
Axel masuk ke dalam kamar, melihat Elle tengah membuka baju pengantinnya. Membuka res sleting membuatnya kesusahan, tangannya tak cukup menjangkaunya, ia tahu ada suaminya yang baru masuk, tapi enggan untuk meminta pertolongan. Ceritanya gadis itu sedang kesal.
"Pernikahan macam apa ini?" rutuknya.
Axel yang mendengar langsung menghampiri. "Apa yang kamu katakan barusan, coba ulangi?" tanya Axel.
"Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa," elaknya, tangannya sibuk meraba res sleting belakang.
"Jangan berbohong, kamu marah pada Daddy, hmm?" Axel meraih pinggang Elle dan merapatkan tubuhnya, tangannya menjakau punggung gadis itu. Menarik sleting, menurunkannya secara perlahan.
"Aku bisa sendiri," tolak Elle sedikit berontak. Tapi Axel tidak peduli. Elle masih kesal, dan Axel malah seperti ini. Mengendus daun telinga, dan tangan terus turun membuka gaun pengantinnya.
"Daddy, lepaskan! Aku mau ganti baju," kata Elle.
"Bukankah kamu istriku sekarang? Lalu bagaimana kalau Daddy tidak akan melepaskanmu?"
"Daddy ... Ini masih siang." Mana mungkin melakukannya disiang panas terik begini, pikir Elle.
"Memangnya ada waktu khusus untuk melakukannya, hmm?" Axel berhasil melepas gaun itu hingga tergeletak di atas lantai melingkari kaki jenjang gadisnya.
Tubuh Elle sudah terekspos, buah dada yang begitu menggoda. Nyaris keluar dari persemayamannya. Axel menyesurinya dengan telunjuk dari leher dan berhenti tepat dibelahan dada.
__ADS_1
"Daddy menginginkannya," bisik Axel.
Elle langsung mendelikkan matanya, mungkin benar dugaannya, lelaki itu hanya menginginkan tubuhnya. Bukan cinta, melainkan naf*u.
"Beri aku waktu sampai aku siap." Terlalu ragu sehingga Elle tidak bisa menyerahkan mahkotanya begitu saja, bukan tak ingin menjadi istri yang berbakti. Ketakutannya dengan masa lalu sang ayah yang menjadi pertahannya. Butuh bukti atas nama cinta yang diucapkan Axel padanya.
"Waktu apa lagi? Tidak ada alasan untuk mengundurnya."
"Daddy tidak mencintaiku, setidaknya aku bisa menikmati sentuhan dari orang yang mencintaiku. Membuatku nyaman, dan tidak dengan keterpaksaan. Daddy egois!" Dan akhirnya, Elle menangis.
Axel memeluknya mencoba menenangkan gadis labil itu, kenapa jadi malah seperti ini? Pikirnya. Dan Axel juga tidak bisa memaksa Elle karena gadis itu menangis dengan tubuh bergetar.Axel paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis di hadapannya.
"Daddy tidak akan memaksa, Daddy akan menunggu sampai kamu siap." Setelah mengatakan itu, Axel keluar.
_
_
"Ya, Tuan," jawab Jose.
"Kita ke kantor sekarang juga," ajak Axel.
__ADS_1
"Ke kantor?" Jose mengerutkan kening, tadi bilang tuannya akan mengambil cuti untuk beberapa hari, tapi kenapa sekarang berubah pikiran?
"Ayo cepat! Jangan kebanyakan mikir."
Axel keluar rumah, dan melihat penjaga tinggal sedikit. "Kemana penjaga yang lain?" tanyanya.
"Tadi ada beberapa orang datang, sepertinya akan mengganggu acara, Tuan," jawab salah satu anak buahnya.
"Ini pasti ulah Leo," gumamnya, "jangan biarkan orang lain masuk, jaga Elle jangan biarkan keluar sendirian," pesannya.
"Mari, Tuan," kata Jose.
Sedangkan Elle, gadis itu melihat dari jendela. Melihat kepergian sang daddy yang baru saja menjadi suaminya beberapa jam lalu. Beberapa anak buah Axel berjaga, Elle mengerutkan kening.
"Sejak kapan rumah ini ada penjaganya?"
* * *
"Maaf, Tuan. Kami gagal," kata anak buah Leo menunduk.
"Cari cara lain untuk menghancurkan balik. Aku yakin, Axel menikahi putriku hanya untuk balas dendam, kita liat nanti siapa yang akan menderita. Aku tidak peduli dengan gadis itu."
__ADS_1
"Tapi dia anak Anda, Tuan," kata Ronald.
"Salah besar jika Axel berpikir aku akan hancur karena dia menyakiti putriku, dia sendiri yang akan terluka." Leo tertawa karena sudah punya rencana, "untuk sementara, biarkan mereka melewati masa-masa indah mereka setelah mereka sudah saling cinta, kita pisahkan," sambung Leo.