Rain Poor

Rain Poor
16


__ADS_3

Aku mengangkat nampanku. Gelang kakiku bergemerincing ketika Aku melangkah. Gelang kaki dengan banyak lonceng dipakai sebagai simbol seorang wanita telah diikat dalam sebuah pernikahan. Akan banyak nada dalam pernikahan seperti bunyi gemerincing lonceng yang berbunyi ketika kita melangkah, Namun seperti apapun nadanya, Sebagai seorang istri tidak boleh melupakan baktinya pada suami.


Aku baru saja berbelok memasuki lorong ketika melihat Bangsawan Voldermon berdiri di ujung lorong. Dia berdiri membelakangiku, Tidak melihat keberadaanku.


"Bangsawan Voldermon Kau sudah pulang" Sapaku langsung sembari berlari menghampirinya. Namun betapa terkejutnya Aku ketika menyadari Bangsawan Voldermon tidak sendiri. Ada Pangeran Riana, Putri Marsha, Bangsawan Voldermon dan Bangsawan Asry di sana. Putri Marsha langsung melotot tajam ke arahku.


"Sedang apa Dia disini ?" Tanya Putri Marsha langsung dengan nada tidak suka.


"Aku yang mengajaknya tinggal bersamaku" Jawab Bangsawan Voldermon dengan entengnya.


"Apa Kau tidak tahu siapa Dia ? Dimana otakmu ?"


"Aku tidak perlu izin siapapun untuk membawa orang ke rumahku Marsha. Sebaiknya Kau jaga sikapmu" Ujar Bangsawan Voldermon cukup keras menangapi perkataan Putri Marsha. Tampaknya hubungan keduanya tidak baik.


Bangsawan Voldermon berbalik melihatku. "Kau sudah selesai berdoa ?" Tanya Bangsawan Voldermon lembut. Nadanya berbeda saat berbicara dengan Putri Marsha. Aku menganggukan kepala. Merasa bersalah. Saat seperti inilah yang sebenarnya ingin Aku hindari.


Pertengkaran.


"Kembalilah ke kamar. Nanti Aku akan menyusul. Kita makan malam bersama" Kata Bangsawan Voldermon lagi.


Aku tahu, lebih baik Aku tidak membantah. Bangsawan Voldermon menepuk punggungku lembut untuk menenangkan. Aku berbalik pergi dan meninggalkan Mereka. Tapi Aku tidak langsung pergi. Aku bersembunyi di sudut lorong saat Aku merasa Mereka sudah tidak melihatku lagi. Merapatkan diriku di tembok. Mendengarkan.

__ADS_1


"Apa-apaan ini Vold. Kenapa Kau membawanya ke istanamu. Apa Kau tidak tahu sekarang suaminya sedang mencari ke seluruh kota ?" Tanya Putri Marsha dengan suara keras. "Bagaimana jika orang tau Kau malah menyembunyikannya ?"


"Aku akan menanggungnya. Kau tumben sekali memikirkan orang lain. Bukankah hidupmu selalu hanya seputar dirimu saja ?" Sindir Bangsawan Voldermon.


"Vold, Aku tahu hubungan kalian sangat dekat selama ini, Tapi Kau juga harus mengerti sekarang kondisinya sudah lain. Dia sudah menikah. Apapun yang terjadi dengan rumah tangganya itu bukan urusan Kita. Tolong pikirkanlah, tindakanmu ini bisa memperburuk hubungan negara dengan Argueda. Kita tidak perlu perselisihan antar negara sekarang ini" Bangsawan Xasfir menimpali. Mencoba memberi pengertian Bangsawan Voldermon.


"Dia adalah wanita yang telah mengkhianati negerinya, Kau tentu tidak lupa bagaimana Dia menipu Riana, membuatnya terluka parah dan membuat negeri ini nyaris hancur. Untuk apa Kau terus membelanya. Sadarlah Vold, Wanita jalang seperti itu tidak pantas untuk Kau bela"


"Cukup Marsha, Jangan menghina Dia seperti itu lagi"


"Aku bicara kenyataan. Dimana letak menghinanya ?" Teriak Putri Marsha lantang.


