
Beberapa hari kemudian.
Tanpa sepengetahuan Olan, orang tuanya menemui Liona. Olan sudah mengatakan siapa diri Liona sesungguhnya. Gadis itu kembali menjadi perawat di sebuah rumah sakit. Tapi bukan di rumah sakit yang dulu.
Liona sedang mendata pasien, tiba-tiba ia terkejut mendapati orang tua dari kekasih palsunya itu. mereka tengah berjalan ke arahnya, Liona hendak menghindar karena. Sesungguhnya, ia tak ingin ada ikatan apa-apa dengan mereka. Ia juga sadar diri siapa dirinya.
"Liona?" panggil mama Olan.
Liona membalikkan tubuh lalu tersenyum tipis yang memang dipaksakan. "Tante," sapanya. "Maaf, aku tidak tau ada Tante di sini."
Mereka pun berbincang. Mamanya Olan mengajak Liona ke taman rumah sakit. Mama Olan melamar Liona, dan ia sangat terkejut. Kenapa harus orang tuanya langsung yang melamar? Aduh, bagaimana ini? Liona tak bisa menjawab.
"Mau ya? Tante sudah siapkan semuanya, bahkan surat undangan pun sudah siap."
Deg.
Liona langsung berkeringat dingin, ini tak bisa dibiarkan. Ia harus jujur bahwa ia dan Olan tak ada hubungan apa-apa. "Maaf, Tante. Sebenarnya, aku dan Olan-."
"Kalian rupanya di sini," pungkas Olan dan langsung duduk di samping Liona. Tangannya meraih pinggang kekasih palsunya itu dan memeprlihatkan gigi putihnya yang rapi sambil berkata. "Awas kamu kalau bongkar semuanya di sini sekarang," ancam Olan pelan dan tak terdengar oleh mamanya.
"Tante, aku mau bicara dulu dengannya." Mama Olan mengangguk. Liona beranjak dan menarik tangan pria itu. "Orang tuamu harus tau, kita tidak ada hubungan apa-apa. Mamamu melamarku." Ucapnya seraya menoleh ke arah wanita itu, dan mama olan tersenyum padanya.
__ADS_1
"Kalau kamu mengatakan semuanya sekarang, sama saja kamu membunuh mamaku. Dia punya penyakit jantung, dan untuk lamaran itu, kamu terima saja. Aku tidak tau kalau mereka sudah menyiapkan pernikahan kita. Surat undangan sudah jadi dan akan di sebar minggu ini," jelas Olan.
"Apa?" Liona terkejut, hampir saja ia jatuh pingsan karena shock. "Kepalaku pusing, kamu buat hidupku tambah kacau." Liona memijat keningnya sendiri.
"Aku akan melakukan apa pun, bila perlu membawa Loren ke rumah sakit yang lebih besar dan menjalani pengobatan di sana, kamu tidak perlu memikirkan biaya, aku juga akan melunasi hutang-hutangnya."
Bukan itu masalahnya, Liona tak ingin hidup dalam kebohongan. Tak ada cinta di antara mereka, sedangkan pernikahan adalah masalah serius. Menjadikan dua keluarga menjadi satu.
"Ayolah, apa kamu tidak kasihan melihatnya? Aku ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tua," kata Olan.
"Tapi kenapa harus aku yang terlibat denganmu? Kamu memanfaatkanku dengan kejadian kemarin." Liona jadi gemas sendiri, tapi di sisi lain ia juga kasihan melihat mama Olan. Wajahnya begitu ceria saat dia memintanya untuk menjadi menantunya.
Liona pasrah, ia serahkan hidupnya pada Olan, dengan jaminan bahwa Olan akan bertanggung jawab atas saudaranya yang kini tengah berada di rumah sakit. Ia juga bosan hidup dalam ancaman.
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
Axel tengah memegang sebuah undangan yang bertuliskan Olan dan Liona.
"Jose, kamu yakin Olan akan menikah? Memangnya dia punya pacar?" tanya Axel.
"Tuan itu bagaimana? Kalau tidak punya pacar mana mungkin menikah? Di situ kan tertulis nama mempelai wanitanya," jawab Jose sambil menggelengkan kepala. "Bukannya bagus kalau dia menikah? Tuan tidak perlu lagi cemburu padanya karena dia akan menikah."
__ADS_1
Axel pun akhirnya senang dengan kabar itu. "Liona? Apa mungkin Liona baby sitter Lexi?" tanya Axel lagi. "Terus yang mengembalikan perhiasan itu, Olan? Bukankah mereka sempat bertemu di rumahku?"
"Bisa jadi, biarkanlah itu bukan urusan kita," ucap Jose. "Kita ikut senang kalau mereka jadi pasangan."
Hari ini, Axel akan pulang lebih awal. Ia sudah janji akan mengajak Elle untuk makan malam. Dan untuk Lexi, untuk sementara ini Carla yang menjaga Lexi selama wanita itu belum mengandung. Jose pun setuju, karena sejak dulu Elle dan Carla tinggal bersama.
Axel pun akhirnya pulang. Ia merasa sedang menjalani hubungan seperti yang sedang pacaran. Semakin hari, Axel semakin cinta. Bahkan ia tak ingin lama-lama berjauhan dengan istrinya itu. Tak hanya jago di atas ranjang, Elle tumbuh menjadi sosok idaman kaum adam. Cantik, pintar, dan jago memasak.
Bahkan acara makan malam pun Elle sendiri yang memasak. Taman belakang rumahnya sudah didekor sebagus mungkin. Setiap hari, Axel selalu memanjakan istrinya dengan sikapnya yang lembut. Tapi sayang, Elle tak ingin menggelar pesta pernikahan, padahal Axel sangat berharap karena ia ingin semua orang tau bahwa gadis muda yang dulu tinggal bersamanya bukanlah anaknya. Melainkan istrinya.
"Daddy," ucap Elle saat suaminya tiba di rumah. Axel mencium bibir Elle lalu mengusapnya dengan ibu jari.
"Lexi di mana?" tanya Axel.
"Di atas sama Mis Carla, jadikan makan malamnya?"
"Jadi dong, Daddy juga sudah laper."
"Ya udah, kita ke taman belakang. Daddy bantu aku memasak." Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan. Setibanya di sana, tiba-tiba kepala Elle terasa pusing.
"Hoeekkk ....." Elle menutup mulutnya karena ingin muntah.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" Axel panik karena Elle seperti itu.