
Setelah acara makan malam, Axel segera pergi untuk pulang ke rumah. Kenapa ia bisa sebodoh ini? Setelah ia mendapatkan berkas penting mengenai perusahaannya dengan mudahnya ia melupakan Elle. "Lebih cepat sedikit, Jose," pinta Axel, memerintahkan Jose mempercepat laju mobilnya.
Mobil pun langsung melesat. Tak membutuhkan waktu lama setibanya di rumah. Axel segera masuk ke dalam untuk menemui Elle, masuk ke kamar gadis itu. Terlihat Elle yang tertidur meringkuk di atas ranjang miliknya. Dengan gaun yang dikenakannya malam ini.
* * *
"Mis, apa Daddy lupa kalau dia ada janji denganku?" tanya Elle menunggu suaminya pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Elle gelisah menanti. Saking kesalnya ia membanting tubuhnya di kasur. Sudah dandan cantik malah kecewa.
Carla tak dapat berkata apa-apa, pikirannya pun mulai buruk. Apa tuannya sengaja memberikan harapan palsu? Kekhawatiran mulai terasa, tidak ingin membuat mood Elle semakin berantakan ia pergi dan langsung menghubungi Jose.
"Cepatlah pulang, dan bawa tuan Axel pulang," ucap Carla pada sambungannya pada Jose. Ponselnya kembali di tutup, sebelum meninggalkan kamar, Carla menoleh ke arah tempat tidur dari ambang pintu, lalu pergi.
Elle tak sengaja tertidur, sampai dengkuran halus mulai menggema di dalam kamar. Saat Axel datang menemuinya pun ia tidak tahu karena tidur begitu pulas Axel menghampiri, duduk di tepi ranjang sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
__ADS_1
Merasa ada yang menyentuh kulitnya, Elle membuka mata. Lalu beranjak dan mendudukkan diri. "Daddy." Elle memeluknya, "aku kira Daddy tidak akan pulang malam ini, apa kita bisa makan malam sekarang? Aku kelaparan sampai tertidur," ucap Elle.
Axel membelai punggung gadis itu. "Maafkan Daddy, Daddy tidak bermaksud membohongimu. Tapi ini sudah malam, apa akan tetap makan malam?" tanya Axel.
"Tentu, aku tidak mau melewatkan kencan pertama kita." Axel benar-benar merasa bersalah.
_
_
_
"Daddy punya sesuatu untukmu." Axel memberikan seikat bunga kepada istri kecilnya, dan Elle menerimanya dan langsung mencium bunga tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih, Daddy. Aku mencintaimu." Elle memeluk pria itu dari samping.
"Ya, Daddy juga mencintaimu." Untuk yang pertama kalinya ia mengucapkan kata cinta atas kesadaran sendiri. Malam indah itu membuat keduanya bahagia. Perusahaan pun sudah kembali di tangan. Tinggal meyakinkan nasib Leo bahwa lelaki itu harus hancur, dan kembali pada kehidupannya. Berarti, pria itu masih memiliki tempat pelacuran, dan itu harus dimusnahkan.
Seusai makan malam.
Malam-malam mereka berakhir di tempat tidur, melakukan penyatuan dengan penuh cinta. Keduanya menikmatinya, Axel merasakan perbedaan. Tanpa rasa benci lagi kepada gadis itu, apakah ini ada hubungannya dengan kembalinya perusahaannya?
Sementara di tempat lain, Leo mencari berkas penting mengenai risort. Ia akan mengembangkan risort itu lebih dalam. Mendapatkan investasi besar, dan ia butuh berkas itu untuk bukti bahwa ialah pemiliknya.
Terus mengobrak-abrik seisi laci dan brangkas, tapi tak kunjung ketemu. "Ronald ..." Panggil Leo berteriak penuh dengan amarah, ia ingat betul kapan terakhir ia menyimpan berkas tersebut.
"Ya, Tuan." Ronald datang dengan detak jantung yang tidak beraturan.
__ADS_1
"Berkasnya hilang, kamu lihat 'kan kalau kemarin aku meletakkannya di sini?" Tunjuk sebuah laci. Ronald mengangguk karena ia memang melihatnya, "cek cctv, aku mau tau siapa yang sudah berani masuk ke ruanganku tanpa seizinku." Tangannya mengepal ketika melihat rekaman cctv, "kurang ajar!!!" ucapnya dengan nada marah.