
"Di mana, Elle?" tanya Axel pada Carla, ia khawatir karena istrinya pulang tanpa dijemput oleh supir. Tidak biasanya gadis itu pulang sendirian, meski terlambat, Elle tetap menunggu jemputannya datang.
"Aku kira non Elle belum pulang, aku tidak melihatnya," jawab Carla, "coba liat di kamar," kata Carla. Dengan cepat Axel menaiki tangga menuju kamar Elle.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Axel, melihat istri kecilnya sesegukkan karena menangis.
"Daddy ..." Elle bangkit dari tempatnya dan langsung memeluk suaminya, "aku bertemu dengannya," ucapnya.
__ADS_1
"Siapa yang bertemu denganmu?" tanya Axel.
"Pria jahat itu, orang yang sudah membunuh mommy. Dia bilang kalau Daddy menikahiku karena hanya untuk balas dendam, bilang padaku kalau Daddy tidak seperti itu. Daddy mencintaiku 'kan? Tidak berniat menyakitiku 'kan?" Elle mendongakkan wajah, menunggu jawabannya dengan hati was-was.
"Jangan mendengarkannya, Daddy mencintaimu." Axel memeluk istrinya dengan erat, semakin hari ia dapat merasakan ketulusan gadis itu. Terlalu jahat jika ia membalaskan dendamnya kepada istrinya. Gadis itu tidak tau apa-apa, lagi pun, surat penting itu sudah kembali kepadanya. Yang dapat ia lakukan hanya menjaga istrinya, mencintainya dengan penuh kasih sayang.
"Daddy mencintaimu, jangan biarkan orang lain merusak rumah tangga kita. Sesuai janjimu kepada Daddy, kamu akan menggantikan Hanna. Menjadi istri yang baik untukku." Entah dengan sadar atau tidak, yang jelas Axel tidak ingin kehilangan orang yang sudah memberikannya kenyamanan, Elle mampu meredamkan emosinya.
__ADS_1
Axel menyimpan surat penting itu di ruang kerjanya, yang ia pikirkan sekarang menjaga Elle agar Leo tidak bisa menemuinya lagi. "Kamu harus membayar apa yang sudah kamu lakukan terhadapku, Leo. Harusnya kamu bersyukur bahwa aku tidak menyakiti putrimu." Meski awal niatnya buruk dengan pernikahannya, tapi seiring berjalannya waktu cintanya benar-benar tumbuh kepada Elle.
Gadis itu rela memberikan apa yang dia punya, terlalu jahat jika ia harus melampiaskan kemarahannya kepada Elle. Malam semakin larut, Axel berniat memindahkan Elle ke kamarnya. Sesuai janji, ia akan menjadikan gadis itu orang yang paling spesial dalam hidupnya.
Axel meraih tubuh yang sudah terlelap, membawanya ke kamarnya. Merebahkan tubuh mungil iti dengan sangat hati-hati. Matanya masih terlihat sembab, entah sejak kapan gadis itu menangis. Axel tidak tahu. Elle masih menggunakan seragam sekolahnya, Axel berniat menggantikan pakaiannya. Membuka semua baju yang dikenakan Elle.
Selalu tergoda dengan tubuh molek itu, mengusap lembut belahan dada dan menciumnya. Si pemilik raga pun terbangun, rintihannya terdengar. Tubuhnya meremang saat hembusan napas Axel menerpa di kulit yang paling sensitif-nya.
__ADS_1
"Daddy ...," bisik Elle. Gadis itu membuka mata lalu merangkul leher suaminya, menariknya kedalam pelukkannya. "Puaskan aku malam ini, Daddy," bisik Elle. Seakan ada sesuatu yang akan terjadi, Elle tidak ingin berpisah dengan suaminya, ia begitu mencintainya. Semoga apa yang diucapkan Leo tidak benar adanya. Suaminya mencintai tidak mungkin menyakitinya, selama ini pria itu bersikap lembut padanya.
Sebisa mungkin Elle percaya, terkecuali ia mendengarnya langsung dari mulut suaminya. Ia ingin kebahagiaan, tidak akan percaya kepada omongan orang lain termasuk Leo yang sudah ia ketahui ternyata adalah ayah kandungnya.