Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Episode_046


__ADS_3

Keesokan paginya.


Axel terbangun lebih dulu, ia mengecek keadaan Elle. Menyentuh keningnya, untung panasnya sudah turun. Menatap wajah itu dengan sendu, mengusap pipi mulus itu dengan lembut. Elle masih tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu sedikit pun.


Kekhawatirannya mereda, ia langsung beranjak dari tempatnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena akan ke kantor hari ini. Hari yang paling menyebalkan karena harus bertemu dengan Olan. Ia tidak tahu kalau ternyata umur pria itu jauh lebih muda darinya. Apa lagi, umur Olan lebih cocok bersanding dengan Elle.


Pria itu berumur 23 tahun, dan sudah menjadi pengusaha sukses dibidang properti. Pria itu mengajak kerja sama karena tertarik dengan risort yang berada di Zumpango. Axel memiliki risort yang satunya lagi di sana, yang satunya berhasil direbut oleh Leo. Dan risort itu semakin bersinar. Axel harus bisa merebut kembali risort itu, apa pun caranya.


Setelah beberapa saat di kamar mandi, tubuhnya menjadi segar bugar. Apa lagi dengan pelepasan semalam dan di kantor kemarin siang. Tubuhnya terasa ringan dan bersemangat. Saat kembali ke kamar, ia melihat Elle sudah terbangun tapi masih rebahan dan sedang berselancar dengan benda pipihnya.


Elle yang melihat suaminya kembali, ia pun menyudahi aktivitasnya bermain ponsel. Ia tahu kalau hari ini suaminya akan pergi ke kantor. Elle berniat untuk mengambilkan baju kantor suaminya yang masih berada di kamar milik Axel.


"Tetap pada tempatmu, Daddy tidak mau kamu banyak gerak," ucap Axel.


"Kenapa?" tanya Elle bingung, "oh iya, terima kasih sudah memakaikanku baju," ucapnya.


"Sudah baikkan?" tanya Axel, "semalam tubuhmu panas, Daddy sangat khawatir."

__ADS_1


"Aku sudah tidak apa-apa, Daddy. Hanya ini masih sakit." Elle menyentuh bagian bawahnya, "aku bantu Daddy siapkan baju."


"Tidak usah, Carla sudah menyiapkannya. Kamu istirahat saja, Daddy keluar dulu." Masih menggunakan handuk Axel keluar dari kamar Elle menuju kamar miliknya. Axel berencana untuk memindahkan barang-barang Elle ke kamarnya. Ia tak ingin meninggalkan Elle di kamar sendirian jika ia sedang bekerja di rumah.


* * *


Axel memakai baju kantor di kamar miliknya, saat sedang mengancingkan kemeja, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ia tahu siapa pemilik tubuh itu. Sontak, Axel membalikkan tubuhnya. Dan mereka saling berhadapan dengan posisi Elle yang masih memeluknya. Elle meneruskan aktivitas Axel yang terhenti, tangannya mulai mengancingkan kemeja itu. Meraih dasi yang tergeletak di kasur dan mengalungkan di kerah baju suaminya.


Elle belajar menjadi istri yang baik. Axel tersenyum dengan tingkah Elle yang sudah seperti istri sungguhan. Tunggu! Elle 'kan memang istri sungguhan. Pikirnya, Elle memang istrinya dan pernikahan ini bukan main-main, mereka menikah sungguhan bukan pernikahan di atas kertas.


"Kenapa? Apa kamu akan merindukan, Daddy, hmm?" Tanyanya seraya mencium bibir Elle sekilas.


Elle mengalungkan tangan di leher Axel, dan pria itu menempelkan keningnya di kening Elle. Tatapan mereka begitu dalam. Terlebih dengan Elle karena gadis itu begitu mencintai suaminya.


"Apa ada larangan merindukan suaminya?" tanya Elle, "Daddy itu suamiku, wajar kalau aku ingin tau kepulangan suamiku."


"Daddy usahakan pulang cepat, hari ini akan ada pertemuan dengan Olan," jelas Axel.

__ADS_1


"Janji langsung pulang?" tanya Elle.


"Iya, Daddy janji. Kamu belum mandi?" Elle menggelengkan kepala, ia akan mandi setelah suaminya berangkat ke kantor.


* * *


Elle menemani Axel sarapan, dan sesekali Carla mencuri pandang. Sungguh romantisnya melihat mereka berdua, Axel menyuapi roti ke dalam mulut Elle. Andai ia sudah menikah, tentu ia dapat merasakan keromantisan setiap paginya.


Carla semakin ingin cepat-cepat menikah, tapi entah dengam siapa. Menunggu seseorang menyatakan cinta padanya, tapi ia rasa itu mustahil. Pria yang ia sukai tidak menunjukkan rasa suka padanya. Sudah takdir, Carla menerima takdirnya yang menjadi perawan tua.


Setelah sarapan, Elle mengantar suaminya ke depan. Mereka saling berpelukan sebelum berpisah, berciuman di depan para jomblo sejati. Carla dan Jose menyaksikan itu.


"Tidak tau tempat, setidaknya menganggapku ada di sini," gumam Jose.


"Makanya menikah biar bisa begitu," celetuk Axel yang mendengar ucapan Jose. Elle pun terkekeh dengan pria matang berstatus jomblo itu. "Sayang, Daddy berangkat dulu." Lagi-lagi Axel mencium Elle di hadapan Jose.


Jose yang tidak mau melihat, ia langsung ke mobil lebih dulu dan menunggunya di sana.

__ADS_1


__ADS_2