
"Suster," teriak Olan setibanya di rumah sakit. Petugas di sana mendorong branker kearah Olan, dan pria itu segera merebahkan Elle. Pasien dibawa ke UGD. Olan terlihat khawatir, ia panik karena tidak tahu harus berbuat apa.
"Maaf, Tuan. Tolong diurus administrasinya," ucap suster, "dan tolong formulir ini diisi." Suster memberikan formulir untuk mengisi data pasien. Olan melengkapi data atas nama dirinya sebagai keluarga. Mempermudah penanganan agar tidak tersendat.
Setelah diperiksa, dokter pun keluar dan menghampiri Olan. Dokter itu melihat Olan dari ujung kaki sampai ujung kepala, menyimpulkan bahwa lelaki itu mungkin kekasih pasien.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya dokter. Olan mengangguk lalu mengikuti dokter ke ruangannya.
"Silahkan duduk," ucap dokter. Olan mendudukkan diri lalu menatap wajah dokter dengan serius. "Jadi begini, hasil pemeriksaan bahwa pasien tengah hamil." Olan terkejut mendengarnya karena gadis itu masih berstatus pelajar, menyimpulkan bahwa ini kenakalan remaja.
"Berapa usia kandungannya, Dok?" tanya Olan.
"2 minggu, kandungannya masih rentan. Kalau bisa tolong dijaga," jelas dokter, "dan jangan melakukan hubungan sebelum usia kandungannya kuat."
"Saya buk-." Ucap Olan terhenti karena suster datang ke ruangan untuk memberitahukan bahwa pasien sudah sadar.
* * *
Elle tengah duduk bersandar di sandaran brankar, kepalanya masih terasa pusing. Olan pun belum menanyakan perihal kehamilan gadis tersebut.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Olan.
__ADS_1
"Pusing," jawab Elle, "terima kasih sudah membawaku ke sini."
"Hmm," jawab singkat Olan, "ada sesuatu yang kamu inginkan?" Elle menggelengkan kepala. "Kalau begitu, aku akan menghubungi daddy-mu." Olan hendak mengambil ponsel di dalam saku.
"Jangan." Ucap Elle menghentikan Olan saat akan mengambil ponselnya. "Jangan beritau daddy, ku mohon!" Elle mengatupkan tangan di dada.
"Kenapa? Daddy-mu harus tau soal ini, apa lagi kehamilanmu."
"Ha-hamil?" ulang Elle.
"Iya, kamu hamil. Apa kamu sendiri belum tau soal kehamilanmu?" Lagi-lagi Elle menggelengkan kepala. Elle tidak ingin suaminya tau keberadaannya, ia terlanjur sakit hati karena yang ia tahu lelaki itu menikahinya karena dedam. Jadi untuk apa lelaki itu tahu soal kehamilannya? Pikirnya, belum tentu juga pria itu peduli padanya. Axel hanya menginginkan kehancuran dalam hidup Leo melalui dirinya.
"Tidak perlu, biar aku yang mengatakan ini. Aku hanya ingin sendiri saja untuk saat ini. Bisakah tinggalkan aku? Aku mau istirahat," pinta Elle, "jangan beritau daddy-ku soal ini."
"Baiklah, aku akan keluar sebentar. Nanti aku kembali." Olan pun keluar dari ruangan itu, ia berniat mencarikan makanan untuk Elle.
* * *
"Ada kabar bagus, aku mendapatinya di rumah sakit," ucap seseorang melalui panggilan telepon, "apa tuan akan kemari untuk menemuinya? Mumpung tidak ada Axel bersamanya." Leo menyuruh seseorang memantau Elle, dan berhasil keadaan sedang lengah.
Leo tahu semua tentang Elle, termasuk kehamilannya. Dengan senang hati, ia akan menemui anaknya. Ini kesempatannya untuk meyakinkan Elle bahwa Axel menjadikannya istri hanya untuk menghancurkannya.
__ADS_1
Leo segera ke rumah sakit, setibanya di sana ia mendapati Elle tengah istirahat. Lama ia berada di sana, duduk di kursi tepat di hadapannya. Saat Elle membuka mata, betapa terkejutnya ia melihat ayah kandungnya ada di hadapannya. Gadis itu beranjak mendudukkan diri.
"Se-sedang apa Anda di sini? Dari mana tau aku ada di sini?" tanya Elle.
"Tenanglah, sayang. Daddy tidak akan berbuat jahat padamu, Daddy akan melindungimu dari laki-laki itu."
"Pergi, tinggalkan aku di sini." Elle ketakutan, beberapa saat, beberapa orang datang berpakaian baju putih layaknya seorang dokter. "Mau apa kalian?" tanya Elle.
Orang-orang itu menghampiri Elle, dan satu orang berniat menyutiknya. "Apa yang akan kalian lakukan?" Elle berontak karena pirasatnya tidak enak. Panik, Elle langsung menendang tangan yang tengah memegang jarum sutik, suntikan itu terjatuh ke lantai. Dengan cepat Elle melepaskan diri, turun dari brankar dan segera keluar. Berlari sekuat mungkin.
Keluar dari rumah sakit.
Ciiitttt ....
Suara ban mobil berdecit pada jalan, hampir Elle tertabrak. Orang berseragam putih itu mengejarnya, Elle langsung masuk ke dalam mobil tersebut, tanpa disadari bahwa Olan-lah yang mengemudi mobil tersebut.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Olan. Bersyukur, Elle masih diberi keselamatan.
"Cepat jalan, orang-orang itu berniat jahat padaku!" Elle melihat ke arah beberapa orang yang hampir tiba di dekat mobil yang ditumpanginya.
Olan pun langsung melajukan mobil.
__ADS_1