Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Eps_79


__ADS_3

Di kantor.


Axel baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia dan Jose mengadakan acara di sebuah cafe. Rekan-rekan bisnis berkumpul karena undangan dari Axel. Termasuk undangan untuk Olan, sebetulnya Axel kurang menyukai pria itu. Karena ia merasa bahwa lelaki itu masih memiliki perasaan pada Elle. Cinta pertama tentu akan sulit untuk dilupakan.


Disaat semua sudah berkumpul dan menikmati hidangan yang sudah disediakan, tatapan Axel tertuju pada Olan. Pria itu tampan rupawan, dengan gaya model rambut terkini saat ini. Ia sampai berpikir, kalau ia pergi ke salon dan mengubah gaya rambutnya, istrinya pasti akan lebih mencintainya. Pikir Axel yang masih melihat ke arah Olan.


Elle masih muda dan cantik, ia harus bisa mengimbangi wanita itu. Tidak boleh lengah, meski Elle sudah menjadi miliknya itu tak menjamin bahwa tak ada lelaki lain yang mengincar. Sibuk dengan pemikirannya, ia sampai tak tahu bahwa Olan sudah duduk di sebelahnya.


"Istrimu tidak diajak?" Pertanyaan Olan membuat Axel langsung menoleh.


"Apa yang lain membawa pasangan?" tanya balik Axel. Olan hanya tersenyum tipis, padahal ia hanya menanyakan saja tidak ada maksud apa-apa. "Kamu sendiri masih betah menjomblo, apa tidak ada wanita yang tertarik padamu? Jangan bilang kalau wanita incaranmu sudah menjadi milik orang lain, itu jawaban basi."


Olan menghembuskan napas kasar, kenapa pria itu selalu memojokkan dengan wanita yang ia sukai sudah menjadi milik orang lain? Apa pemikirannya selalu terarah pada Elle? Pikirnya. Tidak bisa dipungkiri, Elle memang wanita yang memiliki sejuta pesona. Ia juga sampai heran, kenapa wanita itu malah memilih pria tua? Padahal wanita itu bisa mendapatkan yang lebih darinya.


"Jangan selalu memikirkan istriku, rumah tanggaku lagi bahagia-bahagianya," celetuk Axel. Axel terlalu cemburu buta, sampai selalu berpikir bahwa Olan akan merebut Elle darinya. Bukannya wajar jika seorang pria memuja wanita? Pikiran Axel saja yang terlalu berlebihan.


Tak lama, Jose pun menghampiri. "Masih belum akur?" tanya Jose pada Axel.


"Akur?" ulang Olan, "memangnya siapa yang bertengkar? Bos mu selalu berpikir buruk tentangku, bilang padanya jaga istrinya baik-baik." Olan beranjak dari tempatnya, lalu. "Oh iya, jangan lupa bahwa ada laki-laki lain yang menanti." Olan selalu menakut-nakuti Axel bahwa dirinya akan merebut istrinya darinya.


Axel mengepalkan tangan karena kesal dengan sikap Olan yang selalu seperti itu. Olan sendiri suka saat menggoda Axel, karena menurutnya cinta Axel memang begitu besar kepada Elle. Ia tak ingin Axel menyia-nyiakan istrinya. Apa lagi dengan niatnya waktu dulu. Jika itu terjadi, maka ia-lah orang pertama yang akan merebut Elle dari suaminya.


"Olan hanya menggodamu, dia hanya becanda. Lagian, Olan sedang dekat sama seseorang," ucap Jose.


"Aku tidak percaya, dia masih mencintai istriku, Jose," kekeh Axel.


"Ah, terserah. Cemburumu tidak masuk diakal, jika Olan memang berniat merebut nona Elle, sejak dulu dia sudah melakukannya. Olan orang pertama yang tau soal kehamilan nona Elle."


"Jangan membahas masa lalu, kamu tau masa laluku membuatku selalu merasa bersalah pada istriku," kata Axel penuh penyesalan.


"Makanya, bersikap biasalah pada, Olan. Dia bukan pria brengsek yang suka merebut pasangan orang," yakin Jose. "happy enjoy." Jose menepuk bahu bosnya, lalu ikut bergabung dengan rekan-rekan yang lain. Jose bersulam untuk merayakan hari bahagianya yang ke satu bulan.


"Apa kata Jose benar?" gumam Axel, "apa aku harus percaya pada pria itu? Percaya bahwa dia tidak akan merebut istriku?" Axel jadi pusing sendiri dengan segala pemikirannya yang kacau. Dari pada pusing sendiri, akhirnya ia ikut bergabung dengan teman-teman yang lain.

__ADS_1


* * *


Acara pertemuan itu pun akhirnya selesai. Axel sudah janji bahwa ia akan langsung pulang hari ini.


"Jose, aku pulang duluan," ucap Axel.


"Kenapa buru-buru?" tanya teman yang lain.


"Paling mau kelonin istri mudanya," sahut yang lain.


