Rain Poor

Rain Poor
42


__ADS_3

Gulf di tanganku kembali bergetar. Pangeran Sera kembali menghubungiku. Apa Dia sudah tahu apa yang telah terjadi ?.


Aku memasukkan kembali Gulf di sakuku. Memutuskan ini yang terbaik. Pangeran Riana mencekal tanganku kuat. Seolah Borgol di tanganku ini tak cukup kuat untuk menahanku.


Aku mengikuti tarikan tangan Pangeran Riana. Berjalan menuju istana Raja. Bangsawan Voldermon mengikutiku dari belakang. Semua orang di sepanjang jalan melihat Kami dengan tatapan penasaran. Sepertinya keributan yang terjadi sebelumnya telah menyebar. Pangeran terus berjalan. Tidak memperdulikan tatapan orang yang terus menatap Kami. Aku menundukkan kepala merasa sangat malu.


Ketika Kami memasuki aula kecil. Sudah ada Raja yang duduk menunggu bersama para petinggi kerajaan. Pendeta Serfa berdiri di samping Raja. Sementara itu Putri Marsha duduk dengan di kawal cukup ketat. Di seberangnya ada Bangsawan Xasfir yang menatap Putri Marsha dengan pandangan kecewa.


"Riana dengarkan Aku.." Putri Marsha berdiri sembari menahan lengan Pangeran Riana. Tampak jelas kehancuran yang telah terjadi di dalam dirinya. Air matanya mengalir keluar. Dia menatap Pangeran dengan pandangan memohon. "Aku mencintaimu...Aku melakukan ini semua karenamu. Aku mohon mengertilah"


Pangeran Riana menepiskan tangan Putri Marsha kasar. Mendorong Putri Marsha menjauh. Wajah Pangeran sangat dingin. Tidak ada belas kasihan pada wanita yang telah menemaninya selama lima tahun ini. Wanita yang begitu setia menunggu cintanya.


"Jangan pernah menyentuhku lagi" Kata Pangeran dengan ekpresi jijik.


Pangeran kembali berjalan. Aku didudukan di tengah Aula berjarak beberapa langkah dari Kursi Putri Marsha. Bangsawan Voldermon duduk di tempatnya. Pangeran Riana kembali ke kursi Kebesarannya.


"Sekarang semua sudah berkumpul. Sidang kerajaan di mulai" Kata Raja mengumandangkan tihtahnya.


Putri Marsha mulai menceritakan semuanya. Mengenai rencana Pangeran Sera mengenai kehamilanku. Bagaimana Dia menyebarkan cerita itu. Bagaimana Dia sudah memperhitungkan melakukan sumpah kesatria. Sampai bagaimana Aku secara tidak sengaja mengetahuinya. Kemudian Mengenai perjanjianku dengan Pangeran Sera saat menemukan Kami berdua di tengah hutan. Pangeran Riana yang sekarat di manfaatkan Pangeran Sera untuk menekanku.

__ADS_1


Aku tidak membantah juga tidak membenarkan. Hanya diam mendengarkan Putri Marsha bercerita. Pangeran Riana mengatupkan rahangnya rapat. Ada kemarahan yang coba di tutupinya.


"Apa Kau tidak ingin mengatakan sesuatu pada Kami ?" Tanya Raja padaku.


"Walau bagaimanapun cerita itu sudah lama berlalu" Kataku akhirnya. "Sekarang Kami sudah menikah. Itu hal yang tidak bisa di pungkiri"


"Kau...Apa Kau tidak mempertimbangkan apa yang telah dilakukannya pada anakmu ?" Tanya Raja tidak percaya.


"Maafkan hamba yang Mulia. Tapi jika Kalian mempercayaiku waktu itu. Jika Kalian tidak mudah termakan gosip waktu itu. Rencana Pangeran Sera tidak akan berhasil. Kalian dan Pangeran Sera mempunyai andil yang sama dalam kematian anakku" Kataku akhirnya.


Raja terdiam.


Aku merasa lega telah mengatakan dengan lantang. Kebenaran yang menyakitkan ini. Benar..Jika saat itu Pangeran Riana mempercayaiku...Maka rencana Pangeran Sera ini tidak akan berhasil. Jika saja Dia mempercayaiku.


Aku terkejut menatap Pendeta Serfa. Apa maksudnya ?.


"Ini anakku. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya" Kataku lantang sembari memegang perutku untuk melindunginya.


"Jika memang begitu. Putri tidak bisa kembali kepada Pangeran Sera. Jika Putri memilih anak itu. Putri suka tidak suka harus kembali kepada Pangeran kami. Karena dengan mengandungnya Putri sekarang. Kedudukan Putri sebagai calon Ratu yang di tunjuk dewa kembali dan hanya kematian anak itu yang bisa kembali membatalkannya"

__ADS_1


Aku terperangah mendengar Penjelasan Pendeta Serfa.


"Bagaimana mungkin..." Bisikku. Aku mengangkat kedua tanganku. Menutupi wajahku, Merasa terpuruk dengan ketidak berdayaan ini.


"Benar..Putri Harus memilih suami Putri atau Anak yang Putri Kandung" Kata Pendeta Serfa tegas.


Aku menunduk. Butiran air mata keluar membasahi pipiku. Hal yang mustahil. Bagaimana bisa Aku memilih antara suami dan anakku. Jelas keduanya adalah orang yang sangat penting untukku. Aku tidak mampu mengatakan apapun lagi. Lidahku kelu.


Setelah persidangan. Pangeran Kembali memborgol tanganku dan tangannya. Menarikku untuk mengikutinya. Di sepanjang jalan Aku melihat tatapan mencela dari orang-orang yang mungkin telah mendengar kasus ini. Bagaimana Bisa Aku seorang istri malah mengandung anak dari Pria lain. Aku menundukkan kepalaku. Berusaha menghindari tatapan Mereka. Pangeran Riana tanpa sungkan terus mengandeng tanganku.


Aku terkejut saat Aku di bawa ke istana Pangeran Riana. Lebih terkejut lagi ketika Aku ditarik memasuki kamar Pangeran. Borgol kembali di lepas. Enam orang pelayan wanita masuk ke dalam kamar.


Pangeran tidak mengatakan apapun. Dia berlalu pergi untuk mengikuti persidangan selanjutnya. Pintu di tutup. Di luar penjagaan di siap siagakan.


"Mari Putri...Kami akan membantu Putri berdandan dan berganti baju" Kata pelayan itu penuh hormat. Aku mendesah.


Setelah selesai berganti pakaian dan berdandan. Para pelayan meninggalkanku seorang diri di kamar. Di atas meja ada begitu banyak makanan tersedia. Aku mencoba mengisi perutku. Mengingat Aku belum memakan apapun dengan benar seharian ini. Jika tidak ingat Aku sedang mengandung Aku pasti tidak akan mau menyentuh makanan itu.


Aku tercenung di dalam kamar. Suasana kamar ini tidak berubah sama sekali. Sama seperti ketika terakhir kali Aku meninggalkannya. Bahkan ada beberapa barang duniaku sana yang dulu sempat Aku letakan di kamar masih terpajang di tempatnya. Membuatku merasa lima tahun ini sama sekali tidak pernah ada.

__ADS_1


Bagaimana bisa Putri Marsha membiarkan kamar ini tetap seperti ini ?.


Jika melihat wataknya seharusnya Dia sudah lama merombaknya. Menghilangkan semuanya mengenai diriku bukan malah mempertahankannya.


__ADS_2