
"Lepas!!" seru Loren, ia menarik tangannya yang di genggam oleh Olan.
"Ini sudah kriminal, kamu mencuri perhiasan. Kamu ikut aku, aku akan menyerahkanmu pada polisi."
Loren menatap tajam wajah Olan. "Oke, aku akan ikut denganmu. Tapi biarkan aku menjula perhiasan ini, anggap aku sial bertemu denganmu."
"Enak saja, ini bukan milikmu. Perhiasan ini harus dikembalikan."
"Kalau kamu mau menjebloskanku ke dalam penjara, berikan aku sejumlah uang." Bukannya tak ingin rugi, jika akhirnya ia harus mendekam di penjara setidaknya ia bisa membayar tagihan rumah sakit.
"Semuanya tidak akan selesai dengan uang, Loren. Ayo ikut" ajak Olan.
"Oh ya? Apa tagihan rumah sakit akan selesai bila aku di penjara?"
Pertanyaan Loren membuat Olan terkejut, keningnya mengerut dan alisnya hampir menyatu. "Biarkan aku menjualnya, dan setelah itu terserahmu. Aku sudah pasrah." Setidaknya, jika ia berada di dalam penjara orang-orang yang menagih uang padanya tidak akan berani. Loren terjerat dengan seseorang, saudara kembarnya yang berhutang ia malah kena getahnya.
Tak ada yang tahu bahwa ia memiliki saudara kembar, dan ia harus menyelamatkan saudara kembarnya itu. Loren terpaksa mencuri perhiasan itu, ia pikir masalahnya tidak akan serumit ini.
"Siapa yang ada di rumah sakit?" tanya Olan.
"Bukan urusanmu," jawab Loren.
"Jual-lah, itu hasil curianmu. Dan setelah itu kamu harus ikut denganku."
Loren pun akhirnya menjual perhiasan itu, tanpa diketahui olehnya, Olan langsung menebus perhiasan itu untuk dikembalikan pada pemiliknya.
"Aku harus memastikan bahwa kamu tidak lari dari tanggung jawabmu," kata Olan setelah selesai penjualan perhiasan itu.
"Baik, kamu boleh ikut denganku ke rumah sakit."
Olan pun pergi ke rumah sakit untuk mengantar Loren. Setibanya di sana, Loren memang benar, ia membayar tagihan rumah sakit dengan jumlah yang tak sedikit. "Ini sisa uang penjualan perhiasan tadi." Loren memberikannya kepada Olan, "apa kita bisa langsung pergi ke kantor polisi." Loren berkata seperti itu karena ia tak ingin bertemu dengan orang-orang selalu menagih uang padanya.
Olan tak percaya, bahwa Loren tak sekeras dulu. Jika dulu, ia malah sering bertengkar dengannya. Tapi sekarang tidak, apa wanita itu sudah berubah? Pikirnya.
__ADS_1
Olan dan Loren berjalan menuju tempat parkir di mana mobil Olan berada di sana.
"Liona ...," teriak seorang pria. Tak sengaja, Loren bertemu dengan orang-orang itu. Loren menarik tangan Olan untuk segera pergi dari sana.
Olan bingung, pria tadi memanggil nama Liona, tapi kenapa Loren berusaha menghindar? "Hey, kenapa kita harus terburu-buru? Siapa Liona? Dia memanggil Liona, bukan memanggilmu," ujar Olan.
Tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya sekarang, yang dipikirkan Loren sekarang yaitu kabur. Orang-orang itu tak boleh tahu bahwa ia memiliki saudara kembar dan berada di rumah sakit saat ini.
_
_
_
Di tempat lain.
Elle tengah bersama Carla, mereka masih membicarakan soal Loren. Terlebih dengan kecurigaannya terhadap baby sitter itu.
"Apa mungkin Loren baby sitter gadungan?" tanya Carla.
"Daddy tidak mungkin menerima baby sitter sembarangan, sayang. Dia memang bekerja di rumah sakit. Dia seorang suster bayi, bahkan Daddy tau rumah sakit dia bekerja." Apa kata Axel memang benar, ia tak mungkin ceroboh apa lagi menyangkut keselamatan keluarganya. Dari pada penasaran, Axel pun menghubungi pihak rumah sakit.
