
"Mulai saat ini hanya aku yang boleh menguasai kamar ini, termasuk, Daddy." Tidak ingin menyesal kemudian hari, Elle mengakui ketampanan dan kharisma lelaki yang tak muda lagi itu. Semakin tua semakin tampan, tak ada yang menyangka kalau umurnya sudah 2 kali lipat dari umurnya.
Axel tersenyum penuh arti. Ia melihat dari ujung kaki Elle yang mulus tanpa noda. Membelai pipinya, mengusap bibir dengan ibu jari. Menyelipkan tangan di leher gadis itu lalu menariknya dan mendekatkan pada wajahnya. Kembali menyesap benda kenyal itu.
Bagian tubuhnya sudah menegang bahkan sudah digesekkan di paha Elle. Ciuman semakin memanas. Tangannya mulai menjelajah di sekeliling tubuh gadis itu. Elle yang menikmatinya mulai merasakan lembab di bawah sana.
Axel memasukkan tangan lewat rok mini yang dikenakan Elle, menyelipkan tangan pada segitiganya. Mengusap lipatan kecil di dalamnya. Axel melepaskan tautannya lalu berbicara.
"Sudah basah, kamu benar-benar sudah siap?" tanya Axel.
Elle mengangguk tanpa ragu, ia pun menginginkannya. Menginginkan lebih dari apa yang pernah terjadi pada waktu dulu di kamar mandi. Axel menarik segitiga itu melepaskannya lalu membuangnya secara asal tergeletak di lantai. Axel menarik diri, memposisikan tubuhnya. Menyibak rok mini ke atas dan mengangkat satu kaki gadis itu dan meletakkannya di pundaknya.
__ADS_1
Hingga paha itu terbuka, nyaris terlihat jelas lipatan kecil milik gadis itu. Mengusapnya dengan jari, benar-benar sudah basah. Cairan lengket itu sudah mengenai tangannya.
"Ah ...," pekik Elle tertahan saat jari-jari itu menyusuri miliknya.
Axel menurunkan kaki itu dan mulai mencium lipatannya, memainkan lidah dan tangannya mulai meraba gunung di balik kain.
Napas Elle tersengal, menikmati apa yang dilakukan suaminya. Rasanya lebih nikmat dari yang kemarin. "Daddy ...," ucapnya tertahan, kemudian tubuhnya bergetar karena mencapai puncaknya. Axel yang sudah berpengalaman tentu tahu di mana titik kelemahan wanita.
"Ya, begitu, sayang." Axel puas karena gadis itu mulai tahu apa yang diinginkannya. Beberapa saat, Axel menarik diri, ia sudah dalam mode on. Tanpa aba-aba lagi, ia melepas semua pakaian Elle. Body bak gitar Spanyol, benda kenyal tanpa tulang itu sudah menantang dengan ujungnya yang sudah mengeras. Menyesap ujung itu dengan sangat lembut.
"Emmmpp ..." Elle menggigit bibir bawahnya sendiri, benar-benar menikmati perlakuan suaminya. Menjambak rambut pria itu dan terus menggigit bibirnya. Axel siap menancapkan kepemilikkannya. Meletakkan batangnya pada lobang kecil yang sudah berlendir.
__ADS_1
Sedikit demi sedikit, ia mendorongnya.
"Daddy ...," rintih Elle kesakitan. Axel menatap wajah gadis itu, sangat tegang dan terlihat ketakutan. Axel kembali menciumnya, menghilangkan ketakutan gadis itu. Elle menikmati ciuman dan sedikit rilex. Sedangkan Axel, ia tetap mendorong bagian bawah miliknya sedikit demi sedikit.
Elle mencengkram pundak suaminya, bahkan menyisakan bekas cakaran di sana. Rasa sakit itu menjalar, keringat sudah bercucuran. Sakit, perih, itu yang dirasakan Elle saat Axel berhasil menerobosnya. Perlahan, pinggulnya maju mundur. Menatap wajah Elle, dan gadis itu ternyata menangis.
"Hey, jangan menangis. Rasa sakit itu tidak akan lama, sebentar lagi akan berubah nikmat," ujar Axel, "Uh ... Milikmu begitu sempit, sayang. Milik Daddy terasa terjepit." Axel menikmatinya, ini berbeda dengan yang dilakukannya bersama Hanna dulu. Kini ia tahu bahwa dirinya bukan yang pertama dengan Hanna, rasa sakit hati itu muncul tapi mendadak hilang karena Elle bersamanya dan mengobati rasa kekecewaannya.
Darah mulai membasahi kain sprai, Elle menahan jeritan karena sakit. Axel benar-benar menikmatinya, ini pengalaman pertama saat mendapatkan yang benar-benar perawan.
Beberapa menit kemudian, keduanya mengerang. Elle semakin dibuat tak berdaya. Sakit dan nikmat menjadi satu.
__ADS_1