kita" Kilahnya.


Bangsawan Voldermon balas menarik lenganku dan memakaikan gelang sarvana di pergelangan tanganku. Aku sudah memakai lima buah gelang sarvana di tanganku. Pemberian dari Pangeran Sera, Pangeran Arana, Lekky, Lazzar dan Varmount.


"Oh ya nanti malam Aku mengadakan pesta ulang tahun di aula sekolah. Kalian datanglah"


"Bukannya ulang tahunmu masih sepuluh hari lagi ?"


"Dua minggu lagi Sebagian dari Kita akan berangkat untuk melaksanakan perintah pendeta suci. Tidak lucu juga jika Aku mengadakan pesta di saat Kita sedang persiapan mempertaruhkan nyawa. Jadi Aku pikir lebih baik memajukannya lebih awal, Siapa tahu..." Bangsawan Voldermon mengangkat bahunya acuh. Aku tahu apa apa yang ingin di ucapkannya.


Siapa tahu Ini adalah ulang tahun terakhirnya.

__ADS_1


Pendeta suci sudah menegaskan kepada Kami semua. Kemungkinan akan banyak sekali korban dari pihak kita ketika melawan iblis itu. Tapi itu sepadan dengan menyelamatkan dunia dari ancaman kehancuran yang lebih besar. Kami harus siap dengan istilah "Pergi perang, pulang siap tinggal nama".


Pangeran Riana dan Pangeran Sera akan berada di perbatasan utara dan selatan. Rencananya Pangeran Sera akan berangkat lebih dahulu delapan hari lagi. Lekky sudah akan berangkat tiga hari lebih cepat daripada Pangeran Sera.


Aku cukup lega Mereka semua untuk sementara tidak harus terjun langsung dalam medan pertempuran. Memikirkan pertempuran ini membuatku sakit kepala.


"Terimakasih undangannya. Kami akan datang" Ujar Pangeran Sera tulus.


"Baiklah Aku tunggu kalian nanti malam"


Bangsawan Voldermon berjalan dengan langkah ringan sambil bersiul seolah tanpa beban. Dia lebih santai dalam menyikapi masalah. Bukan tipe orang yang bisa diajak serius memikirkan sesuatu.


Hari ini Aku mengenakan gaun terbuat dari sutra halus berwarna merah mawar. Aku sengaja menyanggul rambutku sedemikian rupa. Menyelipkan dua buah bunga mawar sebagai pemanis. Tanpa mengenakan hiasan rambut apapun. Untuk perhiasan Aku hanya mengenakan cincin kawin dan anting Lekky. Serta sebuah gelang dari batu berlian berwarna warni. Yang berpedar tersorot cahaya lampu. Pangeran Sera baru saja menghadiahkan gelang ini dan memintaku memakainya malam ini.


"Aku hampir mengira kalian tidak datang" Ujar Bangsawan Voldermon ketika Kami mendekatinya. Dia sedang berbicara dengan seorang perdana menteri dan pasangannya saat Kami menghampirinya.


"Maaf Kami terlambat. Selamat ulang tahun" Kata Pangeran menjabat tangan Bangsawan Voldermon.


"Ini hadiah untukmu" Kataku menyerahkan bungkusan kecil yang ku bawa. Aku terlambat karena mencarikan hadiah apa yang pantas untuknya.


"Terimakasih" Kata Bangsawan Voldermon senang.

__ADS_1


Terdengar alunan suara musik. Beberapa pasangan tampak mulai berdansa. Aku melihat Pangeran Riana duduk dengan wajah tidak ingin diganggu di sebuah meja. Bersama Putri Marsha dan Namura. Suami Namura berdiri tak jauh dari mereka, Mengobrol dengan beberapa temannya. Walaupun Pangeran duduk bersama yang lain, Namun Aku merasa Pangeran menghindari interaksi apapun dengan Mereka.


Tanpa sengaja Pangeran melihat ke arahku. Kami bertatapan. Aku bisa melihat ada emosi di dalam dirinya. Aku langsung memalingkan muka seolah tidak menyadari tatapannya.


"Bolehkah ?" Tanya Bangsawan Voldermon pada Pangeran Sera. Dia meminta izin untuk mengajakku berdansa. Pangeran Sera menganggukan kepala. Mempersilahkan.


Aku berjalan mengikuti Bangsawan Voldermon. Kami memasuki lantai dansa. Aku mulai berdansa, mengikuti irama lembut dan langkah Bangsawan Voldermon.


"Kau semakin mahir berdansa" Kata Bangsawan Voldermon tenang. "Tampaknya kehidupan pernikahanku baik-baik saja sekarang"


"Ya...Dan Kau....Segeralah menemukan calon pendampingmu. Berhentilah untuk mempermainkan perasaan wanita". Aku menatapnya khawatir.


Bangsawan Voldermon terkekeh. "Aku lebih nyaman dalam statusku yang sekarang" Akunya. "Jika Aku memaksakan diriku menikah, Aku hanya akan membawa seorang wanita dalam sebuah penderitaan yang panjang. Tidak..Aku tidak akan melakukannya"


"Kenapa ?, Apa Kau tidak ingin memiliki keluarga sendiri ?"


"Aku akan menjaga anak-anakmu nanti. jadi jika Mereka sudah besar ajarilah Mereka untuk merawatku ketika Aku tua dan menjengkelkan"


Aku mengernyit mendengar jawabannya.


"Tidak ada wanita yang akan senang jika tahu suaminya tidak mencintainya dan menaruh hati untuk wanita lain Yuki."

__ADS_1


__ADS_2