
Aku berjalan dengan gotai keluar dari ruang rapat. Sudah seminggu semenjak Pangeran Sera dan Lekky pergi. Selama itu komunikasi Kami memang baik. Aku lega Mereka semua baik-baik saja. Namun...
Aku merasakan tekanan yang kuat berada di negeri ini. Semenjak Lekky membunuh Panglima Jafar. Putri Marsha semakin sering menekanku bahkan Dia tidak segan-segan menyebarkan berita buruk mengenaiku. Tampaknya ancaman Lekky hanya membuatnya ciut jika ada Lekky saja. Berkat berita yang di sebarkannya, sebagian orang membenciku tanpa alasan. Jika tahu begini lebih baik Aku mengikuti Pangeran Sera waktu itu.
Aku memegang perutku. Pangeran terpaksa membawa semua orang-orangnya yang penting ikut karena pertempuran ini. Aku tidak menyalahkannya untuk itu. Di sini Aku hanya di temanin tiga orang penjaga dan dua pelayan utusan Pangeran Sera. Perutku terasa lapar. Nenek sudah lebih dulu di kirim Lekky ke kediamannya. Setelah kepergian Mereka, Aku memutuskan untuk menginap di sekolah daripada harus di istana Ayah. Pertimbangan tempat ayah pernah terjadi pembantaian besar-besaran menjadikanku alasan utama tidak mau tinggal sendiri di sana.
Lebih baik Aku segera kembali ke sekolah sebelum jam makan siang di mulai. Dengan begitu Aku bisa menemukan tempat yang agak tersembunyi di ruang makan untuk menikmati makananku.
Seseorang menarik rambutku. Aku berbalik. Bangsawan Voldermon melepaskan rambutku sambil tertawa. "Kenapa Kau terburu-buru kucing kecil, Aku memanggilmu dari tadi tapi sepertinya Kau tidak mendengar"
"Maaf, Aku sedang memikirkan sesuatu" Akuku pelan. Pangeran Riana sedang berada di pinggir ibu kota untuk mengecek persiapan senjata bersama Bangsawan Xasfir. Cukup lega karena Aku tidak harus bertemu dengannya.
Selama Pangeran Sera pergi dan Lekky tidak ada. Aku memang sengaja menghindarinya. Aku tidak ingin ada masalah baru yang terjadi mendekati pertempuran yang akan Kami hadapi. Sudah cukup masalah yang Aku buat. Aku tidak ingin menambahnya lagi.
"Otakmu tidak akan sampai jika memikirkan masalah pertempuran ini. Sudahlah Kau kan sedang hamil. Lebih baik Kau fokuskan saja untuk menjaga kandunganmu"
"Kau ini ingin menyindir atau menghiburku" Kataku sinis.
Bangsawan Voldemon mengaruk tengkukku. "Semenjak hamil Kau ini jadi sensitif sekali. Apa mungkin Karena Kau masih merindukan bersama suamimu. Yang benar saja Yuki, Berapa malam Kau bersamanya. Apa Kau masih belum puas ?" Celoteh Bangsawan Voldermon keras membuat beberapa orang menoleh padaku.
"Bangsawan Voldermon" Panggilku lirih.
"Apa ?"
__ADS_1
"Apa Kau pernah mendengar istilah Tutup Bacotmu"
Mendengar kata-kataku Bangsawan Voldermon tergelak. Aku berjalan meninggalkannya. Tapi Dia terus mengikutiku. Aku tahu akan tidak mudah untuk menyingkirkannya pergi.
"Aku antar ke rumahmu ?" Tawar Bangsawan Voldermon di sampingku. Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku tidak pulang ke rumah. Sekarang Aku tinggal di Sekolah"
"Apa ada masalah ?"