"Iya, sudah sana pulang. Jangan dianggurin kalau punya istri muda, apa lagi sangat cantik," goda teman yang lain.


Axel langsung melirik ke arah Olan saat teman yang lain menggodanya. Sedangkan Olan, pria itu diam saja. Bahkan menoleh pun tidak, karena menurutnya Axel tidak bersahabat dengannya. Kalau ia ikut menimpali, akan lain ceritanya. Axel bisa marah beneran padanya, diam lebih baik menurutnya.


"Aku tidak akan memberi celah pada pria lain," sahut Axel, "aku duluan," pamitnya kemudian.


_


_


"Sore, Tuan," sapa pegawai baber shop itu, "ada yang bisa kami bantu?" tanyanya kemudian.


"Aku ingin model rambut terbaru, terus beri warna yang cocok untukku," pinta Axel.


"Oke, kami siap melayani."


Axel duduk di depan cermin besar. Rambutnya mulai dibasahi dan disisir. Pegawai itu mulai mengerjakan tugasnya, dengan tangannya yang sudah mahir, pria tapi bertubuh gemulai itu merapikan rambut pelanggannya. Memberikan kepuasan pada pelanggan barunya itu.


Axel melihat tangan gemulai itu dengan cekatan, meski hasilnya belum terlihat tapi ia yakin bahwa hasilnya pasti memuaskan. Dapat dirasakan saat tangan gemulai itu menyisirnya. Beberapa menit kemudian, tatanan rambutnya sudah selesai. Kini tinggal dicuci lalu diberi warna sesuai keinginan.


Satu jam sudah berlalu. Ponsel Axel sudah berdering, ia melihat ponsel. Di layar terpang-pang nama istrinya. "Ya, sayang," jawab Axel mengangkat panggilan.


"Daddy di mana? Uncle Jose sudah pulang, kenapa Daddy belum?"

__ADS_1


"Sebentar lagi Daddy pulang, ini belum selesai," kata Axel.


"Tuan, sudah waktunya dicuci." Pegawai wanita menghampiri.


Elle yang mendengar langsung nyerocos. "Daddy di mana? Dicuci apanya?" Nada itu terdengar kesal di pendengaran Axel. Tapi Axel tidak menggubris, ia harus segera melakukan pencucian rambut karena kepalanya sudah merasa pusing akibat terlalu lama berada di barber shop.


"Sayang, sudah dulu ya. Daddy janji akan pulang setelah ini." Axel langsung menutup ponselnya tanpa memberikan kejelasan, ia akan memberikan kejutan untuk istrinya nanti.


Akhirnya, setelah hampir dua jam berada di barber shop, kini Axel merasa puas. Rasa pusing di kepala terbayar saat melihat hasilnya. Dengan gaya model rambut terbaru dan rambut itu kini memiliki warna yang sangat bagus, sehingga auranya terpancar.


"Terima kasih," ucap Axel setelah membayar. Ia keluar dari barber shop sembari bersiul. Para wanita yang berada di parkiran sangat terpukau saat melihatnya. Tanpa ia ketahui, bahwa Elle sudah berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


_


_


_


"Tenangkan dirimu," kata Carla.


"Uncle, Daddy tadi pamit kemana?" tanya Elle berulang kali, "Uncle jangan bohong padaku!" Elle menajamkan mata karena merasa bahwa Jose sudah bersekongkol membohonginya. Jose selalu menjawab bahwa ia tidak tahu apa-apa.


"Olan, kamu pasti tau kemana suamiku pergi. Kemana dia pergi?" tanya Elle. Kebetulan, mobil Jose ban nya bocor. Sehingga Olan memberi tumpangan pada temannya itu. Lagi-lagi Elle tidak mendapatkan jawaban. Elle terlihat kesal karena suaminya pergi entah kemana.


...----------------...


Info, aku bawa karya temanku. Selagi menunggu aku up, kalian bisa mampir di sini. Sekalian, bantu aku mengembalikan rate ku, kalian klik tanda bintang di sebelah popularitas, beri rate bintang 5 ya kawan. Gratis ko🤭🤭 cukup klik bintang 5nya, terima kasih.



Cerita ini lanjutan dari Cerpen "Aku Hamil Anak Mantan Pacarku."


Dina Aurelia, seorang wanita berusia 24 tahun yang harus menerima sebuah kenyataan pahit, mengetahui kalau dirinya hamil anak mantan pacarnya. Lebih menyakitkan lagi, Dina mengetahui kehamilannya, disaat Nando telah resmi menikahi wanita lain. Hal itu terjadi disaat malam pengantin Nando dan Mira.

__ADS_1


Dina mencoba untuk meminta pertanggung jawaban kepada Ernando Ari, mantan kekasihnya. Namun, sebuah tamparan penolakan Dina dapatkan dari Nando. Nando tak mengakui kalau anak itu anaknya dan menuduh Dina bermain dengan pria lain.


Bagaimana nasib Dina? Jalan apa yang akan Dina pilih? Iklhas atau berjuang mendapatkan ayah dari anaknya?


__ADS_2