
Axel mengerutkan keningnya. "Tidak ada yang berani masuk tanpa izin dariku. Duduk di sini." Axel menepuk paha agar Elle kembali duduk di pangkuanya.
"Tapi aku mau menyiapkan makan siang," kata Elle, "aku yang masak loh, Daddy harus coba." Gadis itu langsung menyiapkan makanannya di atas meja, menyingkirkan laptop yang tergeletak. Axel hanya diam melihat tingkah putrinya yang kini sudah menjadi istrinya.
"Ayo, coba." Elle menyodorkan sendok ke arah mulut Axel. Pria itu menatap sendok, dengan sedikit ragu membuka mulutnya. Entah rasanya akan seperti apa, yang jelas ia harus mencobanya.
Sesaat, pria itu terdiam. Merasakan makanan itu setelah mendarat di lidah, perlahan mengunyah. Elle harap-harap cemas. Takut rasanya tidak.
"Bagaimana?" tanya Elle.
"Ada yang kurang," jawab Axel.
"Apa? Terlalu asin ya?"
"Tidak pake cinta buatnya, jadi rasanya hambar."
Elle mengerutkan kening, lalu ia pun mencoba makanan yang rasanya dibilang hambar. "Rasanya enak kok, sama seperti yang sering aku makan." Elle baru sadar dengan ucapan Axel yang berkata 'tidak pakai cinta' akhirnya gadis itu mengerti.
__ADS_1
Elle meletakkan sendok di piring, lalu mendekatkan diri di sebelah Axel. Dan pria itu meraih pinggang Elle menariknya untuk duduk di pangkuannya. "Daddy tidak tau betapa berjuangnya aku saat memasak, tanganku sampai teriris." Elle memperlihatkan tangannya yang diplaster dengan manja, "dengan mudahnya Daddy bilang makanannya tidak enak terasa hambar."
"Maaf, Daddy suka kok makanannya. Kamu jangan ngambek terus, Daddy serba salah kalau sudah marah begitu," sesal Axel, "suapi lagi, Daddy akan habiskan makanannya," pintanya.
"Tentu." Elle mencium pipi Axel terlebih dulu lalu mulai menyuapinya dan posisinya masih seperti itu, Elle duduk di pangkuan suaminya. Hingga makan selesai, Elle masih berada di sana.
Klek, pintu langsung terbuka. Jose datang tanpa mengetuk pintu, sialnya, ia melihat posisi mereka. Jose kembali keluar karena takut mengganggu.
"Tuh 'kan, apa aku bilang. Ada yang melihatnya 'kan? Untung uncle Jose yang datang, kalau karyawan yang lain bagaimana?" Elle berniat turun dari pangkuan Axel, tapi pria itu tak melepaskannya.
"Tapi, Dad!"
"Jangan membantah, Daddy suka aroma mu itu buat Daddy semangat."
Mau tak mau, Elle menurutinya dari pada marah lagi, pikirnya. Axel berkutat dengan laptopnya, sesekali ia menghirup aroma tubuh Elle dari ceruk lehernya. Tak lama, ia menutup laptop. Memutar tubuh Elle untuk menghadap ke arahnya, menarik dagu dan mencium bibirnya sekilas.
Seakan candu, Elle pun menciumnya lagi. Hingga ciuman itu sedikit lama. Posisi Elle berubah. Gadis itu benar-benar memposisikan duduknya. Mereka saling berhadapan, tubuh Axel diapit oleh kedua paha istrinya. Melepas flat shoes menaikan kaki jenjangnya di kursi kebesaran suaminya. Mengalungkan tangan di leher, dan kembali mencium bibir suaminya.
__ADS_1
"Daddy suka seperti ini," kata Axel mengakui keberanian Elle. Gadis itu tersenyum mencoba membuat suaminya jatuh cinta padanya.
Cintailah aku, Daddy. Elle menciumnya dengan dalam membawa suaminya untuk lebih menikmatinya, ia tak ingin suaminya hanya menginginkan tubuhnya saja, ia ingin ada cinta dalam rumah tangganya. Elle melepaskan tautan itu karena kehabisan oksigen.
"Kamu sudah siap?" tanya Axel.
Elle mengangguk malu. Axel pun tersenyum, ia dapat melakukannya. "Jangan bilang karena terpaksa, Daddy ingin ini menjadi momen yang tak bisa kamu lupakan."
"Iya, Daddy. Dan untuk itu, cintailah aku," pintanya.
Axel tak menjawab, ia malah mencium bibir bergelombang itu lagi. ciuman memanas, tak peduli dengan keberadaannya karena Axel memiliki ruangan khusus di dalam ruangannya. Sebuah kamar terletak di balik rak buku file.
Axel menggendong gadis itu dan membawanya ke kamar. Merebahkan tubuh itu dengan secara perlahan di tempat tidur.
"Sudah berapa banyak wanita yang tidur di sini?" tanya Elle setelah berbaring. Tentu ia tak ingin ruangan ini bekas orang lain.
"Hanya Hanna yang pernah mengisi kamar ini, kamu yang kedua, Elle." Axel mengungkung tubuh kecil itu. Dan Elle tak lagi bertanya, menyebut nama ibunya saja Elle cemburu. Entah sejak kapan cinta itu tumbuh dengan sangat besar. Elle benar-benar sudah jatuh cinta kepada Axel.
__ADS_1