Rain Poor

Rain Poor
50


__ADS_3

Aku menatap Semua orang di meja makan meminta pertolongan. Jawaban apa yang harus ku berikan pada Ferlay. Bangsawan Asry tidak mampu lagi menahan tawanya. Dia terkikik di samping Bangsawan Xasfir. Sementara Bangsawan Voldermon pura-pura tidak melihatku.


Sial. Mereka semua menghindari permintaan bantuanku.


"Karena Kami akan menikah. Makanya tidak masalah jika Kami tidur bersama. Ke depannya Kau bisa memanggilku Ayah karena Aku akan menjadi suami Mamamu" Jawab Pangeran Riana dengan santainya. Dia tidak mengindahkan tatapan protesku akan jawabannya.


Aku memutuskan untuk tidak berdebat di depan Ferlay.


Setelah sarapan Aku menemani Ferlay bermain di halaman sambil mengecek kebun sayurku. Dia berlari sembari bermain layang-layang di halaman belakang. Aku berdiri dan memperhatikannya dengan tenang. Di tanganku Aku memegang semprotan berisi obat untuk tanaman.


Ferlay tampak begitu gembira. Senyum merekah di wajahnya. "Ibuuuu...Micu micu...Ibuuu....Micu micu" Teriak Ferlay sembari mengadah ke atas langit. Hari ini cuaca sedikit mendung. Awan gelap mengantung di ujung langit.


"Apa yang Dia katakan ?" Tanya Pangeran Riana sembari berjalan ke arahku.


"Siapa ?"


"Ferlay"


"Oh...Bahasa duniaku sana. Dia selalu meneriakannya ketika bermain layang-layang atau menerbangkan balon. Dia percaya Ibunya melihatnya dari atas sana"


"Apa artinya ?"


"Sebenarnya Miss You...Tapi Aku menyingkatnya sendiri menjadi Micu. Artinya Aku merindukanmu"

__ADS_1


Ferlay berlari riang. Seperti tidak ada beban. Tawanya terdengar menyenangkan. Aku meletakan semprotan ke meja di sampingku dan melangkahkan kaki untuk menghampirinya. Tapi Pangeran Riana mencekal tanganku. Menghentikan langkahku. Ketika berbalik Aku menemukannya sedang menatapku dalam.


"Aku juga.."


Setelah mengatakan hal itu. Pangeran melepaskan pegangannya dan berlalu pergi. Meninggalkanku yang tertegun seorang diri.


Lekky kembali ketika malam tiba. Hujan kembali turun dengan derasnya. Petir mengelegar. Saling bersahutan di langit. Dia masuk ke dalam rumah dengan badan basah kuyup.


"Lekky" Panggilku lega saat melihat sosoknya. Bangsawan Xasfir tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat Melihat sayap besar berwarna hitam legam milik Lekky. Jelas, Dia baru pertama kali melihatnya.


Lekky mengibaskan sayapnya untuk membuang air hujan yang menempel. Kemudian sayap itu tertekuk di punggungnya dan menghilang.


"Sebenarnya Mahkluk apa Kau ini ?" Tanya Bangsawan Xasfir tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Setidaknya Aku bukan jin" Jawab Lekky seenaknya. George datang membawakan handuk kering. Lekky melepaskan sepatunya dan hanya bertelanjang kaki.


"Ada seorang murid pendeta yang berkhianat dan membocorkan pergerakan kita. Sekarang Pendeta suci di culik. Besok Kita akan pergi untuk menyelamatkannya"


"Aku mengerti" Kata Pangeran kemudian.


Lekky berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Aku mengikutinya dari belakang. "Oh..Aku lupa.." Lekky berhenti secara mendadak. Membuatku tanpa sengaja menubruk punggungnya. Aku menjauhi Lekky sambil memegang hidungku. "Suamimu akan ikut bersama Kita"


"Aku mengerti" Kataku. Kemudian Aku terdiam saat mencerna kembali kata-kata Lekky. Aku mengerjap. Menatap Lekky yang juga melihatku.

__ADS_1


"Aku muak dengan semua perselisihan ini Yuki. Jangan sampai Aku yang turun tangan mengatasinya" Kata Lekky menyuarakan pikiran seseorang.


Pangeran mengatupkan rahangnya kuat. Jelas Dia tidak senang mendengar keikutsertaan Pangeran Sera.


"Jangan khawatir, Semua akan baik-baik saja" Kataku lirih walau Aku sendiri tidak yakin dengan apa yang kuucapkan. Lekky bersungut-sungut. Kembali berbalik menaiki tangga. Dia menengok sebentar Ferlay yang sudah tidur dari balik pintu. Kemudian melanjutkan langkahnya Menuju kamarnya yang terletak di ujung lorong.


Besoknya, Setelah sarapan Kami mulai mengemasi barang-barang. Aku berdiri di pinggir kolam ikan melamun.


Mataku terlihat lelah karena semalaman Aku bergadang. Aku tidak bisa tidur memikirkan masalah Pangeran Riana dan Pangeran Sera. Kami akan segera pergi. Aku akan kembali bertemu dengan Pangeran Sera. Apa yang harus kulakukan ?. Bagaimana Aku bisa menemuinya sekarang ?. Aku tidak punya wajah lagi untuk bertemu dengannya. Aku sudah terlalu sering menyakitinya. Pengkhianatan ini....Entah bagaimana Dia akan bereaksi nantinya. Tidak ada lelaki yang akan memaafkan istrinya mengandung anak dari laki-laki lain. Tidak ada.


Apakah pada akhirnya pernikahan ini akan berakhir ?


Aku merasakan kesedihan yang dalam. Hatiku seperti di iris-iris.


Seseorang menempelkan minuman dingin ke pipiku. Membuatku terkejut. Bangsawan Voldermon menunjukan senyumnya. Di tangannya Dia memegang gelas berisi air es segar. "Kenapa wajahmu seperti itu. Seperti orang yang akan di hukum gantung saja"


"Sayangnya Aku memang merasakan perasaan seperti itu saat ini" Bisikku lirih. Aku menerima gelas di tangan Bangsawan Voldermon. Kami berdiri menatap matahari yang mulai merangkak naik ke atas langit. Angin bertiup lembut.


"Kau tidak bisa melarikan diri terus menerus. Kau harus menghadapinya. Dia di sana juga menunggumu untuk ini" Kata Bangsawan Voldermon setelah Kami terdiam cukup lama. Aku meneguk sedikit minuman di tanganku. Bangsawan Voldermon benar. Aku tidak bisa melarikan diri terus menerus. Aku harus menghadapi Pangeran Sera dengan segala kosekuensinya.


"Aku ingin jadi amoeba yang bisa membelah menjadi dua agar tidak ada yang tersakiti" Kataku lirih.


"Tiga...Satu untukku" Bangsawan Voldermon tersenyum. Aku membalas senyumannya. Hatiku terasa berat.

__ADS_1


Dari jauh Aku melihat Bangsawan Asry melambai meneriaki kami. Sepertinya sebentar lagi Kami akan berangkat.


"Ayo" Ajak Bangsawan Voldermon. Aku menganggukan kepala. Kami berjalan menuju halaman depan. Raldoft, dan Coracal sudah siap di tempatnya. Barang-barang sudah di naikkan saat Aku datang. Aku memeluk Ferlay yang bergelayut manja di kakiku.


__ADS_2