
Tiba-tiba, pintu terbuka. Dokter datang untuk memeriksa pasien. Axel pun beranjak dari posisinya yang sedang berlutut, menyeka air matanya yang masih berderai.
"Bagaimana, Dok?" tanya Axel setelah dokter memeriksa Elle.
"Kondisinya baik, cuma butuh istirahat yang cukup" jawab dokter. Axel bernapas lega.
"Lalu bagaimana dengan bayi kami?" tanya Axel lagi. Mendengar itu, Elle langsung menoleh ke arah dokter. Ia ingin melihat anaknya yang berjenis kela*in laki-laki.
"Untuk saat ini, bayi itu butuh penanganan khusus. Karena lahir secara prematur, dan harus berada di inkubator beberapa minggu," jelas dokter.
"Apa yang membuatnya lahir secara prematur?" tanya Axel, ia takut akan gizi yang kurang baik atau yang lainnya.
__ADS_1
"Terlalu banyak pikiran, itu faktor utama. Terlebih dengan usianya yang masih muda, kenapa tidak menundanya lebih dulu?" tanya dokter. Axel terdiam, tak bisa menjelaskannya kepada dokter itu. Rasa bersalahnya semakin besar kepada istri kecilnya. "Kalau boleh, biarkan pasien istirahat. Untuk beberapa jam ke depan dan jangan diganggu."
Axel mengangguk mengerti, pasca operasi memang seharusnya banyak istirahat. Setelah menjelaskan itu, dokter pamit undur diri. Kini tinggal mereka berdua di dalam ruangan itu. Elle membuang muka, ia tak ingin melihat suaminya. Meski rindu itu tak tertahankan, tapi ia selalu teringat akan balas dendamnya yang membuatnya begitu kecewa.
"Ell." Axel menghampirinya lebih dekat, mengusap kepala Elle dengan sangat lembut. Tapi Elle tak bergeming, jangankan untuk menjawab menoleh pun tidak. Hanya linangan air mata yang mewakili hatinya sekarang. "Tidurlah, Daddy mau melihat bayi kita. Nanti Daddy ke sini lagi untuk menemanimu." Axel mencium pucuk kepala Elle dengan dalam, mengusap pipi istrinya yang masih basah. Ia bisa memahami kondisi istrinya itu, untuk sementara ia membiarkan sikap Elle yang masih marah padanya.
_
_
_
__ADS_1
"Boleh, tapi gunakan pakaian khusus dulu," ucap dokter.
Setelah memakai pakaian khusus serta masker, Axel pun masuk ke ruang bayi. Menyentuh bayinya dari lobang kaca yang berada di pinggir, mengelus tangan mungil itu dengan lembut. "Anakku, kamu terlihat kecil sekali. Maafkan, Daddy," lirihnya, "apa selama dalam kandungan kamu merepotkan mommy, hmm? Apa kamu tidak merindukan, Daddy?" Axel membayangkan istrinya yang hamil tanpa didampingi dirinya, selama ngidam, apa saja yang diinginkannya? Ya Tuhan ... Axel kembali menangis, merutuki dirinya yang menjadi suami tidak tahu akan istrinya.
Merasa puas memandang wajah tampan mungil itu, ia kembali ke ruangan istrinya. Elle tertidur dengan pulas. Bahkan Axel sama sekali tak menghiraukan keberadaan Jose, Aletta, dan Zurran yang masih setia berada di sana.
Axel duduk di kursi, tepat di samping brankar. Menatap wajah yang ia rindukan selama beberapa bulan terakhir. Tak dapat menahan kesedihan, Axel kembali menangis. Terus menatap Elle dengan penuh penyesalan. "Kamu boleh menghukum Daddy, Ell. Tapi jangan lagi pergi dari hidupku. Aku mencintaimu," lirihnya.
Beberapa jam kemudian, Axel mulai mengantuk. Tapi sebisa mungkin ia menahan rasa kantuknya, ia benar-benar menunggu Elle terbangun tanpa mengganggunya. Sebenarnya, Elle sudah terbangun sejak Axel mulai menguap. Ia juga mendengar penuturan suaminya yang katanya begitu mencintainya.
Pria itu akan menerima hukuman apa pun darinya, dan inilah bentuk hukuman untuk Axel. Mendiamkan pria itu sampai jera, Elle akan menguji sampai mana suaminya bisa bertahan akan sikap diamnya.
__ADS_1