Rain Poor

Rain Poor
22


__ADS_3

Mata Kami bertemu. Aku tidak percaya apa yang kulihat. Aku memperhatikan lagi sekitarku. Ruangan ini mempunyai tempat tidur, sebuah meja dengan sofa panjang dan juga ada lemari di sisi yg lain. Tampak sederhana. Apa ini dijadikan Pangeran Riana kamar istirahatnya ketika Dia bekerja di area sekolah.


Langkah kaki di luar semakin dekat. Aku menjadi panik. Jika ada yang menemukan Kami dalam kondisi begini, Orang itu akan salah paham.


Gagang pintu berputar. Aku membeku di balik pintu. Saat pintu sedikit terbuka, Pangeran Riana maju dan langsung kembali menutup pintu.


Aku mengkeret, menempel di daun pintu. Pangeran berada di depanku tepat. Jarak Kami hanya seperkian inci. Aku bisa melihat lekuk ototnya dengan jelas. Satu tangannya berada di sampingku. Menahan pintu agar tidak terbuka.


"Riana ?" Terdengar suara Bangsawan Xasfir dari balik pintu.


"Ada apa ?" Tanya Pangeran Riana tenang.


"Kami akan pergi untuk makan siang. Apa Kau ingin ikut"


"Kalian pergilah, Aku masih punya urusan"


"Apa ada masalah ?"


"Ya, Ada sedikit masalah yang baru datang" Aku merasa Pangeran berbisik ke telingaku ketika mengatakannya. Aku memalingkan wajahku. Tidak ingin melihatnya. "Aku bisa mengatasinya. Kalian pergilah"


"Baiklah kalau begitu"


"Dan Xasfir.."


"Ya.."


"Jangan katakan pada siapapun Aku berada di sini. Aku sedang tidak ingin di ganggu"


"Baiklah, Aku mengerti. Aku pergi dulu"

__ADS_1


Terdengar langkah kaki menjauh. Kemudian Pintu di tutup. Tidak ada lagi suara di luar. Bangsawan Xasfir sudah pergi. Aku menggeser tubuhku, menjauhi Pangeran Riana.


"Terimakasih bantuannya Pangeran, Aku akan segera pergi dari sini" Aku memutar badanku. Memutar gagang kunci. Namun...


Aku mengernyit.


Pintu tidak dapat terbuka. Dia terkunci.


Tidak mungkin karena baru beberapa saat yang lalu Bangsawan Xasfir bisa membukanya. Aku mencoba lagi dengan memberikan sedikit tarikan. Tapi tetap saja, Pintu tidak dapat terbuka.


Terdengar suara gemerincing besi. Aku berbalik. Pangeran Riana menunjukan kunci di tangannya. Kapan Dia mengunci pintu ini. Apa maksudnya.


"Maaf Pangeran, boleh Saya meminta kunci itu" Kataku mengulurkan tangan untuk mengambilnya.


Namun Pangeran malah melempar Kuncinya jauh ke belakang. Kunci itu jatuh di dekat sofa. Aku menatapnya kebingungan. Tanpa di duga Dia langsung mendorongku ke pintu hingga punggungku menghantam pintu dengan keras. Aku berusaha melepaskan diri, Pangeran berhasil mencekal kedua tanganku. Menahannya dengan keras di pintu. Mata Kami bertatapan dalam jarak yang cukup dekat. Aku dapat mencium aroma nafasnya. Di kepalaku sirine tanda bahaya meraung nyaring.


"Lepaskan Aku" Pintaku tegas. Aku terus berusaha melawan. Tapi tubuhku terkunci.


Aku menatapnya terkejut. Tidak percaya dengan apa yang Aku dengar. Namun, Aku melihat keseriusan dalam kata-katanya. Dia sedang tidak bermain-main. Aku menelan ludah.


