Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Eps_87


__ADS_3

Di kediaman Axel.


Elle mendudukkan tubuhnya di sofa, disusul oleh suaminya. Bila dulu Axel tak menemani istrinya disaat hamil, kali ini ia akan menjaganya dengan baik. Apa pun yang diinginkan istrinya akan ia kabulkan. Axel meraih kaki istrinya dan meletakkan di kedua paha, memijatnya dengan pelan.


Elle tersenyum mendapati suaminya yang perhatian, ia mengusap bahu suaminya dan Axel menoleh. Keduanya pun tersenyum.


Tap, tap, tap ....


Langkah kaki terdengar dari arah tangga, seorang wanita sambil menggendong seorang balita yang kini berusia 5 bulan. Carla belum tahu dengan kabar bahagia Axel dan Elle, wanita itu pun berharap akan segera memiliki momongan.


"Loh, kok kalian di sini. Bukannya lagi ada acara di taman belakang?" tanya Carla ikut duduk di sofa sebelah.


"Sini-sini, Mommy mau gendong." Elle merentangkan tangannya untuk menggapai sang buah hati.


"Tidak jadi, kami baru saja pulang dari rumah sakit," jawab Axel.


"Siapa yang sakit?" sahut Jose yang baru saja tiba dari balik pintu. Carla beranjak untuk menghampiri suaminya, mengambil alih tas yang dibawa oleh Jose. "Siapa yang sakit, sayang?" tanya Jose kembali.


"Tidak tahu, aku baru saja menanyakannya."


"Tidak ada yang sakit, kami baik-baik saja," kata Elle, "tapi ada kabar bahagia, Mis."


"Lexi mau punya adik," timpal Axel.


"Serius?" Carla langsung mendekat ke arah Elle.


"Hmm." Elle menganggukkan kepala.

__ADS_1


Tiba-tiba, wajah Carla menjadi sedih. Dirinya sangat menantikan sang buah hati, tapi mengingat umurnya yang hampir kepala 4 membuatnya rasa ketakutan itu ada, takut tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


"Mis," panggil Elle, ia tahu kenapa Carla mendadak diam. Selama ini, ia sering membicarakan mengenai keinginannya. Elle menyentuh tangan Carla, dan wanita itu terkesiap dari lamunannya. "Mis jangan sedih, pernikahanmu saja masih seumur jagung. Yakin pada Tuhan kalau Mis juga pasti diberikan momongan, Lexi anakmu juga 'kan?"


Carla tersenyum tipis, tak bisa dipungkiri bahwa hatinya sedih. Hari ini saja dirinya lagi datang bulan, padahal pernikahannya sudah lebih dari 2 bulan. Jose memang tidak mempermasalahkan akan adanya anak, bisa menikah saja ia sudah bersyukur. Jose pun tak lagi muda, ia seumuran dengan Axel yang sudah berkepala 4.


"Sayang, aku gerah. Bisa tolong kamu siapkan air untukku mandi?" Jose mengalihkan pembicaraan istrinya dengan Elle, ia tak ingin istrinya jadi bersedih.


"Hmm, tentu. Aku pergi dulu," pamit Carla pada Elle.


Carla dan Jose tinggal di belakang rumah Axel, rumah yang dulu di tempati olehnya setelah Axel kembali dari penjara. Selama itu pula, Elle tidak tahu keberadaan sang daddy.


_


_


_


"Pasti, 'kan pernikahannya juga masih baru. Pindah ke kamar yuk? Pijatnya dilanjut di kamar saja, Lexi juga keknya sudah mengantuk."


Axel mengambil alih Lexi dari pangkuan istrinya.


"Daddy, jarak Lexi sama calon anak kita tidak jauh ya? Besar nanti jadinya kaya kembar dong ya? Aku berharap yang lahir perempuan."


"Daddy inginnya laki-laki lagi, mereka akan menjadi pewaris."


"Tidak mau, ini harus perempuan. Daddy jangan serakah!" Emosi Elle jadi kepancing.

__ADS_1


"Iya-iya, perempuan." Axel mengalah karena teringat ucapan dokter. Elle tidak boleh banyak pikiran apa lagi tertekan. Setibanya di kamar, Axel langsung merebahkan Lexi di tempat tidur. Balita itu ia letakkan di tengah-tengah mereka. Sengaja, dengan begitu ia tak bisa menjamah istrinya. Lexi menjadi penghalang mereka untuk tidak melakukan hubungan suami istri.


Demi cinta kepada sang istri, karena ia tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, Axel terpaksa harus menahan hasratnya untuk sementara. Axel juga melanjutkan pijatannya.


"Daddy, aku mau punggungku diurut," pinta Elle dengan manja.


"Hmm, buka-lah bajumu. Daddy siapkan krim untuk mengurutmu." Beberapa menit kemudian, Axel sudah kembali, dan melihat sang istri sudah menelungkupkan tubuhnya dengan punggung yang terekspose. Kulit putih nan mulus itu sangat menggodanya, tapi ia harus menahannya untuk tidak melakukannya.


* * *


"Daddy, pijatanmu enak juga ya? Aku tidak menyangka." Elle sampai merem melek karena rilex dengan pijatan suaminya. Axel tak menjawab karena ia terlalu fokus untuk tidak tergoda.


Jika dulu ia sering meninggalkan Hanna, untuk kali ini ia tak akan seperti itu lagi. Dari pengalamannya, bahwa wanita tak hanya membutuhkan materi. Perhatian dan kasih sayang paling utama dalam sebuah keluarga. Saking enaknya, Elle sampai tertidur.


"Daddy tidak akan mengulangi kesalahan dimasa lalu, Ell. Hadirnya dirimu mengubah semunya, Daddy tak ingin kembali kehilangan istri untuk yang kedua kalinya, semoga kita akan selalu bersama sampai menua. I love you," bisik Axel mencium pipi istrinya. "Tidurlah dengan nyenyak malam ini, bahagiamu, bahagiaku." Axel menciumnya kembali dan berganti pada Lexi.


Axel menutup punggung istrinya dengan selimut, lalu ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Lexi. Tanpa disadari bahwa ia belum mengganti pakaiannya, ia malah ikut terlelap.


...----------------...


Semoga kalian suka dengan cerita kehaluanku. Aku bawa karya teman harap mampir. Karya ku yang baru akan segera hadir ya harap mampir juga ya nanti. Nanti akan dipromosikan di sini.



Sekali lagi terima kasih bagi yang sudah membacanya sampai di sini😘😘😘


Yang ini judul yang akan segera rilis, dan rilis besok ya. Bisa klik profilku untuk melihat judul-judul karya ku yang lain.

__ADS_1



__ADS_2