
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Olan saat sudah jauh dari orang-orang yang mengejarnya. Elle tidak menjawab, gadis itu ketakutan. Kenapa orang-orang berniat jahat padanya? Ia tidak tahu apa-apa soal permasalahan orang tuanya.
Olan yang menyadari keadaan Elle pun tak lagi banyak bertanya. Tempat paling aman saat ini mungkin adalah rumahnya. Karena Elle tidak mungkin mau diantar pulang. Elle menangis sesegukkan. Saat dalam perjalanan, Olan hanya mendengar tangisan. Ia tidak tahu harus melakukan apa? Ia hanya fokus pada kendaraannya.
Sesampainya di kediaman Olan, lama mereka berada di dalam mobil. Menunggu Elle terhenti dari tangisan dan menunggu gadis itu tenang. Elle menangis dalam keadaan tangan menelungkup di wajah, sadar akan tangisannya ia melepas tangannya dan melihat di sekeliling yang tak ia kenali. Lalu melihat Olan tengah berselancar dengan benda pipihnya.
"Sudah nangisnya?" tanya Olan saat sadar tak lagi mendengar suara tangisan, "ayo turun," ajaknya. Olan lebih dulu turun dari mobil. "Masih mau di dalam mobil?" tanya Olan menundukkan kepala ke arah dalam mobilnya karena Elle masih belum juga turun.
"Di mana ini?" tanya Elle saat sudah turun dari mobil.
"Rumah ku, maaf, aku membawamu kemari karena dari tadi kamu terus menangis."
__ADS_1
"Maaf sudah merepotkanmu, tapi aku tidak bisa berada di sini. Aku harus pergi." Elle menyentuh kepalanya yang terasa berat, dan tak lama, ia kembali jatuh pingsan. Untung dengan cepat Olan menangkap tubuhnya.
Olan membawa Elle masuk dan merebahkannya di kamar. "Gantikan pakaiannya," ucap Olan pada seorang asisten di sana, "beritau aku jika dia sudah sadar." Olan segera pergi dari sana.
* * *
Hari sudah sore, Axel masih berada di kantor.
Di toko bunga, Axel memilih bunga yang paling bagus dan mahal. Ia pikir Elle pasti akan suka dengan bunga yang ia berikan. Sesekali ia mencium aroma bunga, setelah membayarnya ia segera masuk ke dalam mobil. Di perjalanan sedikit terhambat karena kemacetan. Axel tiba di rumah pada pukul 7 malam.
Rumah sudah terlihat sepi, Carla pun sudah kembali ke tempat tinggalnya yang berada di belakang rumahnya. Makanan sudah tersaji di meja makan, Axel berpikir bahwa istrinya tengah menunggunya pulang.
__ADS_1
"Sayang, aku sudah pulang," ucap Axel. Tidak ada sahutan, Axel berlari kecil menaiki tangga. Barang-barang istrinya sudah ia pindahkan di kamarnya. Axel langsung masuk ke dalam kamar, kamar terlihat kosong. "Ell, Daddy pulang. Kamu di mana?" Axel membuka pintu kamar mandi. kosong tidak ada siapa-siapa.
"Apa di kamarnya?" gumamnya. Axel pergi ke kamar Elle, lagi-lagi kamar terlihat kosong. Panik, ia segera menghubungi nomor telepon yang biasa menjemput Elle. "Di mana? Apa kamu sudah menjemput istriku?" Axel semakin panik saat mendengar jawaban supir yang biasa menjemput istrinya.
Axel kembali mengemudi, pergi ke sekolah Elle karena supir mengatakan bahwa gadis itu ada pelajaran tambahan. Tunggu, pelajaran tambahan? Bukan ini penentuan kelulusan? Tidak mungkin ada pelajaran, pikirnya. "Jangan-jangan ..." Axel berpikir bahwa ini ada hubungannya dengan Leo, Axel mengepalkan tangan. Ia tahu kemana harus mencari laki-laki itu.
Sedangkan Elle, gadis itu sedang mengobrol dengan Olan. Olan mendesak siapa laki-laki yang sudah menghamilinya. Pria itu terkejut, hampir saja jantungnya kumat setelah mendengar bahwa Axel lah ayah dari anak yang di kandungnya.
"Ya, aku tidak tau harus kemana. Pria yang menikahiku ternyata berniat jahat, berpura-pura mencintaiku hanya untuk menghancurkanku," lirih Elle, ia sudah menceritakan semuanya tentang Axel dan dendam laki-laki itu kepada orang tuanya.
"Tapi dia suamimu, anak yang kamu kandung membutuhkannya. Aku rasa dendam itu akan hilang setelah tau kehamilanmu, pulanglah. Beri dia kesempatan, aku akan mengantarmu pulang. Setidaknya dia tau bahwa kamu sedang hamil, aku akan menghubunginya." Meski berat, Olan mencoba ikhlas karena ia menaruh hati pada gadis kecil itu.
__ADS_1