
Kediaman Leo.
Pria itu tengah bercakap melalu telepon dengan anak buahnya, tiba-tiba percakapan mereka terhenti karena Lory sudah kembali. Lory memeluk suaminya dengan penuh kepalsuan, terpaksa harus dilakukan demi berjalannya rencananya.
Muak! Itulah yang dirasakan Lory saat ini. Bibirnya tersenyum palsu. Leo menutup ponselnya karena dirinya tidak ingin kalau istrinya tahu tentang percakapannya.
"Dari mana saja?" tanya Leo.
"Biasalah, kumpul bareng teman," jawab Lory bohong, "sepertinya kamu ada urusan, mau pergi kemana hari ini?" tanyanya.
"Ya, hari ini aku harus pergi ke Zumpango. Ada penyerangan sistem, aku harus segera ke sana untuk mengeceknya sendiri," jawab Leo.
__ADS_1
"Aku ikut ya? Bosan di rumah terus, sekalian kita ..." Lory menyentuh bibir Leo dengan sentuhan yang mengartikan sesuatu, "apa kamu masih marah padaku soal kemarin? Kamu 'kan tau ada orang yang berniat jahat padaku, aku tidak mungkin mengkhianati pernikahan kita. Kamu tau kalau aku sangat mencintaimu." Rasanya Lory ingin muntah saat mengucapkan kata-kata manis itu pada suaminya.
"Hmm, baiklah. Tapi jangan menggangguku jika sedang bekerja. Tamu mulai mengeluh karena fasilitas internet terganggu, ada kebocoran fasword sampai terjadi eror di sana. Sudah ada beberapa orang yang mengecek, tapi belum ada titik terang aku harus segera kesana," jelas Leo.
"Iya, aku janji tidak akan mengganggu."
* * *
Di tempat lain.
"Itu mempermudah jalan kita, berarti kita harus menyusul," ujar Axel, "siapkan pesawat, kita harus lebih dulu sampai di sana."
__ADS_1
"Baik, orang-orang kita sudah ada beberapa di sana. Leo ke sana juga karena mereka." Jose mengerahkan beberapa hacker untuk menjebol kenyaman para tamu risort.
"Bagus, kita harus gerak cepat."
Jose langsung melakukan perintah tuannya, sampai-sampai Axel lupa bahwa ada yang gelisah karena sikapnya hari ini. Elle tidak jadi ke rumah Letta, ia menuruti apa yang dikatakan pria itu. Elle juga merasa harus menurutinya agar daddy-nya tidak selalu marah padanya.
Elle sudah pulang sekolah, wajahnya masih cemberut. Pulang pun percuma kalau tidak ada siapa-siapa. Carla pun tidak ada, karena izin akan pulang ke rumahnya untuk satu atau sampai dua hari ke depan. Itu artinya, hanya ia dan daddy-nya di rumah ini, pikirnya.
Tanpa terasa, malam pun tiba. Belum ada tanda-tanda kepulangan sang daddy. Elle terus menanti kepulangan lelaki itu di balik tirai seperti biasa. Satu jam, dua jam, sudah terlewatkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Axel masih belum pulang. Yang tadinya kelaparan karena melewatkan jam makan malam kini mendadak kenyang karena sesak.
Menanti yang tak kunjung pasti, Elle merasa sudag lelah. Ia tak lagi menunggu di balik tirai, hawa dingin mulai menyeruak masuk ke dalam pori-pori.
__ADS_1
"Daddy masih di mana? Aku pulang lebih cepat dan menuruti apa kata Daddy, tapi Daddy begitu menyebalkan." Elle mengirim pesan kepada Axel. Hanya centang satu, menandakan bahwa ponsel milik lelaki itu tidak aktif.
Pikiran Elle mulai berkelana, memikirkan bahwa sang daddy tengah berada di club bersama gadis-gadis cantik. Terlalu bodoh menurutnya, tapi inilah yang dirasakannya seolah mencintai orang yang tak pernah mencintai kita. Dan akhirnya, Elle tertidur dengan sendirinya.