"Kau terlalu berlebihan menghadapi kemunculannya. Kenapa Marsha ?" Tanya Bangsawan Voldermon dingin. "Apa Kau takut padanya ?"


"Kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Jadi berhentilah berpura-pura seolah-olah Kau tidak tahu apa-apa"


Hening sejenak.


"Apa maksud kalian ?" Bangsawan Asry bertanya dengan kebingungan. Memecah keheningan yang sempat terjadi. Tercium ketegangan di sana.


"Aku tidak berniat pergi. Kalian pergi saja sendiri" Terdengar langkah Kaki menjauh. Bangsawan Voldermon tampak menaiki tangga, terlihat tenang namun Aku bisa melihat Dia menyimpan emosi yang cukup besar. Aku lega karena Dia memutuskan pergi. Jangan sampai Bangsawan Voldermon kelepasan bicara karena terus terpicu Putri Marsha. Garduete tidak perlu tahu apa yang terjadi lima tahun yang lalu. Terutama Pangeran Riana, Aku tidak bisa membayangkan apa yang di lakukannya jika sampai Dia tahu masalah itu.

__ADS_1


Bangsawan Voldermon tidak berbalik meskipun Bangsawan Asry memanggilnya. Sosoknya menghilang di belokan tangga.


"Apa yang dimaksud Vold ?, Apa ada sesuatu yang tidak Kami ketahui ?" Tanya Bangsawan Xasfir pada Putri Marsha yang menatap Bangsawan Voldermon dengan sorot marah.


"Jangan tanya Aku, Aku tidak tahu" Putri Marsha memalingkan wajah. Aku melihatnya mengatupkan rahangnya. Menahan emosi di dalam dirinya.


Bangsawan Xasfir berpaling pada Pangeran Riana yang duduk diam di tempatnya. "Bagaimana sekarang Riana ?"


"Vold punya hak untuk mengundang siapapun ke rumahnya"


"Tapi yang Dia sembunyikan adalah jalang itu" Protes Putri Marsha kesal. "Apa Kau tidak khawatir Dia akan mempermainkan Voldermon. Jelas sekali, Sepupumu itu termakan rayuannya. Dia hanya di manfaatkan"


"Voldermon cukup dewasa untuk mengatasi masalahnya. Marsha, sebaiknya Kau menjaga perilakumu jika Kau masih menginginkan pernikahan ini"


Putri Marsha terdiam.


"Voldermon adalah saudaraku. Kau ingat itu baik-baik"


"Sudahlah. Masalah ini sebaiknya jangan di perpanjang. Sekarang Kita harus pikirkan bagaimana jika Argueda sampai tahu Voldermon menyembunyikan Yuki di sini" Ujar Bangsawan Xasfir menengahi.


"Sera tidak akan melakukan apapun pada Voldermon. Sudahlah, Ayo kita pergi" Tidak ada yang membantah Pangeran Riana.

__ADS_1


Aku keluar dari persembunyianku setelah memastikan Mereka semua telah pergi. Berjalan gotai kembali ke kamar.


Esoknya ketika Aku menyuarakan keinginanku untuk pergi dari kediamannya, Bangsawan Voldermon menolak. Dia memberiku banyak alasan yang membuatku tidak bisa melawannya. Lekky sedang pergi karena tugas dari Pendeta suci. Sedangkan Pangeran Sera terus menyisir ibu kota untuk mencari keberadaanku setelah Aku tidak kembali ke sekolah. Aku tidak punya tempat untuk bersembunyi. Akhirnya, setelah pertimbangan yang cukup matang, Aku mengurungkan niatku untuk pergi dari kediaman Bangsawan Voldermon.


__ADS_2