
Pagi hari.
Elle sudah sibuk di dapur. Rambutnya yang basah ia biarkan tergerai, ibu muda itu menunjukkan jati diri sebagai seorang istri. Axel sendiri tak menyangka bahwa istrinya begitu mahir dalam menghidangkan makanan kesukaannya. Elle juga tak mengandalkan asisten jika hanya untuk mengurus suaminya. Mengurus suami dan anak adalah tugas nomor satu, baby sitter pun mengurus Lexi jika hanya sedang repot seperti ini.
Saat Elle meletakkan piring di atas meja, tiba-tiba dari arah belakang sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Elle pun menoleh sembari memberikan senyum termanisnya pagi ini.
"Pagi, Dad," sapa Elle.
"Pagi juga, sayang. Lexi di mana?" tanyanya.
"Diajak jalan pagi sama Loren, mau sarapan sekarang?" tawar Elle.
"Hmm, hari ini Daddy telat pulang. Tidak usah menunggu, kalau mengantuk tidurlah duluan," ucap Axel.
"Ada acara di kantor?" tanya Elle.
"Iya, Jose baru pulang dari bulan madu, teman-teman di kantor mengadakan acara makan di luar. Semuanya laki-laki, makanya Daddy tidak mengajakmu."
"Aku mau menyuruh Mis Carla kemari, biar nanti Uncle Jose yang menjemputnya. Bagaimana?"
"Ide bagus."
Tak lama dari situ, Loren datang sambil mendorong kereta bayi. Lexi tertidur sehabis dibawa jalan-jalan oleh baby sitter-nya. Saat tiba di sana, Loren melihat ke arah Elle. Ingin bertanya tapi takut tidak sopan, ia sendiri menilai majikannya. Dapat dilihat dari wajah mereka, umur yang terpaut begitu jauh. Axel lebih pantas jadi ayahnya, kenapa wanita secantik Elle mau dengan lelaki tua seperti Axel? Pikirnya.
Loren tidak tahu menau jalan cerita Axel dan Elle, sehingga ia begitu tak menyangka. Elle bisa mendapatkan laki-laki jauh yang lebih tampan dan mapan. Sibuk dengan pemikirannya, ia sampai tak mengkhiraukan pertanyaan Axel padanya.
"Loren?" panggil Axel. Wanita itu masih melamun.
"Mis Loren?" tanya Elle sembari melambaikan tangan. Wanita yang berumur hampir 30 tahun itu pun akhirnya terkesiap.
__ADS_1
"Ah, iya." Loren sampai mengerjapkan mata karena terkejut.
"Masih pagi sudah melamun, Mis Loren tidak apa-apakan?" Elle takut wanita itu tidak enak badan atau apa.
"Ti-tidak apa-apa," jawab Loren.
Elle merasa aneh, kenapa wanita itu? Apa yang dipikirkannya? Elle sendiri belum begitu mengenal jauh baby sitter anaknya, menurut suaminya baik ia hanya ngikut saja tanpa memikirkan ke depannya akan seperti apa. Cukup membantu mengurus Lexi dan tidak berbuat macam-macam ia tak akan bertanya mengenai hal pribadi. Sudah hampir satu minggu Loren bekerja sebagai pengasuh tetap, biasanya Elle hanya menitipkan satu hari atau satu malam saja.
Karena menurut Axel, istrinya membutuhkan baby sitter, meski awalnya menolak Elle pun akhirnya setuju untuk memakai jasa Loren. Merasa kasihan kepada istrinya jika harus Elle yang mengurus semuanya. Meski Elle terbilang masih kecil, ibu muda itu sangat paham dalam segala hal. Termasuk adanya baby sitter yang dimungkin sesuatu terjadi. Tapi Elle yakin bahwa suaminya hanya mempekerjakan Loren.
Jika Elle tak banyak bertanya kepada baby sitternya, bukan berarti ia tak bisa memantau wanita itu. Ia pun bisa merasakan tatapan Loren yang begitu beda terhadap suaminya. Axel, semkin tua semakin terlihat tampan. Wanita mana pun bisa tergoda.
"Mis Loren, Mis bisa tidurkan Lexi? Aku mau bicara sebentar dengan suamiku," pinta Elle.
"Tentu." Loren menatap Axel sekilas. Dan tatapan itu tak luput dari sudut pandang Elle.
"Tunggu," ucap Axel menghentikan langkah Loren. Axel berjongkok lalu mencium pipi Lexi yang semakin gembul dan lucu.
