
Keesokkan paginya.
Elle sudah terlihat cantik seperti biasa dengan seragam sekolahnya. Gadis itu mengoleskan lipbam di bibir. Menonyong-monyongkan bibir itu di depan cermin, lalu tersenyum.
"Oke, Daddy pasti suka melihatku kalau sudah cantik begini." Memutar tubuh, berlenggok di depan cermin.
Gadis itu keluar dari kamar dengan wajah ceria tak sabar bertemu dengan daddy-nya. Mungkin ia yang harus mengalah dan meminta maaf, pikirnya
"Pagi, Mis," sapa Elle.
"Pagi, wajahmu berseri sekali," ucap Carla.
"Daddy belum keluar dari kamar?" tanyanya.
Carla mengerutkan kening, ia pikir lelaki itu sudah pamit pada gadis tercintanya. Baru saja Carla akan bersuara, Elle beranjak dari tempatnya.
"Daddy pasti belum bangun, aku bangunkan dia." Elle pergi menuju kamar Axel. "Daddy, apa Daddy belum bangun?" tanya Elle di depan pintu, karena tak ada jawaban ia memegang kenop pintu lalu mebukanya. Kamar itu terlihat kosong. "Daddy? Apa, daddy di dalam sana?" tanyanya lagi di depan pintu kamar mandi. Lagi-lagi terlihat kosong saat Elle membukanya.
"Tuan sudah pergi pagi tadi sebelum Nona bangun, apa ada masalah?" tanya Carla.
__ADS_1
Elle tak menjawab, wajahnya sudah merah karena hampir menangis. "Aku berangkat kalau begitu." Elle meraih tasnya lalu pergi.
"Ini sarapannya," teriak Carla. Elle hanya melayangkan tangan ke udara tanda ia menolaknya. "Kasihan sekali kamu, Ell," lirih Carla.
_
"Tuan mau berangkat sekarang?" tanya Carla, "tapi aku belum buat sarapan," ucapnya lagi.
"Aku sarapan di kantor saja, bilang pada Elle tidak usah menunggu kepulangkanku, aku mau mampir ke club selepas pulang dari kantor. Pastikan dia makan, jangan sampai seperti kemarin," pesannya.
_
Axel menyiapkan supir sebelum dirinya pergi tadi pagi.
"Non, Nona?" panggil Carla.
"Ada apa, Mis? Aku harus segera berangkat," jawab Elle melongokkan wajah di jendela mobil.
"Ini, untuk sarapan di mobil. Nanti Tuan marah kalau Non tidak sarapan. Dari kemarin loh, Nona belum makan," jelas Carla.
__ADS_1
"Aku tidak lapar, selera makanku hilang. Aku pergi dulu." Elle menutup jendela pintu. "Jalan, Pak," ucapnya pada supir.
* * *
"Masih marah?" tanya Jose pada Axel.
"Tidak!" jawab Axel ketus.
"Gadis itu tidak akan mau tidur dengan daddy-nya, kenapa tidak jujur saja? Bilang kalau Tuan itu bukan ayah kandungnya, setidaknya ia tidak merasa bersalah dengan kelakuan kalian. Sebentar lagi dia 17 tahun dan lulus sekolah, sekalian saja nikahi," ujar Jose.
Axel tidak menanggapi usul Jose, ia malah menyibukkan diri di depan laptopnya. "Apa jadwalku hari ini? Dan kapan rencana untuk mengambil alih risort itu?"
"Sepertinya agak sulit untuk mengambil alih risort itu, aku rasa nona Ell bisa melakukan itu. Kenapa tidak dibiarkan nona Ell tau soal ayahnya? Dan Tuan bisa jujur dengan ini 'kan?"
"Jangan bikin tambah pusing kepalaku, Jose. Bagaimana caranya Elle mau menuruti keinginanku? Aku ingin menguasai hidupnya sehingga hanya ada namaku dalam hatinya."
"Cinta, lakukan itu semua dengan cinta," usul Jose.
"Cinta? Aku bukan ABG yang melakukan semuanya dengan cinta, cintaku sudah mati di bawa Hanna, tujuanku hanya satu buat hidup Leo hancur," kata Axel. Cintanya memang begitu besar pada mendiang istrinya, dan kehadiran Elle membuat malapetaka baginya.
__ADS_1
Seharian, mereka sibuk dengan pekerjaan. Axel merasa tubuhnya sangat lelah ia putuskan untuk pulang dan tadi ke club.