
Aku bangun dari tidurku. Pangeran Riana masih tidur di sampingku. Perlahan Aku mengangkat tangannya yang memelukku. Dengan sangat berhati-hati Aku melepaskan diri darinya. Pintu kamar sedikit terbuka. Mungkin Ferlay tadi datang dan menengokku.
Aku turun dari tempat tidur. Berjalan menuju kamar mandi dan mandi. Saat Aku keluar, Pangeran sudah tidak ada di tempatnya. Aku mengambil pakaian di lemari. Mengelung rambutku dengan gelungan asal di atas tengkuk. Aku mengenakan make up tipis. Berjalan keluar dan menemukan Ferlay sudah berlarian di sepanjang koridor.
Segera Aku menangkapnya dan mengangkatnya ke kamar. Aku memandikan Ferlay. Agak repot saat Aku harus mengejar Dia ketika mengenakan pakaian. George sudah berkeliling di meja makan. Menyiapkan sarapan sementara Nenek menyusun makanan di atas piring.
"Sudah cukup main-mainnya. Ayo kita sarapan. Ada teman-teman Mama di sana. Bersikap sopanlah" Kataku setelah selesai menyisir rambut Ferlay.
Aku mengandeng Ferlay menuju meja makan. Bangsawan Voldermon duduk dengan wajah mengantuk. Di sampingnya sudah ada Bangsawan Asry dan Xasfir. Pangeran Riana menyusul tidak berapa lama setelah Aku mendudukan Ferlay di sampingku.
"Aku sangat penasaran. Siapa si kecil ini" Tanya Bangsawan Voldermon sembari menunjuk ke arah Ferlay.
"Namaku adalah Ferlay. Aku anak dari ayah Lekky dan bunda Camila. Juga anak dari Mama Yuki dan...." Ferlay tampak berpikir sejenak. Lalu berbalik menatapku dengan matanya yang polos.
Aku selalu takut jika Ferlay menatapku seperti ini. Yang artinya akan ada pertanyaan darinya yang harus kujawab. Dia akan terus bertanya sampai Dia puas. Kadang merupakan pertanyaan mudah tapi lebih seringnya Dia memberiku pertanyaan sulit. Seperti kenapa Aku mengalami datang bulan sedangkan ayahnya tidak. Kenapa bumi itu bulat tidak kotak, lonjong atau persegi. Aku selalu kebinggungan untuk menemukan jawaban yang dapat di cerna olehnya.
Biasanya jika Ferlay sudah seperti ini. Lekky akan memilih kabur menjauh. Benar-benar Ayah yang bertanggung jawab.
"Ma..siapa nama suami Mama. Kata Nenek, Mama sudah berbaikan dengan suami Mama"
Deg
Sontak Aku merasakan ketegangan di meja makan. Ferlay seolah tidak menyadarinya. Dia tetap memandangku dengan pandangan yang polos. Menunggu jawaban dariku.
"Sera Madza" Bisikku lirih. Aku tidak berani melihat Pangeran Riana ketika menjawab.
"Ya..Aku anak dari Mama Yuki dan Ayah Sera. Bukankah begitu Mama ?"
"Ya benar"
Aku mengambilkan nasi ke piring Ferlay. Berharap Dia tidak mengajukan pertanyaan lagi seputar Pangeran Sera.
__ADS_1
"Ma..Katanya Mama sudah berbaikan. Tapi kenapa Dia tidak datang kemari"
"Dia sedang sibuk mengurus pasukannya. Kami mempunyai tugas yang berbeda. Jadi jika nanti situasi sudah baik Aku akan membawanya bertemu denganmu" Kataku sembari menyendokkan sayur pada piring Ferlay.
"Benarkah Ma...Kau janji akan mengajakku menemuinya"
"Tentu saja"
Wajah Pangeran Riana tampak tidak senang saat Kami membahas Pangeran Sera. Rahangnya terkatup rapat.
Aku berdoa dalam hati. Berharap Ferlay tidak lagi menanyakan pertanyaan riskan seperti itu.
"Ma..Suamimu.."
George berdehem di sebelah Kami. Memutuskan obrolan. Dia meletakan sebungkus permen di piring Ferlay. "Nona Yuki, Aku menemukan ini untuk Tuan muda sebagai pencuci mulut ketika di pasar, aku harap Tuan muda Ferlay akan menyukainya"
Ferlay langsung menerimanya dengan antusias.
"Kau yang terbaik George. Terimakasih"
Setidaknya George sudah memutuskan pertanyaan Ferlay mengenai Pangeran Sera. Aku menyukai George. Dia seorang kepala pelayan terlatih yang dapat diandalkan. Sudah setia menemani Lekky selama 13 tahun ini.
Ferlay menatap permen itu dengan perasaan senang. Dari ekpresinya Aku yakin permen itu akan jadi menu pembuka, hidangan utama sekaligus penutupnya. Aku menatap George dengan pandangan berterima kasih.
"Kau tidak boleh memakan semua sampai menghabiskan semua makananmu" Kataku kepada Ferlay dengan sikap tegas.
"Tapi Mama.."
"Tidak ada tapi-tapian..." Kataku mencoba menghentikan perdebatan. Aku membantu Ferlay makan. Sementara yang lain sudah menikmati makanannya.
"Mama...Mama" Ferlay kembali menatapku dengan pandangan polosnya. Aku mendesah. Berharap Dia tidak bertanya sesuatu yang buruk kali ini.
__ADS_1
"Ya sayang"
"Ma..Kata Nenek Mama sedang mengandung seorang adik bayi. Apakah itu benar"
"Ya...Dia akan menjadi adikmu nanti. Kau bisa bermain bersamanya jika Dia sudah lahir"
"Benarkah Ma ?"
"Ya tentu..."
"Ma...Apakah punya anak itu menyenangkan ?"
"Ya tentu saja. Seperti Mama punya Ferlay. Setiap hari sangat menyenangkan"
"Kalau begitu Aku juga ingin membuat anak sendiri. Ma...Bagaimana caranya sampai Mama bisa hamil"
Bangsawan Voldermon terbatuk di depanku. Aku langsung mengulurkan segelas air putih padanya. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Bangsawan Asry terlihat berusaha menahan tawa melihatku yang kebingungan.
Aku menatap Ferlay sejenak. Memikirkan jawaban apa yang baik kuberikan padanya. Aku tidak mau membohonginya dengan cerita adik bayi di bawa oleh burung bangau dari rumah ke rumah seperti yang di lakukan Mama saat Aku masih kecil dulu.
"Kau belum bisa membuat adik bayi sendiri"
"Kenapa ?"
"Adik bayi hanya bisa di buat oleh dua orang yang sudah menikah. Seperti Ayahmu dengan Ibumu. Atau Kakek bersama Nenek. Setelah Mereka menikah, Mereka akan tidur bersama dalam satu ruangan. Setelah itu adik Bayi bisa muncul"
Aku merasa jengah saat harus menceritakan hal ini di depan Mereka semua. Rasanya wajahku merah padam menahan malu.
"Jadi kita harus menikah dulu baru bisa tidur bersama ya Ma ya.."
"Iya benar. Kau harus menjadi dewasa dan cukup umur dulu untuk bisa menikah dan memiliki adik bayi sendiri"
__ADS_1
"Tapi Ma, Kenapa tadi pagi Aku lihat Mama tidur bersama kakak itu. Bukankah Mama bilang suami Mama tidak ada si sini. Kata Mama kita harus menikah dulu supaya bisa tidur bersama"
Aku membuka mulutku tak percaya dengan pertanyaan polos Ferlay. Rasanya Aku ingin pergi dan melarikan diri dari sini.