
"Ada apa ?" Kataku saat melihat Pangeran Riana hanya diam mematung menatapku.
"Aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah seperti itu rasanya tidur ditemani seorang Ibu"
Aku tersadar saat mendengar pertanyaannya. Pangeran ternyata memperhatikanku dengan Ferlay sembari tadi. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Dia hidup dan di besarkan oleh para pelayan kerajaan. Di dalam hidupnya Dia harus sangat berhati-hati. Seperti berjalan di lapisan es yang tipis. Sekali salah melangkah akan membahayakan hidupnya. Entah berapa banyak orang yang telah mengkhianatinya. Berapa banyak orang yang mencoba memanfaatkannya. Pertemanan dengan para Bangsawan yang begitu kuat ini bukan Dia dapat dari satu atau dua tahun mengenal. Pasti butuh proses yang sangat panjang yang meyakinkan Dia untuk mempercayai Mereka.
"Ferlay adalah anak dari pernikahan Lekky dengan istrinya Camila. Kau pasti sudah mendengar kisah Mereka. Ferlay masih sangat kecil saat Aku bertemu dengannya. Masih berusia Tiga tahun. Saat pertama kali melihatnya Aku bersumpah Dia akan mendapat kasih sayang seorang Ibu." Kataku lirih supaya tidak membangunkan Ferlay di dalam kamar.
"Kenapa ?"
"Aku pernah hidup tanpa Ayah. Pangeran juga tau bagaimana hidup tanpa Ibu. Aku tidak ingin Ferlay merasakan perasaan seperti itu. Dia anak yang sangat luar biasa. Begitu pengertian dan tabah"
"Lalu...Bagaimana dengan anak kita nanti ?"
Aku mendongak menatap Pangeran yang juga memandangku dengan serius.
"Apakah Kau membiarkan Dia hidup dengan orang tua lengkap atau tidak ?"
Aku berpaling. Menghindari tatapannya yang seolah mampu menembus jauh ke dalam hatiku yang terdalam. "Sudah malam. Selamat malam" Kataku.
Aku berjalan pergi tanpa menunggu balasan Pangeran Riana. Berjalan cepat menghindarinya.
Pangeran masih berdiri di tempatnya. Memandang Ferlay dari pintu yang sengaja kubuka sedikit.
Pertanyaan yang begitu sulit untuk kujawab. Di dalam lubuk hatiku, Aku tidak ingin anak ini menjadi korban karena keegoisanku. Tapi Aku juga tidak bisa tidak memikirkan Pangeran Sera. Pangeran Riana membuat pilihan yang begitu sulit untukku.
__ADS_1
Aku berjalan meninggalkannya dengan cepat. Memasuki kamar. Dengan cepat Aku lantas mengunci kamar.
Bulan di luar bersinar cukup terang. Bulat sempurna. Cahayanya menerangi malam yang begitu gelap. Tetes air sisa hujan masih terlihat di dedaunan. Aku berdiri, menatap keluar dengan pikiran hampa. Apa yang harus kulakukan. Kehamilan ini. Apakah Kami bisa menahan Iblis itu sampai anak ini lahir sehingga Aku bisa mengorbankan diriku. Aku tidak ingin membawanya mati bersamaku. Jalannya masih panjang. Aku tidak berencana membawanya saat Aku harus menjalankan misi bunuh diriku.
Malaikat kecilku.
Aku mengelus perutku yang masih datar. Kehamilanku menginjak minggu ke tujuh. "Apa yang harus kulakukan nak.." Bisikku lirih. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Aku terbangun. Merasakan lapar. Di luar hari masih gelap. Terdengar suara rintik hujan di luar. Aku bangun. Sedikit menggigil. Udara di sini sangat dingin. Dengan perasaan malas Aku memakai mantel dan sandalku kemudian berjalan keluar. Lampu temaram di nyalakan di ruang tengah. Aku melihat Bangsawan Voldermon tidur di sofa panjang. Ada banyak kamar di rumah ini. Kenapa Dia tidur di sana. Apakah George tidak menyediakan kamar bagi mereka ?. Pangeran Riana juga terlihat di seberang. Duduk di sofa dekat cendela, Matanya terpejam. Dia tidur. Aku melangkahkan kakiku sehati-hati mungkin. Tidak ingin membangunkan keduanya.
Aku sampai dapur dan mendapati ada beberapa potong roti isi di atas meja. Sepertinya George yang menyiapkannya. Tampaknya Dia tahu Aku hamil dan sudah menduga jika Aku akan bangun di malam hari karena lapar. Aku menjerang air dipanci. Membuat teh untuk mengurangi hawa dingin yang seolah menusuk tulang.
"Apa yang sedang Kau lakukan disini ?" Bangsawan Voldermon datang sembari menguap lebar. Matanya masih setengah mengantuk. Dia berjalan menuju meja makan dan membuka tudung makan.
"Aku akan membuat teh, Apa Kau mau ?" Tawarku sembari mengambil cangkir.
Aku meletakkan secangkir teh di depan Bangsawan Voldermon. Menarik kursi duduk di dekatnya.
"Kenapa Kau tidak tidur di kamar, Ruangan itu sangat dingin. Apa kamar kurang nyaman bagimu ?" Tanyaku membuka obrolan.
"Kami bergantian berjaga"
"Berjaga untuk apa ?"
"Mencegahmu kabur dan menghilang" Jawab Bangsawan Voldermon jujur. Dia mengaduk tehnya dan mulai meminumnya.
__ADS_1
"Tampaknya Kau sekarang lebih berpihak pada Riana" Sindirku.
"Tugasku adalah melindungi Pangeran perwaris tahtah. Termasuk anakmu sekarang."
Aku mengambil roti isi di piring. Menatapnya terpekur. "Aku tidak menginginkan hal seperti ini ketika Aku datang kembali. Bukan ini tujuanku datang di hadapan kalian"
"Tapi inilah yang di harapkan Riana"
"Apa maksudmu ?"
"Katakan padaku terlebih dahulu Yuki. Aku sudah tidak ingin ada rahasia lagi."
"Apa ?"
"Kapan Kau dan Riana..?" Bangsawan Voldermon mengetukan dua jari telunjuknya di depanku.
"Pertanyaan apa itu" Protesku kesal.
"Jawab saja"
Alis Bangsawan Voldermon bertaut di tengah dahinya.
"Ketika Lekky pergi mencari segel suci. Kau pasti ingat ketika Aku tiba-tiba muncul di sekolah. Saat itu Aku baru saja kabur dari kamarnya" Aku ku akhirnya. Bangsawan Voldermon mendesah.
"Aku sudah mengawasi Dia semenjak Kau datang untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Dia bersikap tidak peduli, Membuat Kami lengah. Dia mengecoh Kami dengan segala persiapan pernikahan. Tapi di luar dugaan, Dia sudah memikirkan semuanya dengan matang"
__ADS_1
"Apa maksudmu ?" Tanyanku balik dengan pandangan tidak mengerti.
"Kehamilanmu ini, Aku menduga adalah bagian dari rencana Riana