Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Eps_80


__ADS_3

Mobil terparkir dengan sempurna, di halaman yang begitu luas dan dihiasai oleh tanaman bunga-bunga bermekaran yang begitu indah. Axel melihat penampilan diri di cermin sebelum turun dari mobil, menyentuh dagu dan tersenyum tipis. Ia membayangkan ekspresi sang istri nanti saat bertemu dengannya.


Dengan bangganya ia turun dari mobil, tak sabar ingin bertemu dengan istri tercinta. Saat ia hendak melangkah, ia merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin menoleh ke arah samping kiri mobilnya. Melihat mobil yang sudah tak asing lagi baginya.


Axel mendengus kesal. "Ngapain dia di sini?" gerutunya, "apa dia tau aku gak di rumah makanya dia bertamu untuk bertemu istriku?" Cepat-cepat, ia segera masuk karena penasaran akan keberadaan Olan, tamu yang tak pernah ia harapkan hadir di rumahnya.


Brakkk ...


Pintu ia buka dengan kasar, melihat keberadaan Jose dan Carla di sana. Di mana pria itu? Axel mengarahkan pandangan ke setiap ruangan. Jose dan Carla pun terheran-heran melihat Axel datang tanpa menyapa akan keberadaannya.


"Tuan," panggil Jose.


Axel mengangkat tangan ke udara, ia tak ingin anak buahnya bercakap. Ia ingin bertemu istrinya, tapi di mana mereka? Kenapa Olan pun tak ada di dalam rumahnya.


"Tuan, Non Ell di kamar. Dia marah karena Tuan tak kunjung pulang," kata Carla.


Axel melihat ke arah Carla. "Marah? Marah kenapa? Aku salah apa?" tanya Axel, "di mana, Olan? Kenapa dia ada di sini? Apa dia mau menemui istriku disaat aku tidak ada di rumah?"


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang Axel, "kenapa selalu berpikir kalau aku akan merebut istrimu?" tanya Olan.


"Karena keberadaanmu patut dicurigai, lantas, apa yang kamu lakukan di rumahku? Bukankah tidak ada yang perlu kita bahas atau kita urus?" tanya Axel.


"Jose, kamu jelaskan pada pria pemarah ini. Aku mau pulang karena urusanku sudah selesai." Olan pun segera pergi, sesaat, ia bertemu dengan Loren dan melihat tengah bersama Lexi. Olan menghampiri karena ingin menyapa Lexi yang tengah di gendong oleh pengasuhnya. "Anak lucu." Olan mencium Lexi, dan disaat itu melihat wajah sang pengasuh.


Loren pun menunduk mengalihkan tatapan Olan. Setelahnya, Olan pun pergi tanpa menyapa pengasuh Lexi. "Jose, aku pergi," teriak Olan.


"Iya, terima kasih sudah mengantarku kemari," jawab Jose. Axel pun mendengar, menurut Jose sudah tidak perlu menjelaskan akan keberadaan Olan di rumahnya.


"Temui istrimu, sepertinya dia marah," kata Jose, "apa tadi yang dicuci?" tanya Jose lagi.

__ADS_1


Axel berpikir, mungkin itu yang membuat Elle marah padanya. Lagi-lagi salah paham, Elle selalu berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Padahal ia tengah merubah penampilan hanya untuk membuatnya senang dan mengimbanginya karena umur merekanyang begitu terpaut jauh.


"Ada yang aneh," ucap Carla, "tapi apa ya?" Carla menyentuh dagu sambil berpikir, melihat penampilan tuannya.


"Jangan berisik," cetus Axel, "kalian boleh pulang, aku rasa kalian sudah tidak ada urusan di sini."


"Ya, untukmu tidak. Non Ell membutuhkanku di sini, aku berniat akan bermalam," jawab Carla. Sudah tidak ada kecanggungan antar pegawai dan majikan itu karena Carla sudah menganggap mereka sebagai saudara. Begitu pun dengan Axel, tanpa Carla mungkin Elle tidak mungkin menjadi wanita seperti sekarang.


Bisa jadi, sifatnya akan seperti Leo atau pun Hanna. Manusia yang tak memiliki hati dan tak tahu berterima kasih. Carla menjadikan Elle wanita yang sangat baik dan perlakuannya pun baik.