Pangeran menatapku. Dia tersenyum sinis. "Kau sendiri yang memberi penawaran padaku. Sekarang kenapa Kau malah binggung"


Pangeran melepaskan satu tanganku. Mengelus wajahku dengan ujung jarinya. "Sudah berapa banyak lelaki yang Kau tipu ?Dengan wajah ini berapa banyak orang yang telah Kau permainkan"


"Aku tidak ingin bermain denganmu. Lepaskan Aku" Kataku gusar. Aku mencoba mendorong Pangeran Riana, Tapi bukannya menjauh, Dia semakin mendekatiku. Kakinya mengapit kakiku dengan kuat.


"Apa Kau khawatir Aku tidak bisa setangguh kekasih barumu itu ?" Pangeran ternyata masih mengira Lekky adalah kekasihku.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Kau katakan Pangeran. Lepaskan Aku. Biarkan Aku pergi"

__ADS_1


"Tidak mengerti. Kalau begitu Aku akan tunjukan supaya Kau mengerti"


Pangeran menarik tanganku. Memaksaku mengikutinya. Pakaian di tanganku terhambur begitu saja di lantai. Pangeran Melemparkanku dengan kasar ke atas tempat tidur. Aku tersungkur di atas tempat tidur dengan keras.


Aku baru saja akan bangun, Ketika Pangeran sudah membalikan badanku secara kasar. Dia menaiki tubuhku sedemikian rupa. Mengunciku agar Aku tidak bergerak.


"Kau tidak boleh melakukannya, Tidak" Dari sorot matanya Aku dapat melihat jelas apa yang diinginkannya. Aku tidak bisa melakukannya. Hubungan Kami telah lama berakhir. Aku sudah menikah. Dia sendiri sebentar lagi akan menikah. Ini tidak boleh terjadi..


Aku menggelengkan kepalaku saat melihat tekad yang kuat dari Pangeran Riana. Dia mendekatiku. Bibirnya menciumku. Ciumannya seperti yang kuingat, Kasar dan penuh tuntutan. Aku mencoba mendorongnya namun gagal.


"Tidak...Hentikan...Mmm" Pangeran terus menciumku. Menolak melepaskanku. Satu tangannya sudah menyentuh bajuku. Terdengar robekan keras dari kain yang ditarik paksa. "Pangeran Riana.."


Aku memutar badanku agar tengkurap. Menghalangi pergerakan tangannya di tubuhku. Pangeran berdiri, Menarik pakaianku kasar hingga terlepas dari badanku. Aku berhasil mendorongnya dan bangun dari tempat tidur di sisi lain. Dekat cendela. Pangeran kembali menghampiriku dengan cepat. Menerkamku sehingga Aku terjatuh diatas meja. Buku-buku yang diletakan di sana berjatuhan di lantai.


"Tiiidakkkk !!"


"Yukiii..."


Aku menutup mulutku. Terdengar teriakan Pangeran Sera memanggilku. Ketika berbalik Aku melihatnya berlari ke taman. Badannya basah kuyup terkena hujan.


"Yuuukiii !!!"


Pangeran Riana kembali mendorongku hingga membungkuk di atas meja. Dia menahanku di bawahnya.


"Berteriaklah, Berteriaklah yang kencang Yuki, Bagus bukan jika Suamimu sampai mengetahui apa yang kita lakukan ini"


Aku menggelengkan kepala. Pangeran Riana menggigit telingaku. Aku meringis saat Dia mulai memasukiku dengan kasar.


"Sakkiit" Aku berusaha melepaskan diri. Tapi Pangeran mencengkramku seperti elang yang mendapatkan mangsanya.

__ADS_1


Hujan turun semakin deras. Pangeran Arana berlari mengejar Pangeran Sera. Memintanya untuk kembali ke dalam. Aku menggapai tanganku menyentuh kaca cendela. Seolah bisa menggapai Pangeran Sera dengan mudah. Sementara itu Pangeran Riana di belakangku menikmati apa yang Dia lakukan pada tubuhku.


__ADS_2