
"Anak Riana ?" Bangsawan Voldermon tampak sangat terkejut. Dia lantas melihatku dan Pendeta Serfa bergantian. "Kapan Kalian ..?" Jelas kebingungan terlihat di wajahnya.
"Tidak mungkin" Kataku menolak. "Ini tidak mungkin"
"Saya berani di hukum jika saya berbohong. Batu Amara tidak mungkin bersinar jika Putri tidak sedang mengandung anak Pangeran Riana yang jelas..Dia akan menjadi calon perwaris tahtah selanjutnya" Kata Pendeta Serfa tegas. "Anak itu bukan anak Pangeran Sera..Tapi Anak dari Pangeran Kami..Pangeran Riana"
"Tidak !!" Aku menggelengkan kepalaku. Refleks memegangi perutku. Bagaimana bisa anak ini adalah Anak Pangeran Riana. Dosa apa yang telah kulakukan di masa lalu. Kenapa takdir mempermainkanku seperti ini. Tidak seharusnya begini. Ini tidak mungkin. "Tidak mungkin...Aku tidak percaya"
"Kau..Kau pasti merayunya...dasar Jalang...Kau merayu tunanganku..Padahal Kau sudah punya suami..Tapi Kau masih saja gatal pada tunanganku" Putri Marsha histeris. Dia berhasil melepaskan diri dari cekalan Bangsawan Asry. Aku menutupi perutku dengan tanganku saat Putri Marsha menghujamkan pukulan padaku. Rambutku terasa perih ketika Dia menjambaknya kasar.
"Hentikan Marsha...Cukup..." Teriak Bangsawan Voldermon nyaring.
Bangsawan Asry berhasil memeluk Putri Marsha dari belakang. Menahan tangannya yang akan menyerangku kembali. Bangsawan Voldermon melepaskan genggaman Putri Marsha pada rambutku. Dia berdiri di depanku dengan sikap melindungi.
"Kenapa ?" Tantang Putri Marsha pada Bangsawan Voldermon sembari mengangkat dagunya. "Kau selalu membelanya padahal jelas Dia ini wanita jalang..Jalang !!"
"Berhenti membuat keributan" Ujar Bangsawan Voldermon lagi lebih keras.
"Apa yang Dia berikan wanita jalang ini sehingga Kau membelanya mati-matian. Apakah Karena Dia telah menyelamatkan negeri ini sehingga Kau begitu memujanya ?"
"Putri Marsha hentikan" Kataku terkejut. Aku tidak menyangka Dia akan membahas masalah lima tahun lalu. Dia terlalu histeris sehingga tidak lagi menggunakan akal sehatnya.
"Kenapa...Aku benar kan..Memang kenapa Kalau Kau menikahi Sera demi menyelamatkan nyawa Riana yang hampir di bunuhnya waktu itu...Kenapa memangnya Kalau Kau menyelamatkannya ..Kenapa ?!!!"
Aku terperangah saat Putri Marsha mengatakan semuanya dengan lantang.
"Lihat dirimu...Bahkan Kau bersikap seolah tidak terjadi apapun pada lelaki yang telah membunuh anakmu"
__ADS_1
"Apa maksudmu ?" Tanya Bangsawan Voldermon tidak mengerti.
"Oh..Dia tidak menceritakannya padamu juga ?"
"Hentikan Marsha cukup..Hentikan !!" Teriakku kencang.
"Seralah yang telah menyebarkan berita bohong mengenai kehamilan Yuki sehingga kerajaan memutuskan menggugurkan kandungannya"
Bangsawan Voldermon tampak menegang. Putri Marsha menatapku puas. Dia telah mengatakan semuanya. Aku mundur tidak berdaya.
"Yuki..Apa ini benar ?" Tanya Bangsawan Voldermon kemudian. Suaranya y gemetar. Dia berbalik memandangku dengan pandangan menuntut jawaban.
"Apa benar yang telah Dia katakan ?" Tanya Bangsawan Voldermon lagi.
