
Bagaikan mencari jarum ditumpukkan jerami, orang-orang berlalu lalang menutupi pandangan Axel yang sedang mencari Elle.
"Kita ke hotel, nama Elle pasti tercantum disalah satu hotel di sana," ujar Axel, "sekalian lacak keberadaannya melalui kartu yang dia gunakan."
Jose mengangguk. Saat tiba di hotel, Axel memesan kamar dan langsung mengistirahatkan tubuhnya, ia yakin kalau ia dapat menemukan istrinya. Elle tak mungkin jauh dari penginapan karena setahunya gadis itu tidak bisa hidup susah.
_
_
_
Elle dan Letta sudah sampai di tempat di mana Zurran tinggal, fasilitas yang ia dapatkan dari rumah sakit tempatnya bekerja. Sebuah rumah kecil tapi begitu nyaman, Elle melihat-lihat seisi rumah tersebut. Dengan pemandangan yang tak jauh dari laut. Gadis itu menghirup udara segar di sana.
"Aku yakin kamu pasti betah di sini, Ell. Pemandangannya indah sekali," ujar Letta.
"Ya, aku harap begitu. Semoga aku dapat melupakannya." Elle terlihat sendu. Tapi Letta langsung menarik lengan Elle mengajaknya ke tepi pantai berniat untuk menghiburnya.
"Kak, aku ke pantai ya?" pamit Letta.
__ADS_1
"Apa kalian tidak cape?" tanya Zurran, "setidaknya kalian istirahat dulu."
Hoeekkk ...
Elle muntah karena mual, dan itu menghentikannya pergi ke pantai. "Ell, kamu gak papa?" tanya Letta.
"Perutku mual, Ta. Kepalaku juga pusing," jawab Elle.
"Masuk angin, atau mabuk perjalanan?" tanya Zurran.
"Bukan keduanya," jawab Letta, "Elle hamil."
"Hamil?" Zurran terkejut.
* * *
"Bagaimana? Kandungannya baik-baik saja 'kan?" tanya Letta.
"Kandungannya baik, cuma harus banyak istirahat. Kandungannya masih rentan, tapi aku akan memberikannya obat," kata Zurran.
__ADS_1
"Kak, di sini aku titip Elle. Dia tidak bisa kembali dalam jangka dekat, iyakan, Ell?" tanya Letta.
"Iya," jawab Elle.
"Kenapa? Nanti suamimu khawatir, Kakak tidak mengizinkan," kata Zurran.
Elle mau pun Letta menceritakan semuanya kepada Zurran, termasuk pengkhianatan ibunya Elle kepada Axel sehingga di mana balas dendam itu terjadi kepadanya.
"Please ... Mau ya bantu, Elle? Demi anak yang ada dalam kandungannya." Letta mengatupkan tangan seraya memohon. Tidak ada pilihan, Zurran pun mengangguk karena rasa kemanusiaan. "Terima kasih, Kak. Aku mencintaimu." Letta mencium pipi Zurran.
"Ini nih yang Kakak tidak suka, kamu pintar merayu." Zurran mencubit hidung mancung Letta. Elle tersenyum tipis saat melihat aksi mereka, tanpa terasa air matanya terjatuh. Jauh dari lubuk hatinya ia merindukan suaminya.
_
_
_
Axel tak patah arang, ia terus mencari keberadaan Elle. Setiap hotel sudah ia datangi. Tanpa terasa ia sudah satu minggu di sana. Axel tidak menemukan gadis itu, Elle bagaikan ditelan bumi. Tidak ada jejak gadis itu di sana. Tidak ada pengeluaran dari kartu debit yang di pegang Elle.
__ADS_1
"Kemana Daddy harus mencarimu, Ell? Kenapa kamu menghukum Daddy seperti ini?" lirih Axel. Merenung, menatap gelapnya malam. Melihat langit penuh dengan bintang. "Maafkan atas niat awal Daddy menikahimu, seiring berjalannya waktu perasaan ini muncul tanpa diduga. Kamu membuat perasaan ini tenang, mampu melupakan rasa sakit yang telah diciptakan mommy-mu, Ell." Axel sampai menitikkan air mata, satu minggu sudah ia mencari tapi hasilnya nihil.
"Haruskah Daddy melepasmu? Merelakanmu? Mengikhlaskanmu? Lebih baik Daddy mendapatkan hukuman darimu, Ell. Dari pada harus seperti ini buat Daddy tersiksa. Pulang-lah, sayang ..." Axel memejamkan mata sembari menangis. Penyesalannya teramat besar, hukuman ini terasa berat dan menyiksa.