Rain Poor

Rain Poor
6


__ADS_3

Aku berjalan dengan langkah gotai menyusuri lorong istana. Perasaanku kebas.


Hanya tiga orang yang dapat menarik segel suci dan siapapun yang menariknya kemungkinan besar tidak akan selamat.


Aku merasa bersyukur bahwa pendeta suci memberitahuku terlebih dahulu. Aku punya pilihan dan waktu untuk mempersiapkan kematianku tanpa harus mengorbankan orang lain.


Penyerahan diri atas segala kesalahanku di masa lalu.


Aku harus mempersiapkan dengan matang. Memikirkan soal Lekky, soal Ferlay. Bagaimana mereka jika Aku tidak ada nantinya. Aku harus memikirkan semuanya.


Ketika Aku berjalan merenungi permasalahan ini, Aku tertegun. Di depanku Pangeran Riana berjalan ke arahku seorang diri. Aku menahan keinginan untuk melarikan diri. Aku sedang menyamar sekarang. Tidak mungkin Dia akan mengenaliku. Jangan bodoh Yuki. Tidak ada yang harus Kau takutkan. Aku menunduk. Memegang Kain di wajahku memastikan Aku tidak lupa memakainya. Kami bersimpangan jalan.


Pangeran terus berjalan melewatiku. Dia bersikap seolah Aku tidak ada.


Seperti Takdir, Kami bertemu, saling menatap, berada dalam jarak yang begitu dekat, namun jalan yang Kami lalui ternyata berbeda.


Aku memandang punggung Pangeran Riana. Setidaknya, Aku bisa menyelamatkan dua orang itu dari kewajiban untuk mengorbankan diri. Aku bersyukur sudah datang dan mengetahui kebenarannya.

__ADS_1


Lekky tampak tidak senang dengan isi pembicaraanku dengan Pendeta suci dan apa keputusanku mengenainya. Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan masalah ini ,tapi Dia memiliki kemampuan untuk membaca pikiran lawannya. Tidak ada yang bisa kusembunyikan dari Lekky.


Di sekolah, telah diubah sebagai tempat menginap dan berkumpul para orang yang dipilih pendeta suci untuk menyelamatkan dunia. Banyak orang dari berbagai tempat berkumpul dengan beragam karakter. Pantas Bangsawan Xasfir sangat waspada dan siaga dengan keadaan sekitar.


Beberapa kali tanpa sengaja Aku melihat Pangeran Sera dari jauh. Tidak seperti Pangeran Riana yang melanjutkan hidup, Pangeran Sera memilih bertahan untuk menungguku. Sampai sekarang Dia tetap sendiri. Di jarinya, Dia masih mengenakan cincin kawinnya. Tampaknya berita menghilangnya Aku lima tahun lalu disembunyikan rapat olehnya. Dia tidak terlalu mengubris saat semua orang mendesaknya agar Aku segera datang ke Garduete. Semua orang mengira Aku masih bersamanya.


Aku berdiri di makam Bangsawan Dalto. Makan ini sudah hancur di beberapa tempat. Jelas tidak terawat. Aku meletakkan seikat besar bunga mawar segar. Berdiri termagu menatapnya. Tulisan di nisannya masih dapat terbaca.


Berbahagialah..


Bangsawan Dalto Aku datang...


Aku sudah menikah sekarang, meskipun Kami memiliki kisah yang pahit. Tapi Ada kebahagiaan juga di dalamnya. Bukankah hidup memang seperti itu.


Sekarang Aku harus berjuang untuk menyelamatkan dunia. Menyelamatkan orang-orang yang ku cintai.


Apa di sana Kau bahagia ? Apa Kau baik-baik saja.

__ADS_1


Aku mengingat semua kenangan bersamanya. Rasanya baru kemarin Kami bertemu dan bermain bersama. Waktu itu Aku berusia lima belas tahun. Belum mengerti benar bahwa Dunia ini tidak seindah yang Aku bayangkan. Dari pengalaman Aku mulai mengerti betapa kejamnya hidup. Aku pernah dipermainkan takdir, Kehilangan orang yang kucintai, kehilangan keluarga, kehilangan anak...Aku tidak tahu kemana Aku harus melangkah. Saat itu Aku hampir menyerah karena tidak menemukan tempat dimana Aku berpijak.


Setelah cukup lama Aku berdiri di sana, Aku pun berjalan pergi. Hari ini rencana Aku akan ke pemakaman kerajaan untuk menemui Ayah.


Pemakaman kerajaan lebih tertata dan terawat. Hari sudah sore saat Aku datang, sudah tidak terlihat lagi orang disini. Aku berjalan sembari membawa buket bunga. Meletakan di nisan ayah.


Sudah ada dua buah buket bunga yang mulai layu di sana, Aku tidak tahu siapa yang meletakkannya. Apakah Lekky datang ke sini sebelum Aku ?.


Aku tidak tahu harus mengatakan apa di depan Ayah. Apakah Dia tau sekarang Aku sudah bertemu Lekky ?. Aku sudah menikah. Banyak hal yang ingin kuceritakan pada Ayah. Tapi Aku justru tidak tahu harus mulai darimana. Aku tidak terbiasa mengungkapkan perasaanku didepan Ayah. Akhirnya, Aku hanya diam, mematung di depan nisan Ayah.


Hari semakin sore. Aku memutuskan untuk segera kembali. Sebentar lagi makan malam. Lekky memintaku memasak sendiri. Dia tidak begitu cocok makanan yang disediakan.


Aku melangkah dengan cepat menuju gerbang. Terdengar suara orang bercakap-cakap didepanku. Aku sangat kenal suara itu. Itu suara Bangsawan Xasfir. Bagaimana Dia bisa ada di sini. Bisa gawat jika Dia melihatku disini. Dia pasti akan bertanya dan curiga. Aku bergegas berbelok di ujung jalan. Bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Bangsawan Xasfir membawa buket bunga besar ditangannya. Dia berjalan bersama Bangsawan Asry. Aku merasa lega ketika Mereka melewatiku tanpa menyadari kehadiranku. Aku memperhatikan Mereka dari balik pohon, ketika Mereka sudah cukup jauh, Aku keluar ke jalan.


Aku terpekik lirih, Aku sibuk memperhatikan Bangsawan Asry dan Bangsawan Xasfir hingga tidak memperhatikan sekeliling. Saat Aku keluar, Pangeran Riana berada di dekatku. Apakah Dia melihatku bersembunyi dari teman-temannya. Aku menundukkan kepala salah tingkah. Tidak berani melihat matanya.


Bagaimana jika Dia bertanya macam-macam padaku. Apakah suaraku masih dikenalinya ?. Aku berdiri dengan panik sementara Pangeran Riana berdiri diam di tempatnya. Setelah sesaat dalam keheningan Pangeran melangkah melewatiku dengan sikap acuh. Aku langsung berbalik ketika Dia sudah cukup jauh dariku. Aku berjalan cepat, Pergi seperti seorang buronan, meninggalkan pemakaman sebelum ada lagi kejadian yang bisa membuat jantungku berhenti.

__ADS_1


__ADS_2