Aku diam.
"Jawab Aku Yuki..Apakah ini benar ?"
"Jadi itukah yang sebenarnya terjadi"
Kami langsung berpaling. Raja Bardansah berdiri di dekat Kami. Tatapan matanya terasa dingin. Mengandung amarah. Dia memandang Kami satu persatu. Wajahku langsung pucat pasi. Aku tidak mengharapkan hal ini akan terjadi.
Tapi..Putri Marsha seolah tersadar dari kecerobohannya. Dia lebih pucat daripadaku.
"Dan Kau.." Tunjuk Raja pada Putri Marsha. "Kau mengetahui semuanya Tapi Kau diam saja"
Aku melepaskan cekalan tangan Bangsawan Voldermon. Berbalik untuk pergi. Tapi Raja sudah keburu mencekal tanganku.
__ADS_1
"Tidak ada lagi yang berlari di sini. Panggil Riana. Suruh Dia segera kembali. Kalian semua berkumpul di aula. Aku ingin semua berkumpul sekarang juga" Kata Raja tegas.
Aku duduk di dalam kamar dengan penjagaan yang ketat. Raja mengurungku di.kamar sementara Bangsawan Voldermon dan Putri Marsha sudah lebih dulu di aula untuk menghadap. Pangeran Riana sedang perjalanan kembali.
Tidak boleh begini. Aku harus segera pergi dari sini. Pangeran Riana akan mengetahui kebenarannya. Aku harus segera pergi sekarang juga.
Aku menarik selimut dan kelambu yang ada di tempat tidur. Dengan cepat membuat simpul untuk membuat tali dari kain itu. Setelah berhasil. Aku membuka cendela kamar mandi. Tempat ini agak tersembunyi. Aku mengikatkan tali pada tiang dan melemparkannya keluar.
Perlahan Aku memanjat keluar cendela. Dan turun dengan menggunakan bantuan tali.
Aku merasa lega ketika berhasil memijakan kakiku ke tanah. Tidak ada yang mengetahui Aku berhasil kabur dari kamar. Sekarang tinggal bagaimana caranya Aku bisa keluar dari istana ini.
Aku berlari cepat melewati taman tengah menuju pintu gerbang ketika terdengar teriakan memanggil. "Putri Yukii"
Bangsawan Asry melonggokan kepalanya ke cendela. Tak berapa lama terlihat sosok Bangsawan Voldermon.
Sial Aku ketahuan.
"Yukiii" Bangsawan Voldermon membuka cendela lebar dan melompat turin dari lantai dua. Aku kembali berlari.
Di belakang sana terdengar teriakan Raja yang menyuruh untuk mengejarku. Aku berlari sekuat tenaga. Melupakan semua rasa sakitku.
Ketika Aku telah sampai di gerbang Aku terkejut mendapati Pangeran Riana baru saja turun dari kudanya bersama Bangsawan Xasfir. Dua orang penjaga memegangi kuda mereka untuk membawanya pergi.
Bagaimana ini.
Aku memperhatikan sekeliling. Nafasku tersenggal. Di belakangku Bangsawan Voldermon semakin mendekat. Pandanganku tertuju pada Kuda yang ditinggalkan Prajurit untuk meletakan barang-barang ke kereta. Bergegas Aku menghampiri kuda itu dan melepaskan tali pengikatnya.
__ADS_1
"Yukkii" Bangsawan Voldermon berhasil mencekal tanganku. Aku mengepalkan tanganku yang bebas. Mengikuti semua instruksi yang pernah diajarkan Lekky ketika pelatihan bertempur. Dengan kekuatan penuh Aku menghantamkan tinjuku pada Bangsawan Voldermon. Dia jatuh.Pegangan tangannya terlepas. Aku bergegas menaiki kuda dan memacunya kencang. Di belakangku tampak Bangsawan Xasfir berlari menghampiri Bangsawan Voldermon yang menunjuk-nunjuk ke arahku sambil mengucapkan sesuatu.