Rain Poor

Rain Poor
43


__ADS_3

"Putri" Aku terkejut dari lamunanku ketika enam orang pelayan muncul. Mereka menunduk hormat kepadaku. "Barang-barang Putri sudah di letakan kembali ke kamar. Apakah Putri membutuhkan sesuatu ?"


"Barang-barangku ?" Tanyaku tidak mengerti.


"Para pelayan senior meminta Kami segera membongkar barang dan membersihkan kamar di seberang kamar Pangeran Riana tadi siang. Mereka mengatakan kepada Kami bahwa pemilik kamar sudah kembali"


"Pemilik kamar..?" Aku mengerjap kebingungan. Bukankah kamar di seberang itu adalah kamar khusus untuk Putri yang akan menjadi Ratu negeri ini. Seharusnya itu sekarang menjadi kamar Putri Marsha.


"Apa Putri Marsha telah kembali ?" Tanyaku cepat. Para pelayan saling menatap kebingungan.


"Maaf Putri, Putri Marsha sedang menjalani persidangan. Dia juga tidak akan kembali ke istana ini"


"Tapi Kau bilang barusan pemilik kamar telah kembali"


Pelayan itu tersenyum. "Yang saya maksud adalah anda Putri. Pangeran menutup pintu kamar itu selama lima tahun ini tepatnya semenjak kepergian Putri. Dia Melarang keras seorangpun untuk mengotak-atik isi di dalamnya tanpa izin. Putri Marsha sendiri tidak pernah diperbolehkan mendiami kamar itu. Jadi selama ini Putri Marsha tinggal di istana wanita milik Pangeran Riana" Jelas Pelayan itu membuatku tertegun. "Sepertinya Pangeran berharap Putri akan kembali suatu saat nanti"


Perkataan Pelayan itu membuatku sedih. Ini salah. Aku berpikir Kami telah lama berakhir. Jalan Kami untuk bersama sudah tidak mungkin lagi. Aku tidak berbohong jika perasaan cinta itu ada. Tapi sudah tidak sebesar dulu.


Aku mengatakan kebenaran menurutku di dalam persidangan itu. Rencana Pangeran Sera tidak mungkin berhasil jika Pangeran Riana tidak mempercayainya. Aku sudah berusaha keras membuatnya percaya. Tapi kecemburuan menggelapkan nuraninya. Kedua pangeran itu memiliki adil yang sama dalam kematian bayi dalam kandunganku.

__ADS_1


Aku memutuskan bersama Pangeran Sera ketika Aku kembali bukanlah tanpa sebab. Pertama Dia adalah suamiku. Aku ingin melakukan bakti terakhirku sebelum Aku mati padanya. Kedua, Jikalaupun pada akhirnya Kami bertiga dapat selamat, Aku tetap akan bersama Pangeran Sera. Pangeran Sera lebih mempercayaiku. Dia mampu mengerti diriku. Aku tahu Aku bisa bahagia bersamanya. Dan ketiga Pangeran Riana sudah bertunangan. Aku tidak ingin berbagi suami atau merusak hubungan orang lain. Walaupun sekarang secara tak langsung Aku melakukannya. Tapi Aku tidak bangga untuk itu.


Hubunganku dengan Pangeran Riana sudah berakhir. Aku tidak mengharapkan untuk dapat kembali padanya. Setiap melihatnya Aku masih bisa mengingat bagaimana ekpresinya ketika itu. Seolah menghakimiku tanpa ampun.


"Putri. Maafkan hamba jika terdengar lancang. Tapi jika boleh Saya ingin mengatakan sesuatu"


"Katakan"


"Saya mengakui cinta Pangeran Sera yang begitu besar untuk Putri, Tapi Saya juga berani mengatakan kebenaran bahwa Pangeran Riana pun belum bisa melupakan Putri sampai sekarang"


Aku terdiam mendengar penuturan Pelayan itu.


Hari sudah semakin larut. Pangeran Riana belum kembali. Aku duduk di samping perapian yang menyala dan melamun. Tadi tanpa sengaja Aku menemukan fotoku yang tersimpan di laci samping tempat tidur. Apakah Pangeran Riana yang menyimpannya di sana ?.


Terdengar suara pintu di buka. Ketika berbalik Aku melihat Pangeran Riana masuk ke dalam kamar. Dia tidak mengatakan apapun saat melihatku dan langsung berjalan menuju kamar mandi.


Ini tidak baik. Jika Dia datang selarut ini ada kemungkinan besar Dia akan tidur di sini. Aku tidak mungkin membiarkannya. Walaupun hubungan Kami berawal dari keterpaksaaan, Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa Aku adalah istri Pangeran Sera.


Kehamilan ini saja Aku tidak tahu bagaimana nantinya menghadapi Pangeran Sera. Aku benar-benar tidak mempunyai muka untuk bertemu dengannya.

__ADS_1


Pangeran selesai mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Aku tertegun. Berdiri kebingungan di sudut ruangan.


"Aku...Aku akan ke ruang kerja" Kataku setelah cukup keberanian. Aku berjalan melangkahkan kaki menuju pintu ketika Pangeran mencekalku. "Lepaskan Aku" Kataku berusaha melepaskan cekalannya. "Pangeran...Aku mohon...Aku sudah menikah...Tidak baik bagi kita berada di ruangan yang sama seperti ini"


"Menikah ?" Pangeran tampak marah mendengar ucapanku. Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Wajahku menabrak dadanya. Tercium aroma sabun mandi dari tubuhnya. "Sudah cukup Aku mendengar hal itu darimu Yuki. Apa Kau kira dengan Kau terus mengatakannya Aku akan senang ?"


Aku memberontak. Berusaha melepaskan diri. Kedua tanganku terkatup di dada. Menatap Pangeran Riana memohon. "Aku mohon Pangeran...Lepaskan Aku...Biarkan Aku pergi"


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi Yuki. Meskipun nantinya Aku harus menghadapi keluarga darmount atau Sera sekalipun. Aku tidak akan melepaskanmu. Kau dengar itu. Tidak akan"


Pangeran mendekapku kuat di dadanya.


Tangannya merengkuh belakang kepalaku. Menarikku mendekatinya. Dia mencium bibirku. Aku semakin meronta berusaha melepaskan diri. Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi. Ketidakmampuanku menjaga diri membuatku kembali terjerumus ke dalam masalah yang pelik.


Tapi tenaganya terlalu besar untukku. Pangeran terus menciumku. Cara menciumnya begitu intens dan dalam. Seolah ini memang seharusnya terjadi. Seolah Dia lah yang menikah denganku dan berhak atas diriku.


Air mataku sudah mengalir saat Pangeran melepaskan ciumannya. Perasaan tidak berdaya dan terpuruk begitu menghantuiku.


Pangeran seperti tidak peduli akan tangisanku. Dia mengangkat tubuhku. Berjalan membawaku ke atas tempat tidur. Aku dibaringkan di sana sementara Dia berada di atasku.

__ADS_1


"Ini salah...Ini salah Pangeran" Bisikku lirih.


"Salah atau benar Aku tidak peduli karena bagiku...ini lah yang seharusnya terjadi" jawab Pangeran dingin. Dia kembali mendekatiku. Mencium bibirku. Perlahan pakaianku diturunkan lepas dari tubuhku.


__ADS_2