Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Eps_77


__ADS_3

"Daddy ..." Elle menyusul suaminya setiba di rumah. Axel merajuk karena sejak di mobil tadi Elle terus meledeknya. "Daddy ... Aku minta maaf." Elle menyesal karena ia mengungkit masa lalu suaminya yang dulu, di mana Axel tak berniat menikahinya dengan serius. Axel juga ingin melupakan niat jahatnya kepada sang putri.


Axel bersikap demikian karena ia tak ingin mengingat masa lalunya yang kelam, hidup penuh dendam dan itu membuat hidupnya tidak nyaman. "Daddy, jangan marah. Aku minta maaf, aku janji tidak akan membicarakan masa lalumu." Elle terus mengejar kemana pun suaminya pergi, napasnya sampai ngos-ngosan karena harus mengejar suaminya dalam keadaan menggendong anaknya.


Axel tak menggubris, ia sok menyibukan diri. Membuka baju lalu mengambil handuk, ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. "Dasar ABG tua," gerutu Elle yang tak berhasil membujuk suaminya.


Mendengar apa yang diucapkan Elle, Axel kembali membuka pintu lalu menarik tangan istrinya ke dalam kamar mandi. "Bilang apa kamu tadi, hah?" Axel menarik pinggang Elle dan merapatkan tubuh sang istri dengan tubuhnya.


Elle menggelengkan kepala dengan cepat, sepertinya ia salah lagi dengan ucapannya. Kenapa lelaki tua itu jadi pemarah? Apa karena Kevin? Pikirnya. "Maafkan aku, aku tau aku salah," sesal Elle.


"Sepertinya kamu harus Daddy hukum karena hari ini membuat Daddy marah." Andai keadaan Elle tidak menggendong Lexi, mungkin ia akan menghukumnya saat itu juga. "Titipkan Lexi pada Loren," ucapnya. Loren adalah baby sitter Lexi. "Terus kembali karena Daddy akan menghukummu."


"Tidak mau, aku mau istirahat bareng, Lexi. Daddy mandi saja." Ujar Elle seraya melepaskan diri dari pelukan suaminya. Lagi-lagi Lexi yang menjadi penghalangnya, ia tak mungkin membiarkan anaknya lama-lama berada di kamar mandi. Setelah membersihkan diri, ia tak akan melepaskan istrinya. Elle harus tau, hukuman apa yang akan di terima olehnya.


_


_


_


Seusai membersihkan diri, Axel terlihat begitu segar. Rambutnya yang basah membuatnya terlihat semakin tampan, bulu dada yang berjajar rapi menambah kemacoannya sebagai pria.

__ADS_1


Melihat istrinya yang berada di tempat tidur membuat Axel bergairah. Dan Lexi tidak sedang bersamanya. Ia pun dengan cepat menghampiri istri kecilnya itu. Ini saatnya ia menghukum Elle. Duduk di samping istrinya yang terbungkus dengan selimut. Saat membukanya, pemandangan yang menyejukkan mata. Bibirnya tersenyum penuh arti.


Dengan cepat, seseorang dibalik selimut itu menariknya. Memeluknya dengan erat, Elle sendiri tahu apa yang harus dilakukannya agar suaminya tak lagi merajuk padanya. Di dalam selimut, mereka berdua saling menatap.


"Daddy masih marah padaku?" tanya Elle begitu menggoda, menyentuh bibir Axel dengan lembut. Jari jemarinya terus menyusuri bibir suaminya, lalu turun ke leher hingga ke dadanya yang berbulu. Axel masih sok jual mahal, padahal dalam hatinya ia begitu senang akan kepekaan istrinya yang tengah membujuknya.


Elle menaiki tubuh suaminya. Buah dada yang menyembul dan hampir tumpah dari lingeri yang dikenakannya begitu menyuguhkan. Axel hanya menelan salivanya dengan kasar, melihat belahan dada yang begitu menggoda. Tatapannya bergantian, ke wajah dan turun ke dada istrinya.


"Apa Daddy akan marah terus dan mengabaikanku? Padahal aku sangat menginginkannya, apa Daddy tidak tergoda dengan penampilanku?"


