
"Lalu kamu akan menjebloskan saudaraku begitu? Tidak punya hati sekali, dia sedang koma dan harus menjalani pengobatan. Biarkan aku yang menggantikannya, bawa aku ke kantor polisi, dan urusan kita selesai."
"Tidak bisa begitu," kata Olan.
"Kenapa jadi kamu yang ngatur? Emangnya yang aku curi itu perhiasan milikmu, hah?"
"Kamu berhutang padaku, karena secara tidak langsung aku yang membiayai saudaramu itu," jelas Olan.
"Apa maksudmu? Kenapa aku bisa berhutang padamu, hah? Aku tidak mau berurusan denganmu, kalau kamu tidak jadi membawaku ke kantor polisi, maka biarkan aku pergi." Liona meraih handle pintu mobil hendak turun dari kendaraan itu. Tapi Olan langsung menguncinya.
Liona menatap tajam ke arah Olan, maunya apa sih lelaki ini? Pikir Liona.
"Kamu berhutang padaku, dan kamu harus membayarnya. Aku sudah mengembalikan perhiasan itu kepada mereka," ujar Olen.
"Apa? Kamu menjebakku? Lebih baik aku di penjara dari pada harus berurusan denganmu." Menurut Liona, Olan pria yang sangat menyebalkan. Ancamannya kemarin yang menyuruhnya berhenti membuatnya kesal. "Aku tidak sudi berurusan denganmu, aku akan membayarnya, tapi tidak sekarang karena aku tidak punya uang."
"Kamu tidak perlu membayarnya, cukup melakukan apa yang aku suruh. Kamu harus selalu ada saat aku butuhkan, bagaimana?" Olan memberikan tawaran untuk Liona, syaratnya cukup mudah ia yakin kalau wanita itu pasti mau melakukannya. Justru ini keberuntungan bagi wanita itu, pikirnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Liona pun akhirnya penasaran, karena ia tak mungkin membayar hutangnya yang cukup besar.
"Kamu cuma perlu menemui orang tuaku dan mengaku bahwa kamu adalah pacarku."
"Apa?" Mata Liona melotot, tak percaya apa yang dipinta lelaki itu. "Jangan becanda, itu tidak gampang. Membohongi orang tua itu dosa, aku tidak mau dosaku bertambah dengan keinginan gilamu itu. Cari saja wanita bayaran." Liona menolak mentah-mentah keinginan Olan.
"Kurang ajar, berani sekali dia menolakku, siapa dia?" Baru kali ini ia ditolak, gadis di luaran sana banyak yang mengantri ingin jadi kekasihnya dan Liona malah menolaknya.
"Kamu cukup tampan, kenapa harus cari kekasih pura-pura? Apa emang tidak laku?" ledek Liona.
"Enak saja tidak laku, aku tidak sembarang memilih pasangan. Orang tuaku berniat menjodohkanku, perjodohan itu akan batal kalau aku mengenalkan seorang gadis pada mereka."
"Tapi kenapa harus aku? Aku tidak mau terlibat," tolak Liona.
__ADS_1
"Baik, kalau kamu tidak mau kamu cukup kembalikan uang itu besok. Aku beri waktu kamu satu hari."
Liona membulatkan kedua mata, yang benar saja? Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu hari? Menjebol ATM baru ia bisa membayar hutang puluhan juta itu. Pikirnya. Untuk saat ini, Liona mengiyakan saja karena ia ingin terbebas dari lelaki itu.
"Oke, aku setuju. Jadi biarkan aku pergi," ucap Liona.
"Apa jaminannya? Bisa saja kamu kabur dariku dan tidak menemuiku."
"Jaminannya Loren, kamu boleh menjebloskan dia ke penjara kalau aku tidak menepati janjiku."
"Baiklah, kamu boleh pergi. Besok jam 5 sore kita bertemu di taman dekat rumah sakit."
