Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Episode_055


__ADS_3

Axel segera pulang saat mendapat kabar tentang Elle. Ternyata gadis itu bersama Olan, Axel sempat marah saat mendengarnya, kenapa gadis itu bisa bersama pria itu? Pikirnya. Betapa cemburunya Axel saat Olan mengabarinya.


Axel sudah sampai di rumah lebih dulu, ia menunggu kepulangan istrinya. Tak lama, ia mendengar suara mobil terparkir di depan rumah. Dengan segera ia menghampiri, setibanya di depan, Elle turun dari mobil dan melewati tubuhnya begitu saja, jangankan untuk menyapa menoleh pun ia tak sudi.


"Kenapa dia?" tanya Axel pada Olan.


"Istrimu?" tanya Olan.


Axel terkejut saat mendengarnya, tau dari mana? Apa mungkin Elle yang memberitahukannya? Pikirnya.


"Temuilah, ajak bicara baik-baik istrimu sedang marah." Setelah mengatakan itu, Olan segera pergi.

__ADS_1


* * *


"Ell? Buka pintunya, kenapa ke kamar ini?" tanya Axel di depan pintu kamar Elle, gadis itu mengurung diri. Elle benar-benar marah, mungkin jika bukan Olan yang menasehatinya ia tak akan pulang. Tidak tinggal diam, Axel membuka pintu dengan kunci cadangan dan akhirnya ia bisa masuk ke dalam sana.


Elle tengah tertidur, ia tak ingin bertegur sapa dengan suaminya. "Sayang, kamu kenapa? Abis dari mana bersama pria itu, hah?" Elle tetap diam, "Daddy tau kamu belum tidur, coba katakan apa yang sebenarnya terjadi? Jangan diam seperti ini." Axel mencoba menyentuh punggung gadis itu, Elle menggerakan pundak seraya menolak sentuhan itu.


"Tolong, jangan seperti ini. Daddy minta maaf kalau Daddy punya salah, tapi apa salah, Daddy?"


"Aku cape, aku mau tidur, aku mau sendiri," ucap Elle. Bukannya pergi, Axel malah memeluknya dari belakang. Tubuh Elle bergetar karena menangis, tak kuat menahan rasa sakit yang ia rasakan karena menjadi alat balas dendam.


Hoek .... Elle merasa mual mencium aroma tubuh suaminya, ia segera berlari ke kamar mandi mengeluarkan semua isi perutnya. "Kamu kenapa? Masuk angin?" tanya Axel. Lagi-lagi Elle tidak menjawab, gadis itu membersihkan mulut dan segera pergi ke dapur. Mungkin dengan minum air hangat mualnya sedikit berkurang.

__ADS_1


Di dapur pun Elle selalu memijat keningnya, pusingnya terasa kembali. Merasa baikkan karena minum air hangat. Axel sedari tadi bersamanya, tapi bingung harus seperti apa, Elle tidak bersuara sama sekali. "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya seraya menyentuh istrinya.


"Jangan menyentuhku!" sentak Elle.


"Kamu itu kenapa? Pulang bersama Olan sikapmu langsung berubah, apa kamu mencintai lelaki itu? Apa kamu akan mengkhianatiku seperti ibumu mengkhianatiku?" Axel tidak bisa menjaga kata-katanya karena terlalu cemburu.


Terlalu malas untuk berdebat, Elle meninggalkan suaminya sendirian di dapur. Beban pikirannya terlalu berat. Elle menyentuh perutnya yang masih rata sembari menoleh ke belakang sekilas, lalu segera pergi kembali ke kamar. Mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terlalu lelah.


Axel merenung di sofa, apa salahnya? Merasa tidak ada salah, tapi kenapa istrinya marah sampai segitunya? Rasa kantuk mulai terasa, karena sudah terlalu larut, Elle pun pasti sudah tidur, pikirnya. Axel berniat tidur bersama istrinya, menemui Elle yang sudah tidur lebih dulu. Elle benar sudah tidur dengan nyenyak, saat ia memeluknya dari belakang gadis itu tak merespons. Axel menyusul mimpi istrinya


Sampai keesokan harinya, saat Axel terbangun ia tak mendapati Elle. Gadis itu sudah tidak ada Axel mengedarkan pandangan, hingga matanya menangkap selembar kertas di atas nakas. Karena penasaran ia pun mengambilnya dan membacanya.

__ADS_1


Maafkan aku jika aku bersalah, tapi aku tidak bisa hidup bersama orang yang memiliki dendam apa lagi berniat menghancurkanku, terima kasih sudah membesarkanku. Daddy berhasil menghancurkan hidupku, dendam-mu sudah terbalaskan. Aku pergi, Daddy. Maafkan aku.


Axel merema* surat itu, seketika tubuhnya terasa lemas dan berlutut di lantai. "Elle ....," teriaknya.


__ADS_2