
"Bagaimana ?" Tanya Pangeran Riana ketika Pendeta Serfa selesai memeriksa.
"Bangsawan Voldermon baru saja melewati masa krisis. Dia cukup beruntung, Jika tadi Lengannya tidak segera di tangani, Dia terancam akan kehilangan lengannya karena penyumbatan darah yang terjadi"
Bangsawan Xasfir melirik ke arah Lekky. Ada tatapan berterimakasih yang tersirat di sana. Aku berpaling menatap Lekky. Dia kembali akan menyalakan rokoknya yang kedua. Lekas Aku mengambilnya, mematahkannya jadi dua dan membuangnya ke luar melalui cendela. Lekky memprotes dengan menyalakan pematik beberapa kali di depanku ketika Aku merampas kotak rokoknya. Yang bisa membunuh Lekky adalah kebiasaan buruk Lekky merokok. Aku harus menjaganya agar tetap hidup.
"Xasfir selidiki siapa yang menyerangnya" Perintah Pangeran Riana sembari duduk dengan tenang di tempatnya.
"Aku rasa ini hanya perkelahian biasa soal wanita. Kalian tahu sendiri bagaimana skandal Vold dengan para wanita" Putri Marsha menimpali dengan wajah acuh.
Lekky tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Aku menyenggolnya menyuruhnya untuk diam. "Aku hanya merasa lucu dengan drama yang terjadi didepanku" Kata Lekky membela diri.
"Apa yang Kau maksud drama. Kau kira Vold sedang berpura-pura ?" Tanya Bangsawan Xasfir berang. Aku kembali menggoyangkan badan Lekky. Memintanya untuk berhenti. Aku tidak ingin terjadi keributan sementara tuan rumah terbaring di kamar terkena musibah.
Lekky membalikan badannya. Menatap keluar. "Lucu sekali kalau Kalian berpikir ini hanya permasalahan wanita. Tidak sesederhana itu kawan"
"Jadi apa yang Kau maksud dengan tidak sesederhana itu ?" Tanya Pangeran Riana dingin.
"Bagaimana jika Voldermon ternyata mengetahui rahasia yang disembunyikan orang lain. Rahasia yang berakibat fatal untuknya dan keluarganya jika sampai diketahui orang lain"
"Rahasia yang di sembunyikan Voldermon ?" Bangsawan Asry berguman sendiri.
__ADS_1
"Orang itu tidak menyangka jika Voldermon mengetahuinya, Sekarang Dia merasa terancam dan berniat menyingkirkan Vold. Sayangnya, teman kalian itu seperti badak yang susah dibunuh walaupun babak belur" Lekky menatap lurus ke depan. Tatapannya tajam namun penuh ketenangan yang mengerikan. "Aku jadi ingin tahu, Apakah Dia akan mencoba membunuhku jika Aku mengatakan Aku juga mengetahui rahasia itu"
Aku memandang Lekky tidak mengerti. Dia seperti berguman sendiri. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Aku menyadari kemudian. Dia tidak memandang ke luar cendela seperti yang kukira. Dia memandang pantulan bayangan dari cendela kaca didepannya. Bayangan Putri Marsha yang sedang menatap ke arahnya.
Bayangan kebencian dan ketakutan yang menguar jelas dari dalam diri Putri Marsha. Jadi..Diakah pelaku sebenarnya yang menyerang Bangsawan Voldermon ?. Kenapa ?, Apa Karena Bangsawan Voldermon mengetahui kejadian lima tahun lalu. Bangsawan Voldermon adalah sepupu Pangeran Riana. Hubungan mereka sangat dekat. Walau tanpa bukti yang kuat, jika Bangsawan Voldermon mengatakan kebenarannya. Pangeran Riana pasti akan langsung merespon dan menyelidikinya. Mungkinkah ini yang membuat Putri Marsha nekat merencanakan pembunuhan terhadap Bangsawan Voldermon. Aku tidak percaya Putri Marsha tega melakukannya.
Lekky menganggukan kepala pelan saat Kami bertatapan. Menyuarakan apa yang ada dalam pikiranku.
Terdengar suara Gulf dari arah Lekky. Ternyata itu adalah Lazzar. "Kau akan pergi ?" Tanyaku cepat. Lekky tidak mengangkat panggilan itu. Sepertinya Dia sudah tahu apa yang akan di bicarakan Lazzar.
"Kau mau ikut ?"
"Club tari telanjang di tengah kota"
"Tidak, terimakasih" Kataku masam. Lekky terkekeh melihat reaksiku. Dia meletakkan rokok di mulutnya, membuatku tersadar. Aku memeriksa kantung bajuku. Ternyata rokoknya sudah tidak ada. Lekky tersenyum puas, melemparkan kotak rokok dan pematik ke arahku.
Dia berjalan keluar, Aku mengikutinya. Tiba-tiba ketika di ambang pintu, Dia berbalik. Wajahku langsung membentur punggungnya. "Aku lupa" Lekky melemparkan sekantung penuh uang ke arah Pangeran Riana.
"Apa ini ?" Pangeran menunjukan kantung yang berhasil di tangkapnya.
"Katakan pada Saudaramu untuk menyingkirkan tiga mayat di atap rumahnya jika Dia tidak ingin kebauan besok"
__ADS_1
"Mayat ?, Kau membunuh orang disini" Aku menatap Lekky tidak percaya.
"Lalu apa hubungannya dengan ini ?" Pangeran Riana mengangkat kantung uang di tangannya.
"Berikan pada orang yang telah memerintahkan Mereka"
"Mereka menyerang sampai kemari ?" Bangsawan Asry mengernyit tak suka mendengar informasi ini. "Apa yang sebenarnya di rahasiakan Vold ?"
"Tidak, Orang yang memerintah sama. Tapi dengan tujuan yang berbeda. Katakan pada orang itu, Aku berbaik hati memperingatkannya sekali, Namun jangan terlalu berharap mendapatkan keberuntungan seperti ini lagi"
Aku ingin mengatakan sesuatu tapi terasa hembusan kencang didepanku. Lekky sudah menghilang.
Sepeninggal Lekky, Bangsawan Xasfir langsung memeriksa atap dan menemukan tiga tubuh yang sudah tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan. Pangeran Riana menambah penjagaan di kediaman Bangsawan Voldermon. Putri Marsha mengkronfontasiku, Mengatakan bahwa Aku adalah pembawa masalah. Bangsawan Voldermon sampai terluka seperti ini karena Aku.
Dia mengompori Pangeran untuk mengusirku pergi. Namun Aku beruntung. Pangeran Riana tidak mengindahkan perkataan Putri Marsha. Malah Dia menyuruh Putri Marsha pulang dan tidak menganggu ketenangan di kediaman Bangsawan Voldermon.
Seminggu kemudian, Bangsawan Voldermon sudah berangsur-angsur pulih walaupun lengan kirinya masih harus di bebat perban.
Aku bersama Bangsawan Voldermon duduk di balkon. Pagi ini, setelah menganti perban dan mengoleskan obat, Aku menuntun Bangsawan Voldermon untuk duduk di balkon sembari menikmati sarapan yang telah di sediakan pelayan.
"Kau terluka di tangan kirimu, Namun kenapa Aku merasa Kau seperti terluka di tangan kananmu" Sindirku ketika menyuapi Bangsawan Voldermon. Karena rasa bersalahku, Aku bersedia menjadi pelayan Bangsawan Voldermon sampai Dia sembuh. Setiap hari Aku membantunya untuk mengobati lukanya, menganti perbannya dan juga menyuapinya atau membacakan buku.
__ADS_1