
Aku duduk di bawah sebuah pohon besar. Berada di tengah-tengah perkebunan luas yang menanam sayur mayur. Beberapa petani tampak berjalan menyusuri pematang sembari memanggul hasil panennya. Sebentar lagi hari akan gelap. Aku sangat lelah. Enam jam berkuda tanpa henti. Setelah berhasil melarikan diri dan kabur dari ibu kota. Aku menaiki kapal kecil menyusuri sungai. Kemudian melanjutkan perjalananku hingga Aku sampai di sini. Di sampingku Kuda tampak makan dengan lahapnya.
Aku memyandarkan diriku di batang pohon. Meluruskan kakiku ke depan. Aku tidak punya cukup uang untuk bepergian. Mungkin Aku bisa menjual perhiasan yang kupakai untuk membiayai perjalananku pulang ke rumah Lekky. Kalau begitu Aku harus menuju kota besar untuk menjualnya. Tapi pertama-tama untuk saat ini Aku hanya butuh tempat menginap dan semangkuk sup hangat.
Aku mengambil air minum di sampingku dan menghabiskan separuh botol air. Butuh dua minggu perjalanan untuk sampai ke rumah keluarga Darmount. Sampai saat itu tiba Aku harus bertahan dan mencari cara lolos dari kejaran Pangeran Riana. Aku sangat yakin Pangeran Riana sekarang sudah mengetahui kebenarannya. Kerajaan pasti mencariku sekarang. Lalu apa yang harus kulakukan ?.
Putri Marsha menceritakan semuanya. Aku sangat mengenal tabiat Pangeran Riana. Lebih baik Aku menghindarinya untuk sekarang ini agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar.
Aku mendesah. Perutku terasa lapar. Aku hanya memakan dua potong roti di perjalanan. Aku membuka tas ku. Rasanya Aku ingat menyimpan apel di dalamnya. Agak lega ketika Aku menemukannya. Terdengar gulf di dalam tas. Bangsawan Voldermon menghubungiku. Pangeran Sera beberapa kali menghubungiku juga Bangsawan Voldermon. Tapi Aku sama sekali tidak punya keberanian mengangkatnya.
Aku terdiam sejenak sembari berpikir. Lebih baik Aku mengangkat panggilan Bangsawan Voldermon.
"Yuki..Kau ada di mana ?" Tanya Bangsawan Voldermon langsung ketika Aku menyambungkan komunikasi.
Dia tampaknya mengendarai kuda. Ada lebam di dahunya akibat pukulanku.
"Aku baik-baik saja. Tolong biarkan Aku sendiri" Kataku pelan. Tidak berniat mengatakan di mana posisiku.
"Kau ada di mana ?" Tanya Bangsawan Voldermon lagi lebih keras. "Riana sudah mengetahui semuanya sekarang Dia seperti kesetanan mencarimu"
Terasa gerakan di depanku disusul suara berdebam yang cukup kencang. Aku tertegun. Ketika mendongak, Aku melihat Pangeran Riana sudah berdiri. Tak jauh darinya Raldoft. Naga Pangeran terlihat menjulurkan lehernya. Menatapku. Kedua sayapnya dikibaskan ke udara sebelum akhirnya di katupkan rapat di kedua sisinya.
"Pangeran Riana.." Bisikku. Tanpa sadar Aku menutup gulf di tanganku.
Pangeran Riana tidak bergeming dari tempatnya. Dia hanya diam. Memandangku. Aku menatapnya tertegun.
__ADS_1
Angin berhembus cukup kencang. Kami diam membisu. Namun, Aku merasa dapat mendengar degub jantungku yang berdebar kencang.
"Jadi..." Kata Pangeran Riana membuka kesunyian yang terjadi. "Apa semua itu benar ?" Tanyanya lirih.
Aku berdiri perlahan. Menilai reaksinya.
"Apakah benar Kau menikah dengan Sera demi menyelamatkanku saat itu ?" Pangeran perlahan berjalan mendekat. Matanya lurus memandangku. "Apakah benar Sera jugalah yang menyebarkan berita soal kehamilanmu sehingga kerajaan menggugurkannya ?"
Aku masih diam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Rasanya semua yang ingin kukatakan akan jadi percuma.
"Kenapa Kau Diam..Jawab Aku !!" Pangeran menarik tanganku kencang. Aku mendorongnya, berusaha melepaskan cekalannya.
"Apa yang terjadi di masa lalu itu bukanlah urusanmu Pangeran Riana"
Aku menatapnya binggung.
"Kau.." Kata Pangeran sembari mengeretakan giginya.
Pangeran langsung menarikku ke pelukannya. Tanpa perlawanan yang berarti Dia menciumku kuat. Aku berusaha melepaskan diri darinya. Ciumannya begitu dalam dan menuntut. Aku tahu akan percuma melawannya. Akhirnya Aku diam. Tidak melawan juga tidak membalas ciumannya.
Tak lama, Pangeran melepaskan ciumannya. Matanya menunjukan emosi yang begitu besar. Seolah Dia bisa menelanku hidup-hidup. Lalu...
Tiba-tiba Dia memukul pohon di sampingku dengan keras. Aku tersentak mundur. Tidak menduga akan apa yang terjadi. Teriakan kemarahan Pangeran Riana terdengar nyaring. Dia terus memukuli pohon itu dengan tinjunya. Terlihat darah keluar dari tangannya. Namun Dia tidak juga menghentikan apa yang sedang dilakukannya sekarang.
Aku hanya bisa diam terpaku menyaksikannya.
__ADS_1
Aku menunggu...Menunggu Pangeran tenang. Pangeran Akhirnya diam. Nafasnya tersenggal-senggal.
Kemudian Dia kembali memandangku.
"Dengarkan Aku, Mulai sekarang tanpa memperdulikan perasaanmu atau hal-hal lainnya. Aku akan membawamu kembali bersamaku"
"Tidak..Kau tidak bisa melakukannya" Sergahku cepat.
"Aku tidak peduli !!" Balas Pangeran Riana tidak mau kalah. "Kau dengar Yuki...Aku tidak akan peduli"
Pangeran menarikku untuk mengikutinya, memaksaku untuk naik ke atas Raldoft. Aku berusaha memberontak namun cekalannya begitu kuat. Kami terbang diatas langit menuju istana Raja.
Bangsawan Voldermon berlari mendekatiku ketika Raldoft telah mendarat sempurna di atas tanah. Pangeran Riana mengikutiku dari belakang.
"Berikan itu" Kata Pangeran pada penjaga.
Penjaga memberikan borgol besi kepada Pangeran.
"Tidak..Kau tidak bisa.." Tolakku ketika Dia menarik tanganku. Dan memasangkan sebelah borgol di sana.
Pangeran menatapku tajam. Menghentikan protesku. Bangsawan Voldermon memegang bahuku. Aku menoleh memandangnya. Bangsawan Voldermon menggelengkan kepala pelan. Memintaku untuk tidak banyak membantah saat ini. Pangeran memasang sebelah borgolnya di tangannya.
Terdengar suara Gulf berbunyi. Aku mengambil Gulf di sakuku. Jantungku seperi berhenti tiba-tiba. Pangeran Sera menghubungiku.
Pangeran Riana tampak meremas tangannya di samping. Wajahnya yg tampak sangat tidak bersahabat dan dingin. Aku menelan ludah. Kembali memasukkan Gulf ke dalam kantungku.
__ADS_1