Ia meminta alamat Loren untuk memastikan baby sitter itu. "Aku Axel, aku minta alamat Loren yang bekerja di rumahku sebagai baby sitter," ucap Axel pada sambungan telepon.
"Maaf, Tuan. Nama yang bekerja di rumah Tuan bukan Loren, tapi Liona. Dia bekerja sebagai baby sitter di rumah Anda? Apa ada masalah?" tanyanya di sebrang sana.
"Liona?" ulang Axel
"Ya, Liona."
Axel langsung menutup panggilan karena merasa aneh, yang benar yang mana? Liona apa Loren? Apa mereka orang yang berbeda? Pikirnya.
"Bagaimana? Apa katanya?" tanya Jose.
__ADS_1
"Ini aneh, suster tadi bilang namanya bukan Loren, tapi Liona. Apa mungkin mereka kembar?" duga Axel.
"Kalau mereka kembar, kenapa harus berganti identitas?" tanya Elle.
"Kita harus mencari wanita itu, Loren atau pun Liona, ada yang tidak beres dengan mereka," tutur Axel. Saat Axel dan Jose akan pergi, tiba-tiba seseorang datang. Berpakaian seperti kurir dan memberikan sebuah paket atas nama penerima itu adalah Grizelle.
Axel menerimanya lalu membawanya ke dalam karena berpikir mungkin istrinya yang memesannya. "Apa itu, Daddy?" tanya Elle.
"Bukankah ini milikmu?" tanya Axel. Elle menggelengkan kepala, ia merasa tidak memesan apa pun. Karena memang penasaran, Elle pun membukanya. Mereka semua terkejut saat mendapati bahwa perhiasan Elle telah kembali.
Olan yang memang menyuruh kurir toko itu untuk mengembalikan kepada pemiliknya. Semuanya berjalan sesuai perintah. Yang menjadi urusan Loren sekarang adalah dirinya, Loren kabur sewaktu menjadi perusak rumah tangga kakaknya.
* * *
"Siapa mereka? Kenapa memanggilmu Liona? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Olan.
"Itu bukan urusanmu, bukankah kamu memintaku untuk ke penjara? Bawalah aku ke sana, aku sudah pasrah," kata Loren.
"Kamu bukan Loren, Loren yang aku kenal keras kepala. Kamu Liona? Apa Loren saudara kembarmu? Apa yang berada di rumah sakit itu adalah Loren? Kamu menggantikan saudaramu, yang bersalah itu Loren, bukan dirimu."
"Tapi aku yang mencuri perhiasan, bukankah itu sudah bisa membuatku masuk penjara?"
"Semua orang tidak mau masuk penjara, tapi kenapa kamu malah ingin pergi ke sana?" tanya Olan.
"Aku sudah lelah, lelah dikejar-kejar seolah aku yang salah. Lebih baik aku berada di dalam penjara, aku juga sudah melunasi tagihan rumah sakit. Dengan begitu Loren akan segera dioperasi."
"Berarti dugaanku benar, kamu bukan Loren. Aku tidak akan menjebloskan orang tanpa kesalahan."
"Tapi aku pencuri, aku mencurinya." Akhirnya tangis Loren yang tak lain adalah Liona itu pecah. Ia sudah tak sanggup lagi menanggung beban itu, Liona rapuh. Selama ini ia berusaha kuat untuk menjaga saudara kembarnya yang jahat.
Olan menjadi kasihan kepada Loren yang tak lain adalah Liona. "Loren, maksudku Liona. Kamu tidak salah, kamu mencuri perhiasan itu karena situasi yang memaksamu. Aku kira kamu itu Loren, saudaramu hampir menghancurkan rumah tangga kakakku, makanya aku menyuruhmu berhenti dari tempat kerjamu. Aku takut kamu berniat menghancurkan keluarga mereka." Olan melihat ke arah Liona yang masih menangis.
"Kenapa tidak berkata jujur bahwa kamu itu Liona?"
__ADS_1
"Aku terpaksa melakukannya karena Loren terlalu banyak musuh, Loren terkapar di rumah sakit. Jika mereka tau Loren di sana, dia dalam bahaya. Loren keluargaku satu-satunya."
"Tapi aku tidak akan menjebloskanmu, Liona. Kamu tidak bersalah, yang salah itu Loren."