* * *
Liona berpikir, harus mencari uang kemana sebanyak itu? Pikirannya sangat kalut. Ia terus berjalan tanpa arah, lebih baik berurusan dengan musuh Loren dari pada dengan pria yang menurutnya paling menyebalkan. Mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Jadi pacar pura-pura? Yang benar saja," rutuk Liona di sepanjang jalan. Hari sudah mulai gelap, tubuhnya sudah sangat lelah. Ia putuskan untuk pulang ke rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Baru kemarin dia memiliki pekerjaan dan jauh dari kejaran musuh-musuh Loren. Gara-gara Olan, karena ancaman itu akhirnya ia berbuat nekad. Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada guna disesali.
"Argghh ...." Liona mengacak rambutnya sambil mendengus kesal. "Huuhh ..." Ia menghempaskan tubuhnya di kasur kecil miliknya. Berharap kejadian ini hanya mimpi, perlahan mata itu pun terpejam.
_
_
_
Keesokan harinya.
Tepat pukul 5 sore, Olan sudah menunggu kedatangan Liona. Ia terus melihat jam di tangan, celingak-celinguk mencari seseorang. Tidak ada tanda-tanda kehadiran wanita itu.
"Apa dia berbohong? Awas saja kalau bohong," cetusnya. Kaki terus menghentak ke tanah, sesekali kembali melihat jam. Jam yang ditentukan untuk mereka bertemu sudah lewat. Hari sudah mulai gelap, Liona masih belum muncul. Olan sudah sangat kesal, ia pun beranjak. Sepertinya wanita itu tidak akan menemuinya.
__ADS_1
Olan mulai melangkahkan kaki, hendak meninggalkan taman itu.
"Tunggu ...," teriak seseorang. Napasnya memburu karena berlari saat menuju taman. "Maaf terlambat," ucapnya.
Olan membalikkan tubuh, melihat ke arah Liona yang napasnya masih tersengal. "Aku kira kamu tidak akan datang." Olan kembali duduk di bangku taman, dan Liona pun ikut duduk di sampingnya.
Lama mereka terdiam. Olan pun tidak menanyakan masalah uang yang dijanjikan Liona. Ia malah berharap, gadis itu tidak sanggup membayarnya dan sedia menerima tawaran darinya. Olan tak peduli dengan orang tuanya jika ia berhasil mengajak Liona dan mengenalkannya sebagai pacarnya. Yang penting ia membawa seseorang dan perjodohan itu batal.
Udara malam mulai terasa, Liona mengusap tangannya sendiri karena kedinginan. Di taman yang luas membuat angin terasa kencang. Olan merasa kasihan, ia pun membuka jas miliknya, lalu memakaikannya di tubuh Liona. Dan gadis itu menoleh hingga tatapan mereka bertemu.
"Udaranya cukup dingin," ucap Olan.
"Kenapa tiba-tiba jadi baik? Tidak! Dia lelaki yang paling menyebalkan." Liona menepis pujiannya sendiri.
"Aku ..." Liona berucap, tapi lidahnya terasa kelu karena ia tak tahu harus berkata apa. "Aku ..."
"Apa? Kenapa jadi gugup seperti itu? Apa sebelumnya belum pernah ad seorang pria yang meminjamkan pakaiannya untukmu? Menyedihkan sekali," ledek Olan. Ia sengaja berkata seperti itu karena ingin mencairkan suasana.
Sontak, Liona memukul Olan karena kesal dengan perkataannya. "Menyebalkan," cetusnya.
"Sakit," keluh Olan, "bagaimana? Apa kamu mau membayarnya? Atau mau menerima tawaran dariku?"
Liona menarik napas dalam-dalam, tidak ada pilihan. Ia sendiri tidak bisa membayarnya karena memang tidak punya uang. "Aku menerima tawaran darimu."
"Serius? Tawaran yang aku maksud-."
"Jadi pacar bohonganmu," pungkas Liona, "berapa hari? Minggu? Bulan?" tanyanya.
"Berapa ya, aku tidak bisa menentukan. Selagi aku tidak punya kekasih, maka selama itu kamu menjadi pacarku."
"Baiklah, aku setuju. Kapan menemui orang tuamu?" Liona pikir, ini tidak terlalu sulit. Tidak setiap hari juga bertemu dengan orang tua Olan, itu artinya ia tak setiap hari bertemu dengannya. Jadi pacar bohongan berlaku bila di hadapan orang tuanya bukan?
__ADS_1
Mereka pun sudah deal menjadi pacar bohongan.