
Axel tertidur dengan sendirinya, kantuk itu menyerang begitu saja. Selama kepergian Elle, ia tak dapat tidur dengan nyenyak. Baru kali inilah ia tertidur pulas, sampai Elle didatangi oleh Zurran dan Aletta pria itu tidak terbangun.
"Ell," panggil Aletta. Elle menoleh lalu tersenyum. "Suttt." Letta meletakkan jari telunjuk di bibir, memberi isyarat kepada Elle agar wanita itu tidak bersuara.
"Ta, aku mau melihat bayiku," bisik Elle.
"Hmm, aku akan membawamu ke sana. Kak Zurran akan membantumu." Zurran meraih tubuh Elle dan meletakkannya di kursi roda, tak lupa membawa infusan yang masih terpasang.
* * *
"Ta, apa bayiku sehat?" tanya Elle yang masih di dorong di kursi roda oleh Zurran, Elle takut akan kekurangan dari bayinya.
"Bayimu sehat, Ell. Hanya tubuhnya saja yang kecil, itu wajar karena lahir prematur," jawab Zurran. Elle bernapas lega. Akhirnya, mereka pun sampai di ruang bayi. Elle hanya melihat bayinya dari balik kaca, karena ada jam tertentu untuk masuk ke dalam sana.
"Anakku," lirih Elle, "Mommy mencintaimu, terima kasih sudah terlahir dengan selamat. Hanya kamu yang Mommy miliki," terangnya.
"Apa kamu tidak menganggap Daddy ada?" Suara itu mengalihkan pandangan Elle dan yang lainnya. Axel menghampiri istrinya. Zurran dan Aletta pun menggeserkan tubuh mereka, memberi ruang kepada Axel. Bagaimana pun, pria itu berhak atas diri Elle karena statusnya yang masih berstatus suaminya.
Axel berlutut di depan Elle, menelusupkan kepalanya di kedua paha istrinya. "Maafkan Daddy, Ell." Elle mengusap kepalanya, lalu Axel mendongak.
"Jangan seperti ini," ucap Elle, "sikapmu yang seperti ini seolah aku yang salah, biarkan hidupku bahagia tanpamu. Selama ini aku cukup bahagia," terangnya.
__ADS_1
"Tidak! Daddy tidak akan membiarkanmu pergi." Sekali istri, selamanya akan tetap menjadi istri baginya. "Daddy siap menerima hukuman apa pun darimu, tapi tolong jangan pisahkan Daddy dengannya. Kalian orang yang sangat berarti dalam hidupku." Axel memeluk Elle.
Akhirnya, tangis mereka pecah. Aletta pun ikut menangis karena terharu. Gadis itu memeluk kekasihnya, bersandar dalam tangisan.
_
_
_
Beberapa minggu kemudian.
"Lihatlah, dia begitu mirip denganku." Sebuah pengakuan dengan bangganya bahwa gen-nya lebih kuat.
"Kenapa begitu yakin kalau dia putramu?" tanya Elle, "kalau dia bukan putramu bagaimana?" Elle mengetes kesabaran Axel.
"Mana mungkin dia bukan putraku? Sudah jelas wajahnya begitu mirip denganku, Daddy yang pertama menyentuhmu, Ell. Jangan menghancurkan harapan, Daddy," terang Axel.
"Apa yang kamu harapkan?" tanya Elle.
Axel menatap wajah Elle dengan dalam. Sebegitu sudinya istrinya memanggilnya dengan sebutan biasanya? Kenapa Elle menganggapnya orang asing? Apa rasa cintanya sudah tidak ada untuknya?
__ADS_1
"Apa hukumanmu belum berakhir? Selama beberapa minggu ini Daddy tersiksa dengan sikap dinginmu, Ell. Tapi Daddy tidak berputus asa, berharap cinta itu masih ada untuk Daddy." Axel tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa untuk meyakinkan bahwa ia sangat menyesal.
"Baru beberapa minggu merasakan sakit, apa kabarnya denganku yang sudah berbulan-bulan?" kata Elle.
Elle tidak tahu saja betapa tersiksanya Axel setelah ditinggalkan olehnya. Axel pun sempat sakit karena tidak menerima asupan pada tubuhnya. Makan minum tidak berselera, tidur pun tak nyenyak. Hanya Elle yang ia pikirkan.
"Mau sampai kapan bersikap dingin seperti ini? Apa kata maaf itu tidak ada untuk, Daddy? Daddy ingin kita berkumpul dan hidup bahagia, keluarga kita sudah lengkap, Ell." Percakapan mereka terhenti karena Carla datang untuk menyusul.
Jose sengaja membawa Carla untuk menjelaskan bagaimana keadaan tuannya setelah tinggalkan istri kecilnya.
"Mis," ucap Elle saat melihat wanita itu datang, ia merindukan sosok Carla yang selama ini telah membesarkannya.
* * *
Elle terdiam mendengar penuturan Carla selama beberapa bulan terakhir. Betapa tersiksanya tuannya itu. Bahkan perusahaannya hampir tidak dikunjungi, mungkin, jika tidak ada Jose perusahaannya ikut hancur seperti hidupnya.
"Memaafkan lebih mulia, kalian sudah memiliki malaikat kecil. Hidup bahagailah mulai saat ini," ucap Carla.
Elle dan Axel pun saling menatap, dari kedua mata yang tidak bisa dibohongi. Cinta yang begitu besar untuk satu sama lain.
"Bayi ini menginginkan orang tua yang lengkap, tidak inginkah kalian membahagiakan malaikat kecil ini?" tanya Carla yang sedang menggendong bayi itu, bayi yang belum diberi nama secara resmi. Axel sudah menyiapkan sebuah nama yang bagus untuknya, hanya saja ia masih menunggu istrinya berbaik hati padanya.
__ADS_1