
"Tuan, Zurran," panggil dokter.
"Ya." Zurran mendekat, dokter mengira Zurran sebagai suami dari pasien.
"Istri Anda sudah melewati masa kritisnya, dan ..." Axel langsung meraih kerah baju Zurran dan menyeretnya.
"Apa maksud dari ucapan Dokter barusan? Kenapa Dokter itu mengiramu sabagai suami pasien?" Axel marah karena tidak rela jika pria itu dianggap suami pasien karena jelas-jelas ia sendiri suaminya. "Yang di dalam sana Elle 'kan? Dia itu istriku." Axel mencampakkan Zurran dan pria itu terhempas ke arah kiri, andai tidak berpikir akan kebradaannya mungkin Axel sudah menghajar pria itu.
"Tenang, ini rumah sakit. Pasien baik-baik saja, sebentar lagi dia sadar," jelas dokter.
"Istri saya sakit apa, Dok? Kenapa masuk ruangan ini?" Dokter terlihat bingung, katanya suaminya tapi kenapa istrinya melahirkan disangka sakit? Pikir dokter.
"Uncle, Elle tidak sakit. Dia ..." Lagi-lagi Axel menatapnya tajam, rasanya ingin marah. Aletta pun langsung menunduk.
"Tidak seharusnya sikap Anda seperti itu, pantas saja Elle meninggalkanmu. Mungkin sikapmu yang tidak stabil seperti orang gila!" cetus Zurran yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Kau ..." Aksi Axel dicegah oleh Jose.
"Tenang, Tuan. Biarkan Nona ini menjelaskan apa yang terjadi pada istri, Anda," kata Jose.
Aletta memberanikan diri, gadis itu menarik lengan Axel dan membawanya ke ruang bayi. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat Axel tak mampu berucap walau hanya sekedar mengomel.
"Uncle lihat bayi yang sangat mungil itu?" tanya Letta. Axel menatap bayi merah itu di balik kaca, lalu menatap ke arah Aletta. "Itu darah daging, Uncle. Itu jawaban kenapa Elle berada di sini," tuturnya.
"Darah dagingku?" Axel kembali menatap bayi mungil itu, tanpa terasa matanya berlinang air mata, "dia anakku?" tanyanya.
"Elle pergi meninggalkanku karena takut, sedangkan aku sendiri seperti orang gila karena kehilangannya." Luruh sudah air matanya, "Leo, ini semua karena lelaki brengsek itu." Tanpa diketahui bahwa Elle tahu semuanya dari mulutnya sendiri.
* * *
Elle sudah dipindahkan ke ruang rawat karena masa kritisnya sudah dilalui, gadis itu memang masih belum sadar sepenuhnya. Tapi dokter mengizinkan Axel masuk untuk menemani Elle di dalam sana. Menggenggam tangan Elle dengan erat, berharap istrinya akan segera sadar. Axel ingin melihat istrinya terbangun, dan yang pertama dilihatnya adalah dirinya.
__ADS_1
"Maafkan Daddy, Ell. Maaf sudah membuatmu berpikir bahwa Daddy menikahimu karena sebuah dendam. Tapi Daddy sangat mencintaimu." Axel menciumi jari jemari istrinya. Perlahan, tangan itu bergerak.
"Daddy ...," lirih Elle. Dalam lubuk hatinya, nama sang daddy masih tersimpan rapi. Meski tahu lelaki itu menikahinya karena dendam.
"Ell, ini Daddy, sayang." Axel menciumi wajah Elle bertubi-tubi. Perlahan Elle membuka mata, saat sadar apa yang dilihatnya ia langsung menarik tangannya yang di genggaman Axel. "Ini, Daddy. Suamimu," tutur Axel.
"Daddy." Akhirnya tangis Elle pecah, tak dapat menahan kerinduannya. "Anak kita." Elle meraba perutnya yang sudah rata.
"Anak kita sudah lahir, bayi kita jagoan." Sebuah pengakuan yang membuat Elle tersenyum, kian senyum itu memudar saat ingat awal kenapa pria itu menikahinya.
"Maafkan aku sudah melahirkan bayi ke dunia ini, pasti Daddy tidak menginginkannya bukan? Daddy membenciku 'kan? Biarkan aku merawatnya." Penuturan Elle membuat luka dalam hati Axel, pria itu pun akhirnya menangis.
Axel berlutut di sisi brankar, menelusupkan wajah di lengan istrinya. "Kenapa kamu beranggapan Daddy tidak menginginkan kehadiran malaikat dalam hidup kita? Tidak pantaskah Daddy memiliki anak darimu? Sebegitu buruknya-kah, Daddy?"
"Aku yang terlalu buruk lahir ke dunia ini, aku yang tidak pantas untuk, Daddy. Aku terlahir dari orang yang Daddy benci, lepaskan aku Daddy, biarkan aku hidup bersama anakku."
__ADS_1
"Kalian keluargku, sampai kapan pun kamu tetap akan menjadi istriku!" Elle semakin menangis saat mendengar pengakuan suaminya, belum berakhirkah dendamnya? Pikirnya.