
"Setalah Daddy mengatakannya, apa kamu tidak akan berubah? Tetap di sini bersama, Daddy?"
"Tentu," jawab Elle.
Axel menangkup kedua pipi Elle, menempelkan keningnya di kening gadis itu. Menarik napas sebelum ia mengakui semuanya. Jantungnya ikut berdebar dengan cepat. Tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Tanpa ia ketahui, Elle akan baik-baik saja. Dirinya sudah tahu yang sebenarnya, ia hanya ingin memastikan benar adanya. Mendengar pengakuan pria itu secara sadar.
"Katakan, katakan semuanya padaku," kata Elle.
"Daddy ..." Lama ia tak melanjutkan ucapannya, terlalu takut untuk mengakuinya.
"Katakan! Jangan buat aku gemas!" dengus Elle.
"Daddy ... Daddy bukan Daddy-mu. Tidak ada ikatan darah di antara kita," jawab Axel, "are you, okey?" tanyanya, melihat Elle sedikit menjauh seolah terkejut.
__ADS_1
Namun dengan cepat, Axel meraih tubuhnya. Mendekapnya memberi kenyamanan.
"Lalu di mana Daddy-ku? Apa aku bisa bertemu dengannya?" tanya Elle yang masih berada dalam pelukkan laki-laki itu.
"Cukup Daddy saja yang menjadi orang tuamu, dia brengsek, dia juga yang sudah membunuh mommy. Istri, Daddy."
Penuturan Axel membuat Elle terkejut, pasalnya ia baru mengetahui hal ini. Yang ia tahu, mommy-nya meninggal saat melahirkannya. "Apa Daddy pergi lama karena ini? Daddy meninggalkanku karena membenci kehadiranku?" tanyanya.
"Tidak, ada urusan yang harus Daddy selesaikan," jawabnya. Ia tak ingin Elle tahu bahwa ia seorang nara pidana. Ia tak ingin teman-temannya tahu dan berakhir mengejeknya. "Daddy tidak mau kamu pergi, tetaplah bersama Daddy apa pun yang terjadi," bisiknya.
Hingga akhirnya, Elle membalas ciuman itu meski sedikit kaku. Tidak ada penghalang baginya untuk melepaskan ciuman itu. Axel membopong tubuh gadis itu setelah melepaskan ciumannya. Membawanya ke kamar mandi sehingga melanjutkan permainan di sana.
"Daddy?" lirih Elle, "aku belum siap jika harus melakukannya sekarang," katanya.
"Tidak, Daddy tetap akan menunggu sampai umurmu genap 17 tahun." Axel kembali menciumnya, meraba ke punggung untuk mencari pengait bra di belakang sana.
__ADS_1
Axel terus menjelajahi tubuh gadis itu, meraba gunungnya dengan sangat lembut. Ciuman semakin panas. Elle mengikuti apa yang diarahkan daddy-nya. Melepaskan ciuman itu, lalu saling menatap. Lalu menyuruh Elle berjongkok.
"Lakukan seperti kemarin," titahnya. Axel melepas boxer hingga kepemilikkannya terpangpang jelas di hadapan Elle. Axel menangkup kepala gadis itu, dan Elle mulai menyentuh bagian tubuh yang menegang, memasukkannya ke dalam mulut.
"Ya, begitu, sayang. Lebih cepat," kata Axel. Bibir dan lidah sudah terasa kebas, Elle hampir muntah karena mulutnya penuh dengan milik sang daddy.
Axel menahan hasratnya, melepas kepemilikannya. Meraih tubuh Elle dan mendudukkannya di closet. Membuka kedua paha melihat celah kecil di bawah sana yang masih tertutup segitiga berwarna merah.
Elle mengapitkan kedua kaki, ini sangat memalukan baginya. "Daddy jangan begitu," tolak Elle.
"Tidak apa-apa, kamu juga harus menikmatinya," ujar Axel. Pria itu membuka cela kecil di bawah sana, menyikabkan segitiga, "Bentuknya masih bagus." Axel menyentuhnya dengan jari, dari lipatan atas sampai bawah.
"Ah ... Daddy ..." racau Elle.
Axel mulai menyusuri benda itu dengan lidah, Elle semakin tidak tahan, antara geli dan nikmat. "Daddy ..." Kedua lututnya melemas setelah merasakan berdenyut-denyut.
__ADS_1
Axel menarik diri, ia berdiri lalu mengocok batangnya sendiri, dan ...Elle bermandikan sesuatu yang baru saja menyembur di area wajah sampai dada. Setelah beberapa menit meraka pun mandi bersama.