
Semua orang menatap Kami dengan penasaran. Tidak ada penjaga yang menemani pertanda Pangeran mempercayai Lekky. Pangeran Sera membungkuk dengan hormat ke arah Lazzar. Kami duduk melingkar. Tanpa di duga Pangeran Sera berani meminta secara langsung kepada Lekky sebagai seorang lelaki yang menginginkan menjaga adik perempuannya. Wajahku memerah saat mendengar ucapannya. Lekky tidak menjawab, Dia hanya mengangkat bahunya.
"Tidak usah Kalian pedulikan Dia. Ayo kita makan bersama" Ujar Lazzar senang. "Oh ya Kalian segeralah mempunyai keturunan" Ujar Lazzar semakin membuatku salah tingkah.
Hari ini Rapat besar akan di adakan. Aku berdandan kembali sebagai seorang Putri. Memasuki istana Raja berdampingan dengan Pangeran Sera. Putri Marsha menatapku tidak senang. Terpancar jelas dari matanya. Aku duduk diampit oleh Lekky dan Pangeran Sera. Pangeran Riana berada di sisi yang lain.
"Semua orang yang Aku butuhkan sudah lengkap. Sekarang Rapat Besar akan segera di mulai" Kata pendeta suci mengetuk tongkatnya.
Aku melihat dengan jelas dampak yang diakibatkan oleh iblis itu. Puluhan ribu nyawa melayang. Aku merasa bersalah.
Sedangkan apapun yang Kami lakukan untuk mencegah iblis itu, Pasti akan menimbulkan korban baru. Aku memandang wajah-wajah setiap orang di sini. Siapa kali ini yang akan di korbankan lagi ?
Perasaanku menjadi kebas.
"Apa yang Kau pikirkan ?" Aku berpaling dan mendapati Pangeran Sera terbangun dari tidurnya. Pangeran merengkuhku dalam pelukan. Kulit Kami saling bersentuhan tanpa ada apapun yang menghalangi.
Di luar sesekali terdengar suara orang berjalan atau bercakap. Hari sudah larut malam. Tapi Aku tidak bisa tidur sama sekali.
"Aku memikirkan soal iblis itu" Akuku lirih. "Karena Aku...Begitu banyak nyawa melayang. Aku menanggung dosa yang tidak termaafkan"
"Setiap manusia mempunyai dosa. Tidak mungkin tidak ada yang berdosa. Hanya bagaimana caranya Kita memperbaiki kesalahannya"
"Tapi.."
__ADS_1
Pangeran mengecup bahuku lembut.
"Jangan memikirkan apapun Yuki"
Aku diam. Pikiranku masih di penuhi bagaimana nyawa manusia seolah tidak berarti di hadapan Iblis itu. Bagaimana ada orang sekejam itu. Bukankah dulu Dia juga manusia. Dia menggunakan kekuatan iblis dan bermetamorfosis menjadi iblis yang sesungguhnya berkat darahku. Apa Dia tidak mempunyai hati nurani yang tersisa.
Melihatku diam. Pangeran beringsut di atasku. Dia berhasil membuatku fokus padanya. Pangeran menciumi leherku.
"Apa yang Pangeran lakukan ?" Kataku merasa malu. Aku masih canggung dengan kebersamaan yang seperti ini dengannya. Pangeran Selalu memperlakukanku dengan lembut. Seringnya Aku menjadi tidak sadarkan diri bersamanya.
"Mencoba mengisi pikiranmu dengan ku" Jawab Pangeran masih menciumiku. Pangeran Sera mencium bibirku sejenak. Dia seperti tidak mempunyai lelah untuk terus menyentuhku.
"Pangeran...Bisakah Kau berjanji padaku satu hal ?"
Pangeran berhenti. Menatapku menunggu.
Pangeran Sera tersenyum. Dia mengecup dahiku lembut.
"Apapun yang terjadi Aku akan kembali padamu" Bisiknya.
Aku menatapnya lega akan jawaban Pangeran Sera. Kemudian Aku memeluk Pangeran. Mendekapnya dalam pelukanku.
Setelah selesai mencuci baju Lekky dan membersihkan kamarnya. Aku di bantu Curly untuk menjemur pakaian. Meskipun Aku telah kembali sebagai Putri Yuki, Tapi Pangeran Sera memperbolehkanku untuk melakukan hal yang biasa kulakukan. Dia cukup mengerti kenapa Aku begitu peduli pada Lekky. Aku sudah menceritakan padanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi semenjak istrinya meninggal. Lekky memakai sebelah anting yang terbuat dari batu neraka. Di dalam batu itu ditanam jiwa dari istri Lekky. Aku memakai sebelah antingnya yang lain di telingaku. Sebagai jaminan agar Lekky terus tetap hidup dan selamat di manapun Dia berada.
__ADS_1
Lekky tidak pernah mengizinkan orang untuk masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan barang pribadinya. Karenanya jika Aku tidak melakukannya, Entah apa jadinya kamar itu sekarang. Setelah selesai menjemur pakaian, Aku mengambil keranjang cucian dan berjalan untuk kembali ke kamar Pangeran Sera.
Pangeran Sera sedang rapat. Dia tidak ada di sekolah. Lekky juga sudah menghilang dari pagi. Sementara itu keluarga Darmount yang lain sibuk melakukan tugas Mereka mempersiapkan pertempuran. Bangsawan Voldermon menghubungiku untuk mengajakku makan siang. Tapi Aku terpaksa menolak.
Aku sedang tidak enak badan. Mungkin karena cuaca yang sedang tidak menentu di tambah beban pikiran yang harus ku tanggung. Kesehatanku jadi sedikit terganggu. Aku ingin kembali ke kamar dan beristirahat saja sembari menunggu Mereka kembali.
Dalam perjalanan kembali, Aku melewati taman belakang yang sedikit sunyi. Ada kolam ikan besar berbentuk lingkaran dengan pancuran besar di tengahnya. Aku tertegun saat menyadari ada seorang Nenek yang sudah sangat tua umurnya membungkuk di tengah kolam, Satu tangannya yang keriput memegang tongkat yang menyangga tubuhnya dan satu lagi menyusuri dalam kolam seperti mencari sesuatu.
Aku melihat ada kesedihan di wajah nenek itu.
Udara sedang tidak enak hari ini. Air kolam juga pasti sangat dingin. Apa yang di lakukan nenek itu di sana ?.
Curly ?
Tanyaku dalam hati pada Curly yang menghilangkan sosoknya. Terbang di bahuku.
"Nenek itu mencari cincin kawinnya yang di lempar anaknya ke sana ?"
"Apa ?, Kenapa ?" Tanyaku terkejut.
"Anak gadis nenek itu akan menikah dengan salah satu Panglima kerajaan Garduete. Nenek itu datang jauh-jauh dari pinggiran kota untuk memberikan cincinnya sebagai mas kawin sesuai tradisi negeri ini, tampaknya itulah satu-satunya harta berharga yang di punya nenek itu Tapi Karena malu dan tidak ingin ada orang yang tau kehidupannya sebelumnya, Putrinya membuang pemberian nenek itu dan mengusirnya pergi"
"Apa...Tega sekali"
__ADS_1
"Sebenarnya juga anak nenek itu bukanlah anak kandungnya. Nenek itu tidak mempunyai keturunan. Dia menemukan seorang bayi perempuan di tengah hutan dan akhirnya merawatnya seperti anaknya sendiri"
Aku tertegun saat mendengarnya. Bagaimana bisa ada seorang anak yang begitu tega pada ibunya.