Rain Poor

Rain Poor
23


__ADS_3

Hujan terus turun hingga malam tiba. Petir menyambar-nyambar di luar sana. Udara dingin melelapkan siapapun dalam peraduannya.


Nafasku tersenggal. Keringat membasahiku. Aku berbaring di atas tempat tidur. Pangeran Riana beringsut dari posisinya, Berbaring di sampingku. Tampak kepuasan terpancar di wajahnya. Aku memalingkan wajahku. Menatap cincin kawin di jariku. Cincin itu berpendar seolah meneriakan penghakiman.


Walaupun Aku meninggalkan Pangeran Sera, Tapi Aku juga menutup hati dengan siapapun. Tidak ada yg menyentuhku selama ini setelah Aku menikah dengan Pangeran Sera. Sekarang Aku mengkhianati pernikahanku. Aku memejamkan mata, Merasa menjadi wanita paling buruk sedunia.


Aku membiarkan guyuran air membasahi seluruh tubuhku. Berdiri terpekur memandangi cermin di depanku. Bukan kali ini saja Pangeran Riana memaksakan kehendaknya. Dulu Dia jugalah orang yang telah merenggut kesucianku. Aku melihat bekas ciuman yang tersebar di leher dan dadaku. Beberapa juga terlihat di sekitar paha dan perutku. Badanku terasa sakit semua akibat perbuatan Pangeran. Pangeran memaksakan kehendaknya semalaman. Aku tidak tahu bagaimana Dia punya energi sebesar itu. Dia seperti seorang Pria yang lama tidak menyentuh perempuan. Ada memar bekas cengkaram jari Pangeran di lenganku.


Aku menghela nafas. Hari sudah siang. Aku harus pergi dari sini. Aku keluar kamar mandi. Memakai pakaian Pangeran yang tergeletak di dekatku ketika Aku bangun tadi. Pangeran masih tidur saat Aku meninggalkannya. Aku harap Dia masih seperti itu sekarang.


Namun harapanku tidak terkabul. Ketika Aku keluar kamar mandi, Pangeran Riana sudah bangun. Dia duduk bersandar di atas tempat tidur dengan hanya ditutupi selembar selimut. Ada sebatang rokok yang menyala terselip di jarinya. Sejak kapan Dia merokok ?.


Aku memalingkan pandanganku ketika tatapan mata Kami bertemu. Aku membungkuk mengambil pakaianku yang berserakan di lantai. Aku harus segera pergi dari sini.


"Untuk sementara Kau pakai saja baju milikku di lemari."


Aku berhenti mendengar ucapan Pangeran Riana. Untuk sementara ? Apa maksudnya ?.


"Apa maksudmu ?" Tanyaku akhirnya.


"Apa kata-kataku tidak jelas ?"


Aku menatap Pangeran Riana tidak percaya.

__ADS_1


"Aku harus pergi"


"Tidak, Aku masih ingin bermain denganmu. Sampai Aku merasa puas Kau tidak akan bisa pergi dari sini"


"Kau tidak bisa melakukannya" Kataku marah.


Pangeran Riana mematikan rokoknya dengan menekannya di asbak yang terletak di meja samping tempat tidur. Dengan tiba-tiba Dia menarikku ke atas tempat tidur. Aku memberontak tapi Dia berhasil meredamnya. Aku menatapnya marah. Nafasku naik turun menahan emosi yang berkecamuk di dalam dadaku.


"Biarkan Aku pergi"


"Tidak akan" Kata Pangeran Riana dingin. "Kau masih ingat apa yang Aku katakan padamu dulu. Bahkan Jika Kau punya sayap Aku akan mematahkan semua sayapmu itu dan memasungmu di sini"


"Bagaimana bisa seorang Pangeran perwaris tahtah kerajaan besar dengan entengnya meniduri istri orang ?" Sindirku keras.


"Kau gila...Lepaskan Aku"


Pangeran Riana bukannya melepaskan Aku, Dia malah semakin mempererat cengkramannya.


"dan jangan sebut kata istri di depanku. Kau tahu Aku muak mendengarnya" Pangeran merengkuh wajahku. Dengan kasar Dia kembali menciumku. Aku berusaha melawan, Tapi Aku kalah tenaga. Pangeran kembali berhasil menyentuhku.


Aku duduk di dekat cendela. Pangeran telah pergi beberapa menit yang lalu. Meninggalkan pakaian dan makanan untukku.


Sudah empat hari Dia mengurungku di sini. Selama itu setiap ada kesempatan Dia selalu memaksaku untuk melayaninya. Aku tidak bisa berteriak meminta pertolongan. Aku tidak ingin orang salah paham dan malah menimbulkan skandal. Tapi Aku tidak bisa di sini terus. Jika Lekky kembali dan mengetahui hal ini, Dia bisa membunuh Pangeran Riana tanpa berpikir panjang. Aku harus mencari cara untuk pergi dari sini.

__ADS_1


Di luar angin berhembus cukup kencang. Sebentar lagi hujan jika menilik awan yang mengantung di atas langit. Semua pintu dan cendela terkunci. Pangeran Riana membawa kuncinya jika Dia pergi.


Aku mengeluarkan penjepit kertas yang ku curi dari dokumen yang di bawa Pangeran Riana. Aku memutar penjepit kertas itu sedemikian rupa. Aku tidak tahu apakah ini berhasil atau tidak. Namun Aku harus mencobanya.


Aku mengintip ke lubang kunci. Menajamkan telingaku mendengarkan suara di luar sana. Setelah memastikan aman. Aku mulai mengotak-atik lubang kunci.


Agak susah. Hampir lima belas menit Aku membungkuk untuk melakukannya. Saat Aku nyaris menyerah terdengar suara klik. Dengan perasaan berdebar Aku memutar gagang pintu. Pintu dapat terbuka. Tanpa menunggu lama Aku lari meninggalkan kamar.


Orang-orang menatapku aneh ketika Aku berjalan menyusuri taman. Aku bertelanjang kaki. Aku harus segera meninggalkan sekolah sebelum Pangeran Riana menyadari Aku telah menghilang atau Pangeran Sera menemukanku.


Aku tidak mempunyai uang saat ini. Aku memiliki Gulf namun apa gunanya. Keluarga Darmount tidak ada di sini. Aku juga tidak mau menganggu konsentrasi mereka hanya karena masalah ini.


Aku terus melangkah. Hujan turun dengan derasnya. Beberapa orang berlari pergi.


Terdengar getaran di sakuku. Aku mengernyit saat melihat siapa yang menghubungiku.


"Yuki..Kau ada di mana ?" Tanya Bangsawan Voldermon ketika Aku mengangkatnya. Bagaimana Dia bisa tahu kode Gulf ku ?.


"Aku.."


"Ada yang melapor padaku Kau terlihat di sekitar sekolah. Sera sudah mendengar hal ini. Dia sedang mengarah ke taman untuk mencarimu. Katakan padaku Kau dimana ? Aku akan menjemputmu"


Aku tidak punya pilihan. Aku menyebutkan lokasiku.

__ADS_1


"Tunggu Aku." Kata Bangsawan Voldermon lalu menutup Gulfnya.


__ADS_2