Axel tak mengedahkan ucapan Carla yang akan bermalam di rumahnya, ia harus segera menemui istrinya untuk meluruskan kesalahpahaman mereka.


*


*


*


Jika sudah marah begini, Axel harus lebih sabar menghadapi istrinya. "Apa semua wanita susah diajak bicara kalau sudah marah?" ucapnya sendiri. "Ell, buka dong pintunya. Kamu salah paham, sayang." Axel terus mengetuk pintu.


Klek


Pintu terbuka. Elle muncul dari balik pintu, tapi wajahnya menunduk karena masih merajuk. Axel segera memeluknya dan mencium pucuk kepala Elle.


"Kamu kenapa, hmm?" Kenyataan yang membuatnya tak sesuai harapan, padahal, Axel membayangkan saat dirinya pulang, Elle melihatnya dengan tatapan cinta karena ia sudah merubah penampilannya. Memeluknya, menciumnya, bahkan memujinya karena terlihat lebih muda. "Kamu marah? Tatap Daddy." Axel melepas pelukkannya.


Elle pun mendongak melihat wajah tampan suaminya. Jengget yang bertebaran di area dagu dan pipi itu hilang. Ada yang aneh saat melihatnya, merasa ada yang kurang. Elle menyentuh pipi itu. Dan Axel sudah merasa bahagia karena ia pikir bahwa istrinya menyukai penampilannya.


"Daddy mencukurnya? Rambut, Daddy. Kamu apakan rambut itu?"

__ADS_1


"Kamu suka? Daddy merubahnya, kamu suka 'kan?" tanya Axel.


"Jelek, aku tidak suka. Aku lebih suka Daddy ada jambangnya, kenapa harus dihilangkan?" Elle terlihat kesal, "Daddy jelek, aku tidak suka." Elle pun masuk ke dalam kamar, dan disusul oleh suaminya.


Gagal, Axel kira istrinya akan menyukainya. Ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu bagaimana? Ini sudah terjadi, jambangnya tidak akan tumbuh dalam satu hari.


"Jangan nampakkan wajah Daddy sebelum jambang itu tumbuh, karena itu yang membuatku suka padamu," celetuk Elle.


Axel sangat terkejut saat mendengarnya. Oh ... Tidak! Lebih baik ia mendapatkan hukuman apa pun dari pada harus seperti ini, menunggu jambang itu tumbuh, yang benar saja.


"Rambutnya juga tidak usah diberi warna, Daddy menolak tua? Semua akan tua sesuai pergantian tahun," cetus Elle.


Tahu begini, ia tak akan mencukur jambang. Wanita pegawai di salon menyarankan jambangnya dicukur karena akan terlihat lebih muda, katanya. Selera wanita itu beda-beda, kenapa ia lebih percaya pada wanita itu? Jelas-jelas Elle selalu menyentuh wajahnya dibagian pipinya yang berbulu.


"Daddy pergi saja, aku mau tidur. Tapi awas, jangan temui Loren!"


"Daddy harus sendiri gitu? Daddy tidur di mana kalau kamu tidak mau melihat suamimu ini? Jangan seperti, sayang. Daddy tidak bisa tidur tanpa memelukmu," rayu Axel.


"Siapa suruh mencukur jambang dan memberi warna pada rambutmu tanpa bertanya padaku? Daddy itu hidup bersamaku, jadi kalau ada apa-apa diskusi dulu," cetus Elle.


"Tapi ini bisa tumbuh lagi," bela Axel.


"Ya udah, tunggu saja sampai tumbuh. Setelah itu baru boleh menemuiku!" ujarnya, "siapa suruh berdandan ala-ala ABG?" gumamnya.


Axel keluar dari kamar dengan langkah gontai, dapat pengusiran itu lebih menyakitkan. Axel mengacak rambutnya frustrasi. Menuruni anak tangga secara perlahan. Kedatangannya ke ruang tamu membuat Jose dan Carla terus menatap ke arahnya.


"Jangan bersuara, dan jangan bertanya!" hadrik Axel kepada sepasang suami istri itu.


...----------------...

__ADS_1


Selamat hari raya Idul Adha, mohon maaf lahir batin ya.😇😇🙏🙏


__ADS_2