"Tidak. Tapi Lekky pergi. Aku tidak mau tinggal di sana sendirian"
"Kemana Dia. Ngomong-ngomong Aku juga tidak melihat keluarga Darmount akhir-akhir ini"
Aku mendesah. Lalu menceritakan pembicaraanku dengan Lekky yang membuatnya pergi lebih awal bersama keluarganya dan situasi terkini. Bangsawan Voldermon mendengarkan dengan serius.
"Tidak usah. Aku terlalu banyak merepotkanmu" Kataku buru-buru.
"Apa Kau tidak tahu banyak yang ingin membunuhmu. Kau seharusnya memikirkannya dengan baik"
"Aku baik-baik saja. Lagipula Aku tidak ingin menambah masalah apapun untukmu" Kataku akhirnya.
"Aku tidak mau dengar itu. Sudahlah Ayo kita ke rumahku. Aku sudah lapar." Bangsawan Voldermon menarik tanganku. Aku menyentakkan tanganku sehingga terlepas. Tapi Aku terdorong jatuh menabrak orang di belakangku. Ternyata itu adalah Pendeta Serfa yang sedang berjalan bersama Putri Marsha dan Bangsawan Asry.
__ADS_1
Kotak kayu yang di bawa Pendeta Serfa terjatuh di lantai dan isinya berhamburan.
"Apa kalian tidak bisa bercanda di tempat lain ?. Bagaimana bisa seorang istri yang suaminya sedang bertempur di medan perang malah bermesraan dengan orang lain dengan begitu tenangnya" Sindir Putri Marsha keras.
"Jaga mulutmu Marsha" Kata Bangsawan Voldermon tidak suka.
Aku berlutut untuk membantu Pendeta Serfa memunguti barang-barang Pendeta Serfa yang tercecer. "Maafkan Aku Pendeta Serfa" Kataku menyesal.
Namun gerakanku terhenti saat Aku menyadari ada sesuatu yang salah. Perlahan Aku mengangkat tanganku. Di genggamanku ada batu amara. Batu itu berpendar ringan berwarna biru es seperti mata Pangeran Riana.
Aku langsung melempar batu itu ke tanah. Semua memandang batu itu lalu mengarah kepadaku. Pendeta Serfa berdiri. Menatapku dalam. Terlihat jelas Dia berusaha menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Dia seperti berada dalam pikirannya sendiri.
"Ada apa ini ?" Kata Putri Marsha memecah kesunyian yang terjadi. "Kenapa batu itu bisa bersinar di tanganmu. Bukannya seharusnya Itu tidak bisa lagi Kau lakukan. Apa maksudnya ini ?. Apa yang telah Kau lakukan ?" Tuntut Putri Marsha keras.
Aku berdiri dan melempar batu itu. Menjatuhkannya dari tanganku. Menatap Batu itu tidak percaya. Bagaimana Batu Amara bisa kembali bersinar di tanganku ?. Aku sudah memohon kepada dewa waktu. Saat itu..Batu Amara sudah tidak lagi bersinar di tanganku. Tapi kenapa sekarang batu itu kembali bersinar ?. Berbagai pertanyaan berputar di kepalaku. Aku sama sekali tidak mengerti.
"Jelaskan padaku..Apa yang Kau lakukan pada batu itu...Apa yang Kau lakukan ?!!" Teriak Putri Marsha sembari memukuliku dengan tangannya. Bangsawan Asry dan Bangsawan Voldermon langsung memisahkan Kami.
"Aku tidak tahu" Jawabku tegas.
"Kau bohong. Kau pasti memakai cara licik kan ?"
"Aku benar-benar tidak tahu" Kataku lagi setengah berteriak. Keributan ini terdengar menarik perhatian sekitar.
__ADS_1
"Serfa ?" Tanya Bangsawan Voldermon langsung.
Pendeta Serfa tersentak seolah terbangun dari lamunannya. "Batu Amara akan kembali bersinar di tangan Putri Yuki jika Putri Yuki mengandung anak yang akan menjadi calon perwaris tahtah selanjutnya sebelum Pangeran Riana memiliki keturunan dari wanita lain"