Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Eps_86


__ADS_3

"Kepalaku kok tiba-tiba pusing ya, perutku juga mual," kata Elle.


"Masuk angin, apa kamu belum makan?" tanyanya.


Elle menyentuh perutnya. "Apa jangan-jangan ..." Elle langsung tersenyum dan memeluk suaminya. Sedangkan Axel, pria itu kebingungan karena memang tidak tahu apa-apa.


"Kita ke dokter saja, Dad," ajak Elle.


"Apa perlu ke dokter? Kalau hanya masuk angin 'kan obat ada di kotak obat," ucap Axel.


"Daddy ...," protes Elle, lalu ia kembali menyentuh perutnya sambil diusap-usap. Kini, Axel baru mengerti. Pria itu senang, sampai-sampai meraih tubuh Elle menggendongnya lalu berputar.


"Serius?" Axel masih belum percaya.


Elle mengangguk karena bulan ini ia belum menstruasi. Axel segera mengajak istrinya ke dokter untuk memastikan. Karena hari sudah mulai gelap, Axel membawanya ke rumah sakit terdekat.


* * *


Rumah sakit.


"Sus, siapkan USG," ucap dokter.


Elle dan Axel belum menyadari bahwa perawat yang membantu Elle berbaring adalah Liona. Liona memakai masker sehingga Elle tak mengenalinya.


"Silahkan berbaring," kata Liona.


Elle menoleh ke arah wajah suster itu, ia mengenali suaranya. "Loren?" panggil Elle.


"Dia bukan Loren, tapi Liona," sahut dokter, "kalian pasti salah. Ya mereka kembar," ucapnya.


Liona menjadi gugup karena ia sudah bersalah, menjadi pencuri di rumahnya dan pergi begitu saja. "Maafkan saya, saya bersalah," kata Liona.


Elle tersenyum. "Ya, tidak apa-apa. Perhiasannya sudah kembali kok." Elle merebahkan tubuhnya di brankar dan Liona langsung memberikan gel di perut pasien.

__ADS_1


Sedangkan Axel, dia pun tidak mengatakan apa-apa. Terlebih, wanita itu akan menikah dengan Olan. Bertemu dengan Liona, Axel baru sadar bahwa ia belum mengatakan mengenai surat undangan itu pada istrinya.


Dokter mulai meletakan alat USG di perut Elle, sambil menjelaskan, Axel menyimaknya. Dia melihat layar monitor, meski tidak mengerti karena belum berbentuk. "Bagaimana, Dok? Istri saya hamil 'kan?" tanya Axel.


Dokter hanya tersenyum karena pemeriksaan belum selesai, belum ada bentuk sama sekali tapi sudah dipastikan kalau pasien memang hamil. Usia kandungannya pun baru 1 minggu, dan itu masih sangat rawan.


"Bagaimana, Dok?" Axel sudah tidak sabar mendengar penjelasan dokter.


"Daddy, sabar dulu," kata Elle.


Dokter melihat Axel dan Elle secara bergantian, pasangan suami istri yang umurnya terpaut jauh sekali, ia kira itu adalah adik atau anaknya. Tapi dokter langsung menjelaskan. "Iya, selamat untuk kalian. Usia kandungannya baru 1 minggu dan ini sangat rentan sekali. Apa lagi, sepertinya istri Anda baru selesai operasi. Ini harus dijaga dengan baik. Kalau boleh, jangan melakukan hubungan dulu untuk beberapa bulan."


Penjelasan dari dokter membuat Axel terkejut dan shock. "Beberapa bulan? Kira-kira berapa bulan, Dok?" tanya Axel.


"Tunggu sampai janin kuat, bisa sampai 3 atau 4 bulan," jelas dokter.


Ekspresi Axel langsung melohok, mana bisa ia menahan selama itu? Dekat dengan istrinya bawaannya panas dan sering ingin melakukannya. Bisa sakit kepala kalau selama itu, pikirnya.


"Daddy, benar kalau Liona akan menikah dengan Olan?" tanya Elle yang masih belum percaya.


"Iya, bahkan Daddy sudah dapat undangannya. Tapi, apa benar Daddy harus menunggu selama itu? 4 bulan?" Axel mengacungkan 4 jari ke arah wajah istrinya.


"4 bulan tidak lama, Daddy. Lagian, kata dokter tunggu janin kuat, aku rasa tidak akan sampai 4 bulan. Dibawa istirahat yang cukup dan jangan mengerjakan pekerjaan berat-berat itu bisa membantu kok, Daddy tidak usah khawatir seperti itu."


"Bukan gitu, sayang. Dekat-dekat denganmu bawaannya pengen ..." Elle langsung membekap mulut suaminya.


"Pengen apa? Selalau mesum."


"Tapi suka 'kan?" Axel membuka mulutnya, "terus, malam ini kita mulai libur?" Axel memastikan. Diangguki oleh Elle.


"Demi anak kita, Daddy berkorban ya? Tahan segala godaan." Elle tertawa dengan renyah.


Sedangkan Axel malah cemberut. Mereka berdua terus menyusuri lorong rumah sakit, sampai obrolan mereka terhenti saat melihat keberadaan Olan.

__ADS_1


"Daddy, bukan kah itu, Olan?" tanya Elle.


"Iya, sepertinya mau menjemput Loren. Eh, maksudnya Liona," jawab Axel.


Elle menyapa Olan di sana. Axel, ya tetap Axel. Meski Olan akan menikah, ia masih cemburu kalau melihat istrinya bersama Olan. Apa lagi, Elle sangat ceria saat menyapa calon pengantin itu.


"Mau jemput Liona ya?" tanya Elle.


"Kok tau? Kalian kenapa bisa ada di sini?" tanya Olan.


Elle mau pun Axel tidak menjawab. Bumil itu hanya menyentuh perut sambil mengusapnya.


"Wah ... Kalian hebat sekali, Lexi junior akan segera launching," kata Olan yang mengerti apa maksud Elle menyentuh perutnya.


Saat mereka berbincang, Liona pun tiba.


"Kalian juga tidak akan lama lagi punya junior," ucap Elle.


Liona langsung membulatkan mata, obrolan apa yang mereka bicarakan? Kenapa bawa-bawa junior? Pikir Liona. Tapi walau begitu, Liona tak banyak bertanya mengenai perbincangan mereka. Ia mengajak Olan untuk segera pergi ke rumah sakit, ia ingin menjenguk Loren.


"Ell, kita duluan," pamit Olan.


"Lihat, pamit saja hanya pada istriku. Aku 'kan ada di sini, kurang ajar sekali dia." Axel sedikit geram.


"Ayo, Dad. Kita pulang," ajak Elle. Axel mengangguk.


...----------------...


Hai, aku bawa cerita nih untuk kalian baca. Mampir di sini yuk.



__ADS_1


__ADS_2