
"Hati-hati ya? Beri kabar jika sudah sampai," ucap ayah Letta.
"Iya, Daddy." Aletta memeluk sang ayah, lalu mereka masuk ke ruang pemeriksaan bersama Elle. Setelah itu mereka pun naik pesawat, sebentar lagi pesawat akan terbang. Mereka sudah sangat siap, sabuk pengaman sudah terkunci dengan baik.
"Are you, okey?" tanya Letta kepada Elle. Gadis itu terdiam bahkan menjatuhkan air matanya.
"Hmm, aku baik-baik saja, Ta. Semoga keputusanku benar," jawab Elle.
"Jangan sedih ya, kamu akan baik-baik saja tanpa suamimu," tutur Letta.
"Semoga saja." Jauh dari lubuk hatinya, ia tak menginginkan perpisahan. Akan tetapi, rasa sakit itu lebih besar dari cintanya. Tak sepatutnya ia terjerumus dengan keadaan seperti ini, andai ia tahu sejak awal. Cintanya hanya karena semata-mata ingin membalaskan rasa sakitnya.
Kenapa daddy begitu tega? Bahkan sampai aku mengandung begini, semoga daddy bahagia atas apa yang daddy lakukan. Dendam-mu sudah terbalas. Elle menatap jendela, melihat pemandangan saat pesawat mulai terbang.
* * *
Axel baru saja tiba di Bandara, dirinya terlambat. Elle sudah tidak ada, bahkan orang tua Aletta pun sudah pulang. Axel terus mencari istrinya sampai ia mengerahkan beberapa di sana. Sayang seribu sayang, ia tak dapat mengejar.
__ADS_1
"Kemana Elle pergi, Jose?" tanya Axel, ia berniat untuk menyusul.
"Bacalar Quintana Roo," jawab Jose, "dari jadwal penerbangan, non Ell pergi ke sana."
"Siapkan pesawat, aku akan menyusulnya." Memiliki pesawat pribadi membuat Axel lebih mudah bepergian termasuk menyusul ke kota kecil di sana.
Sesuai perintah, Jose melaksanakan apa yang diperintahkan. Tak membutuhkan waktu lama, Jose sudah menyiapkan sebuah kapal untuk diterbangkan. Axel bergerak cepat, semoga ia tidak terlambat lagi.
Beberapa jam kemudian, Elle sampai di kota Bacalar. Termasuk Axel, pria itu pun sudah sampai. Axel langsung menuju Bandara di sana, tidak ada Elle di sana. Padahal ia tepat berada di mana orang-orang baru sampai di sana. Apa ia kembali terlambat?
"Apa daddy ada di sini juga?" Elle mengedarkan pandangan, dan benar saja tak jauh dari Jose ia melihat sosok pria yang ia cintai. Dengan cepat, Elle bersembunyi. Ia benar-benar tak ingin bertemu, Elle berjongkok di dekat si penjual ice cream bahkan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Elle menghubungi Letta. "Ta, aku menunggu di dekat penjual ice cream. Aku tidak bisa kembali ke sana," jelas Elle.
"Kenapa? Kak Zurran sudah sampai."
"Ke sini saja, di sini ada daddy."
__ADS_1
"Daddy?" ulang Letta.
"Cepat! Jangan sampai suamiku melihatmu, please!!" Letta langsung menarik lengan Zurran. Pria itu sampai terheran-heran dengan aksi kekasihnya.
"Nanti aku jelaskan, Elle menunggu kita di sebrang jalan." Letta menutup kepala dengan ciput, menyembunyikan wajah dari Axel. Semoga pria itu tidak melihatnya. Bagaikan sedang kucing-kucingan, Letta dan Elle berhasil menghindari Axel.
* * *
"Aku gak nyangka, Ell. Suamimu pasti tau kepergian kita, kalau begini caranya aku ikut terseret, bagaimana kalau suamimu marah padaku?" ucap Letta.
"Aku rasa daddy tidak tau aku pergi bersamamu," kata Elle.
"Semoga saja," ujar Letta.
"Kalian membicarakan apa? Suami yang kamu maksud siapa?" tanya Zurran yang sedang menyetir, "Elle sudah menikah?" tanyanya kemudian.
"Iya, Kak. Ceritanya panjang, nanti kita jelaskan jika sudah sampai," sahut Letta.
__ADS_1