
"Ell, jaga diri di sini baik-baik ya," kata Letta, gadis itu harus kembali karena akan melanjutkan kuliah.
"Maafkan aku ya, Ta. Impian kita kuliah sama-sama ternyata sirna, aku hamil dan harus menguburk cita-citaku," lirih Elle. Kedua gadis itu saling berpelukan, Aletta mau pun Elle menangis. Mereka harus berpisah dengan jarak yang cukup jauh.
"Ada Kak Zurran yang akan menjagamu di sini, kamu tidak perlu khawatir," ujar Letta.
Elle menoleh ke arah Zurran, dan pria itu tersenyum. Dengan senang hati ia akan membantu dan menjaganya. Elle sudah Zurran anggap sebagai adiknya. Dan ini semua karena Aletta, gadis itu memintanya untuk menjaga sahabatnya. Meski awalnya Zurran keberatan akan keberadaan Elle bersamanya, apa lagi gadis itu tengah hamil. Zurran sudah mewanti-wanti Aletta, ia tak ingin ada kesalahpahaman dikemudian hari.
__ADS_1
Tentu keberadaan Elle bersamanya dalam keadaan hamil, warga akan berpikir bahwa Elle istrinya. Zurran takut ini menjadi kehancuran hubungannya sendiri. Untungnya, Aletta paham dengan apa yang diucapkan Zurran. Ia juga percaya kalau sahabatnya tidak akan berbuat demikian. Letta tahu bagaimana perasaan Elle kepada suaminya.
"Terima kasih selalu menolongku, Ta. Kamu sahabatku yang paling baik, kapan-kapan kesini lagi ya? Tengok aku dan calon bayiku," ujar Elle.
"Tentu, aku akan kembali dan membawa kabar gembira. Aku akan meyakinkan daddy soal hubunganku dengan Kak Zurran." Aletta menoleh ke arah kekasihnya, lalu menghampirinya. "Aku pasti merindukanmu, Kak." Aletta memeluk Zurran dengan erat.
"Kakak juga pasti merindukanmu, apa kamu serius akan mengatakan tentang hubungan kita kepada daddy? Harusnya Kakak yang bilang, bukan kamu. Tapi Kakak juga akan mengatakannya pada mommy." Zurran mencium bibir Aletta dengan dalam.
__ADS_1
Di tempat yang sama. Axel menghirup udara segar di tepi pantai. Sebenarnya keberadaan mereka tidak jauh. Hanya saja, Elle tidak pernah keluar rumah. Gadis itu keluar rumah saat malam tiba, entah kenapa, semenjak hamil ia kurang menyukai teriknya panas matahari. Itu membuatnya gerah dan selalu bercucuran keringat. Mungkin efek kehamilannya.
"Daddy, kenapa aku tidak bisa membencimu? Tapi hati ini terlalu sakit saat tau bahwa pernikahan ini hanya untuk membalaskan dendam-mu. Aku harap, daddy merindukanku suatu saat. Aku mengandung anakmu, daddy." Air mata Elle terjatuh, meratapi nasib yang dalam keadaan hamil tanpa suami.
* * *
"Kenapa sesakit ini saat kehilanganmu? Inikah karma yang engkau berikan, Tuhan? Hukumanmu aku terima, tapi tolong kembalikan istriku, pertemukan aku dengannya. Aku mencintainya, Tuhan." Axel menatap laut luas di sana, tempat indah itu menjadi saksi betapa ia merindukan sosok gadis kecil saat bermanja dengannya. Menoleh ke arah lain, ia melihat seseorang tengah duduk disebuah batang panjang. Kenapa rasanya ingin sekali menghampirinya.
__ADS_1
Berjalan sedikit demi sedikit, ingin tahu apa yang sedang dilakukan seorang gadis di sana? Di tempat gelap sendirian. Saat akan menghampirinya, ponselnya berdering. Axel mengambil ponselnya yang ada di dalam saku, saat melihat ke arah gadis tadi, gadis itu sudah menghilang entah kemana.
"Ya, Jose?" Axel mengangkat panggilan, tapi pandangannya terus ia arahkan kesekitar tempat, gadis itu benar-benar menghilang. Hanya ia seorang diri di sana.