"Daddy, sebenarnya aku kurang begitu suka jika Loren bekerja di sini. Kalau boleh, aku mau mis Carla yang menemaniku dan membantuku mengurus Lexi. Tatapan Loren beda saat melihatmu, aku tidak suka," kata Elle.
"Tapi Carla sudah berumah tangga, Jose tidak mungkin setuju. Loren baik, dia tidak mungkin macam-macam. Percaya pada, Daddy." Axel mencium bibir Elle sekilas, ia tak ada waktu untuk membahas masalah yang menurutnya itu tidak masuk diakal.
Loren baby sitter berpengalaman, ia pikir tentu bisa mengurus Lexi dengan baik. Axel tidak tahu kekhawatiran istrinya, yang dimaksud Elle bukan mengenai masalah mengurus Lexi. Yang ia khawatirkan wanita itu menyimpan hati pada suaminya. Tatapan Loren beda, tatapan penuh arti, menurutnya.
"Daddy takut terlambat, Daddy berangkat dulu. Kamu jangan memikirkan yang tidak-tidak, Daddy akan langsung pulang setelah acara selesai."
"Suruh uncle Jose mengantar mis Carla kemari, aku rindu padanya."
Tanpa diketahui oleh keduanya, ternyata Loren menguping pembicaraan mereka. Wajahnya terlihat kesal saat mendengar penuturan Elle saat tadi. Emang begitu terlihat dari sikapnya? Pikir Loren. Siapa yang tak mengenal Axel, saat Loren diminta menjadi baby sitter ia senang bukan kepalang. Ia kira, istri dari tuan Axel seorang wanita yang sudah berumur. Nyatanya, istrinya lebih muda dan terlihat begitu cantik.
__ADS_1
Niat awal bekerja, bukan cuma uang yang menjadi prioritas utamanya. Memiliki majikan tampan tentu menjadi idamannya. Loren menyandang status perawan tua, mengidamkan sosok suami seperti Axel adalah impiannya. Tapi impian itu hancur saat tahu siapa yang menjadi istri dari seorang Axel.
_
_
_
Permintaan istrinya, Axel mengabulkan keinginannya itu. Ia menyuruh Jose untuk mengantarkan istrinya ke rumahnya. Elle senang saat Carla datang menemuinya. Mereka pun berpelukkan saling melepas rindu. Axel memberi Jose cuti selama 1 bulan penuh, berharap dengan bulan madu mereka segera memiliki momongan.
"Mis, aku rindu sekali," ucap Elle setelah melepaskan pelukkan mereka.
"Ya, Mis juga rindu padamu. Lexi di mana?" tanya Carla.
"Di dalam, bersama Loren."
"Loren? Siapa Loren?"
"Baby sitter Lexi, dia yang membantuku setelah Mis menikah. Aku tidak mempercayakan orang lain selain Mis untuk menjaga Lexi, tapi daddy memintaku untuk menerimanya bekerja di sini."
Carla jadi ikut memikirkan kekhawatiran Elle, tapi ia tak mungkin selamanya berada bersama Elle. Dirinya sudah menikah. Carla meyakinkan hati Elle, semuanya akan baik-baik saja.
"Loren pasti menjaga Lexi dengan baik, percaya pada suamimu. Tuan Axel orang yang cukup setia, dia tau rasanya dikhianati. Tuan Axel tidak mungkin mengkhianatimu." Dapat ditebak dari wajah Elle yang khawatir, bukan karena Lexi, melainkan perasaannya yang takut suaminya berpaling. "Kamu masih muda, juga cantik. Tidak mungkin suamimu berpaling."
Tetap saja, Elle takut akan hal itu terjadi. Pantas, suaminya sampai marah padanya waktu kemarin ia bertemu dengan Kevin. Kini ia sendiri merasakan ketakutan itu.
"Lalu aku harus bagaimana, Mis? Percaya saja kalau Loren tidak akan macam-macam pada suamiku? Tapi tatapan dia aneh, menyimpan sesuatu untuk suamiku."
"Percayalah, hubungan akan kekal jika dilandasi kepercayaan. Tuan mencintaimu, Nona Elle," goda Carla.
__ADS_1
"Semoga saja. Sudahlah, kita terlalu lama berada di luar. Lexi pasti senang kamu datang." Elle dan Carla pun akhirnya masuk ke dalam rumah.