Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Episode_044


__ADS_3

"Jose, kamu dengar perkataanku?"


"De-dengar, Tuan. Tapi Tuan sudah menandatangani perjanjian kerja sama itu, Tuan Olan juga sudah setuju," jelas Jose.


"Sial," rutuk Axel.


"Jangan marah-marah terus, itu membuatku takut." Elle menyandarkan kepala di pundak suaminya dan Axel mencium pucuk kepala gadis kecilnya itu.


Tak lama, mereka sampai. Elle teringat akan sprai yang kotor itu. "Daddy, apa sprai itu dibawa?" tanyanya.


"Biarkan saja, nanti ada yang mencucinya, Daddy cape mau istirahat. Ayo?" ajaknya, Axel meraih tangan Elle dan mengajaknya untuk segera masuk.


"Daddy ...," rengek Elle.


"Apa lagi?"


"Aku mau mencucinya sendiri, malu kalau sampai Mis Carla tau."


"Kenapa harus malu? Kamu itu sudah bersuami, wajar kalau sudah melakukannya." Axel pusing sendiri. Gadis itu terlalu kekeh, belum lagi memikirkan Olan yang sepertinya menaruh hati pada Elle.


Elle langsung terdiam karena perkataan Axel seakan membentaknya, gadis itu menunduk. Kenapa sang daddy tidak mengerti akan dirinya? "Kenapa diam saja? Kamu masih tetep mau mencucinya sendiri?" Elle tetap diam.


"Jose, berikan itu padanya," kata Axel soal paper bag yang berisi sprai kotor. Dan Axel langsung masuk ke dalam.


"Uncle, mana?" pinta Elle.

__ADS_1


"Memangnya itu apa, Non Ell?" tanya Jose penasaran, dan itu menjadi masalah pertengkaran kecil di antara mereka.


"Hanya pakaian kotor." Elle meraih paper bag itu dan langsung membawanya ke tempat pencucian.


_


_


_


"Di mana Elle?" tanya Axel pada Jose.


"Di tempat pencucian," jawab Jose.


"Kamu membiarkannya? Ini sudah malam, apa selama itu mencucinya?" Axel menemui Elle, dan benar saja gadis itu masih mencucinya. Tidak pernah mencuci pakaian buat Elle membutuhkan waktu lama sampai sprai itu bersih kembali.


"Carla ...," teriak Axel.


"Ya, Tuan." Carla pun tiba.


"Bereskan itu," ucapnya, menunjuk ke arah Elle yang sedang mencuci.


"Non Ell sedang apa? Ini terlalu banyak detergen," kata Carla, "sudah tinggalkan saja, biar Mis yang membereskannya."


Elle pun mencuci tangan karena sudah menyerah, ternyata tidak mudah mengerjakan pekerjaan rumah. Seluruh tubuh Elle pun basah, dan gadis itu sedikit menggigil.

__ADS_1


Axel meraih handuk yang menggantung lalu memakaikannya di tubuh Elle. "Lain kali jangan bandel, jangan memaksakan diri jika memang tidak bisa, Daddy tidak mau kamu mengerjakan pekerjaan rumah, nanti tanganmu kasar," ujar Axel. Pria itu menggendong tubuh Elle.


Sedangkan Carla hanya bisa menatapnya tanpa bersuara, melihat perhatian kecil itu membuatnya tersenyum.


* * *


Sesampainya di kamar, Elle langsung mengganti baju dengan pakaian baju tidur yang menerawang tubuhnya. Lalu menghampiri Axel yang sudah dulu terbaring di tempat tidur. Pria itu tersenyum saat melihat penampilan istri kecilnya.


Elle masuk ke dalam selimut dan langsung disusul oleh Axel. Memeluk tubuh mungil itu dengan hangat. Elle menatap wajah tampan sang suami. Axel menciumi wajah cantiknya bertubi-tubi.


"Daddy, ini masih sakit," kata Elle, gadis itu tahu apa yang akan terjadi malam ini.


"Daddy akan melakukannya dengan lembut," bisiknya. Axel meraih dagu dan mengecup bibir gadis itu dengan dalam.


Malam-malam seperti ini sangat dirindukan oleh Axel. Mereka kembali bercinta malam ini. Malam yang hangat membuatnya terobati akan pengkhianatan itu.


"Daddy," bisik Elle.


"Ya, honey."


"Apa Daddy mencintaiku?"


Pertanyaan Elle menghentikan aktivitas Axel yang sedang menyesap ujung gunung kembar miliknya. Lagi-lagi Axel belum bisa menjawab pertanyaan itu. Harus ada cinta? Axel rasa tidak perlu ada cinta jika saling membutuhkan seperti ini.


"Daddy ...," desak Elle.

__ADS_1


"Ya, Daddy cinta." Axel kembali melanjutkan aktivitas panasnya. Elle pun tak kalah semangat karena sudah mendengar pengakuan suaminya. Gadis itu yang memimpin permainan, ia ingin Axel benar-benar mencintainya.


__ADS_2