Axel terdiam sesaat, masih menahan harga. Sampai mana istrinya akan berusaha? Ia hanya mere*as bok*ng istrinya, godaan yang memang tak bisa dihindari. Para suami akan terdiam dan bertekut lutut jika istrinya yang memulainya.


"Bukankah Daddy akan menghukumku? Aku siap dengan hukumanmu," bisik Elle, tangan Elle yang mulai merambat ke bawah membuat Axel semakin tak tahan, bahkan kepemilikannya sudah menegang. Tubuh Elle merambat ke bawah, memastikan sesuatu di bawah sana memang sudah mengeras. Melepas handuk yang digunakan suaminya lalu membuangnya ke lantai.


Mata yang merem melek dengan menggigit bibir bawahnya sendiri. "Puaskan Daddy malam ini, sayang," bisik Axel.


"Janji akan memaafkanku?" tanya Elle.


"Hmm, tentu. Tapi setelah ini." Axel menekan kepala istrinya ke arah miliknya yang sudah dalam mode on. Elle pun mulai memasukkan milik suaminya ke dalam mulutnya, memberikan sensasi yang begitu memabukkan. Wajahnya maju mundur saat mengulumnya.


"Ah ....," erangan itu pun akhrinya terlepas dari mulut Axel, "lebih cepat sedikit, baby," pintanya.

__ADS_1


Elle terus memainkan lidah, dibantu dengan tangan saat mer*as milik suaminya. Lalu mengapitnya dengan gunung kembar miliknya yang begitu sempurna. Seakan tidak bisa menahan, Axel membuka selimut yang sejak tadi membungkus tubuh mereka. Rasa gerah mulai menjalar, butiran keringat bermunculan di area kening.


Lalu merubahkan posisi sehingga ia yang mengungkung tubuh istrinya. Menyentuh gunung kembar Elle yang ikut menantang, entah sejak kapan kedua gunung itu telepas dari tempatnya. Bahkan lingeri pun masih melekat ditubuh istrinya. Lingeri itu begitu transparan, dengan model bagian dada begitu terbuka sehingga dada itu keluar dengan sendirinya.


Axel membuka paha Elle, melepas segita yang hanya menutupi bagian intinya. Lalu menyesuri inti itu dengan jarinya. Membuka kedua lipatan itu sehingga terbuka dengan sempurna. Dan ia mulai menciumnya, memainkan lidahnya dengan lembut.


"Ah, Daddy ...," racau Elle, menjambak rambut suaminya lalu menekannya menuntut lebih. Jari Axel mulai memasuki lubang kecil, dan lidah yang tak ia lepaskan dari intinya. Memanjumundurkan jari itu dengan cepat. Elle benar-benar mendapatkan hukuman dari suaminya, saat akan mencapai puncaknya, ia melepaskan jari itu serta kecupannya. Sehingga Elle merasakan ada yang tidak tuntas.


Elle memburu dengan hasrat yang tak tersalurkan. Dengan begitu, Elle yang memimpin permainan. Elle menaiki tubuh suaminya dengan cepat ia memasukkan benda mengeras itu ke dalam miliknya. Permainan lincah Elle dinikmati oleh suaminya. Erangan demi erangan menggema di ruangan. Permainan panas itu terjadi hingga beberapa jam. Dengan banyak gaya mereka praktekkan.


Beberapa menit kemudian, keduanya mencapai puncaknya dalam posisi Elle yang berada di bawah dengan kaki terangkat berada di pundak. Axel memejamkan mata saat menikmatinya. Cairan itu membanjiri ruang rahim istrinya.


"Terima kasih, sayang. Kamu hebat," puji Axel. Permainan Elle yang tak diragukan, seiring berjalannya waktu istrinya dapat memuaskannya tanpa ada yang diminta. Axel mencium kening istrinya, lalu mencabut miliknya, merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


Elle pun tak kalah lemas, beberapa kali ia mencapai puncaknya. Rasa bahagia dan rasa dicintai dapat ia rasakan.


"I love you," ucap Axel.


"I love you to," balas Elle. Ia pun memeluk tubuh suaminya dan mulai memejamkan mata karena lelah dan mengantuk menjadi satu.


* * *

__ADS_1


Bab ekstra ya ini. Panjang banget, awas kalau masih ada yang bilang kurang🤭🤭


__ADS_2