
"Mis, semua sudah 'kan? Apa tidak ada yang tertinggal?" tanya Elle yang sudah selesai memasak.
"Sudah, tidak ada yang tertinggal. Tuan pasti suka dengan makanannya, gak nyangka kalau kamu bisa memasak," kata Carla.
"Ini semua karena Mis yang bantu, aku hanya bolak-balik masakkan di wajan. Mengiris bawang saja tanganku yang keiris," Elle terkekeh sendiri.
"Setidak sudah mau belajar memasak untuk suami, sudah sana. Mandi dulu," titah Carla.
Elle pun bergegas ke kamar untuk membersihkan diri, setelah semuanya selesai ia kembali ke dapur untuk mengambil hasil masakannya yang sudah dikemas rapi oleh Carla.
"Mis, bagaimana penampilanku?" tanya Elle, memutarkan tubuhnya di hadapan Carla.
"Cantik." Carla sampai pangling melihatnya, gadis itu menggunakan rok mini jeans, baju putih dengan model karet mengerut di dada yang memperlihatkan kedua pundak. Sungguh cantik, tak lupa membawa tas selempang kecil berwarna cokelat yang senada dengan flat shoes yang dikenakannya.
"Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar ya, Mis?" Elle jadi gugup seperti akan bertemu dengan sang pujaan hati, menyentuh dadanya yang bergemuruh.
"Itu tandanya sudah ada cinta di sini." Carla menyentuh tangan Elle yang menempel di dadanya. "Cepatlah berangkat, sebentar lagi jam makan siang," kata Carla, "berangkat sama supir, aku sudah mengatakannya," sambungnya lagi.
"Iya, Mis. Aku pergi dulu."
_
_
_
__ADS_1
Untuk yang pertama kalinya Elle datang ke kantor, tidak ada yang mengenalnya di sana. Elle celingak-celinguk, lalu menghampiri meja resepsionis.
"Permisi," kata Elle.
"Ya, ada yang bisa kami bantu," jawab staff.
"Aku mau bertemu daddy, di mana ruangannya?" tanya Elle.
"Daddy? Siapa daddy, Nona?" Staff itu tidak mengenalnya, "siapa namanya? Mungkin saya bisa cari datanya di sini."
"Axel Austin, itu nama daddy-ku," jawab Elle.
"Tuan, Axel?" Staff itu terkejut, tapi setelahnya ia langsung memberitahukan ruanganya. Elle segera pergi setelah staff itu memberitahukan di mana ruangan suaminya.
"Siapa gadis itu?" tanya staff satunya setelah kepergian Elle.
* * *
Elle tiba di lantai atas, di mana ruangan Axel berada. Lalu melihat security yang berjaga di sana.
"Pak, mau tanya, ruangan pak Axel yang sebelah mana ya?" tanya Elle. Belum security itu menjawab, Axel muncul bersama Jose serta karyawan yang lainnya seusai meeting.
"Elle," kata Axel.
Elle yang mendengar seseorang menyebut namanya langsung menoleh. "Daddy ..." Elle menghampirinya, karyawan yang lain tercengang akan kedatangan gadis cantik itu.
__ADS_1
"Ayo bekerja, pergi ke ruangan masing-masing," kata Jose.
"Hai, Uncle?" sapa Elle.
"Hai juga, Non." Jose tersenyum, "saya permisi, Tuan. Jika butuh sesuatu hubungi saja." Jose pergi meninggalkan Axel bersama Elle.
Axel pergi ke ruangannya, dan Elle mengekornya dari belakang.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Axel setibanya di ruangannya.
"Daddy masih marah padaku?" Elle masih berdiri di dekat pintu, lalu berjalan dan meletakkan paper bag berisi makanan yang ia bawa. "Apa aku tidak boleh menemui suamiku?" tanya Elle.
"Kamu mengakui Daddy sebagai suamimu, sedangkan Daddy tidak berhak mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik Daddy." Axel menatap penampilan Elle dari ujung kaki sampai ujung kepala. Benar-benar anak remaja. Cantik, manis.
Elle semakin mendekat, berdiri tepat di samping kursi yang diduduki oleh Axel. "Masih membahas soal itu? Aku datang ke sini hanya untuk menemui, Daddy. Tapi begini cara Daddy menyambutku?" Elle cemberut.
Axel memutar kursi kebesarannya, lalu menatapnya. "Daddy sibuk, apa tidak bisa menunggu di rumah saja?" tanyanya datar.
"Sejak kapan makan siang berubah jadi malam?" tanya Elle, "aku ke sini membawakan makan siang untuk Daddy, kita makan sama-sama." Elle meraih paper bag lalu menyiapkan makanannya.
Axel memperhatikan yang Elle, matanya menangkap sesuatu yang menempel di jari telunjuknya. "Tanganmu kenapa?" tanya Axel pura-pura tidak tahu.
"Oh, ini." Melihat jarinya sekilas, "hanya luka kecil. Luka ini tak sesakit yang Daddy alami."
Axel menarik lengan gadis itu, hingga Elle terjatuh tepat di pangkuannya. Mencium tangan yang terluka itu. Sesaat, Elle terdiam. Lalu menarik diri dari pangkuan sang daddy. "Takut ada yang melihat," ujarnya.
__ADS_1
Axel mengerutkan keningnya. "Tidak ada yang berani masuk tanpa izin dariku. Duduk di sini." Axel menepuk paha agar Elle kembali duduk di pangkuanya.