Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)

Ranjang Pengkhianatan (Balas Dendam)
Episode_023


__ADS_3

"Aku akan menyetir sendiri, kamu pikirkan saja cara untuk menghancurkan risort itu. Saat hampir bangkrut, kita datang sebagai penyumbang investasi terbesar di sana lalu ambil alih secara perlahan." Ucapnya lalu berlalu dari pandangan Jose.


Dalam perjalanan, Axel memikirkan apa yang disarankan Jose padanya. Ia menyetir sambil memijat kening karena sakit kepala. Sudah beberapa hari ini ia menahan hasratnya. Pergi ke club pun percuma, tak bisa yang dapat ia lakukan selain mabuk. Tak sudi jika harus menyentuh wanita jal*ng di sana.


Mobil yang dikendarainya sudah terparkir di halaman. Bibirnya melengkung saat melihat Elle yang tengah menantikannya, posisinya tetap berada di balik tirai kamar. Ia yakin kalau gadis itu tak bisa jauh darinya.


Elle yang melihat kedatangannya langsung pergi. Gadis itu menuruni tangga dengan tergesa. Hingga akhirnya, mereka pun bertemu di sana. Elle menghentikan langkah saat berpapasan dengan sang daddy.


Turunkan egomu, Ell. Kamu yakin kamu bisa. Elle menyemangati diri. Gadis itu menunjukkan senyum termanisnya pada daddy-nya.


"Daddy masih marah padaku?" tanya Ella.


"Hmm." Jawab Axel sambil melewati tubuh anak gadisnya. Elle menatap kepergian pria itu dengan hati nanar.

__ADS_1


Cobalah mengalah, jangan buat daddy semakin marah. Turuti apa maunya, jangan membantah.


Ella masih ingat akan nasehat Carla tadi selepas pulang sekolah. Tapi ia tengah mempertahankan mahkotanya, apa itu salah? Elle menyusul Axel. Pintu sudah tertutup dan terkunci.


Elle menggedor pintu dengan sangat keras. "Daddy buka pintunya, izinkan aku masuk," teriak Elle.


Pintu itu terbuka, dan Elle melihat ayahnya yang tengah menggunakan boxer dan bertelanjang dada. Sepertinya lelaki tua yang terlihat tampan itu akan menyegarkan diri malam ini. Selepas membuka pintu, pria itu tidak bersuara, malah berbalik badan pergi dari sana. Elle menyusul masuk ke dalam.


Axel membalikkan tubuh, menatap gadis itu yang tengah menunduk. Dirinya menghela napas, gadis itu pasti akan seperti itu sebelum ia mamaafkannya. Axel menghampirinya. Menyentuh kedua pundaknya, dan Elle mengangkat wajah. Menatap pria yang ada di hadapannya.


"Daddy memaafkanku 'kan?" Elle memasang wajah melasnya, matanya sudah menggenang karena akan menangis.


Axel tak bersuara sama sekali, ia malah menatap bibir mungil gadis itu. Meraih dagu lalu menariknya. Mencium bibir ranum gadis itu sekilas. "Daddy akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat," ucapnya.

__ADS_1


Elle terperanga dengan aksi daddy-nya. Masih sempat menciumnya dalam keadaan seperti ini, pikirnya. Tak bisa menjawab karena tiba-tiba jantungnya berpacu cepat. Ada perasaan di dalam sana, apa lagi dirinya tahu soal Axel yang bukan ayah kandungnya. Perasaan yang tak bisa ia kendalikan.


"Mau apa tidak?" tanya Axel.


"Apa? Apa syaratnya?"


"Puaskan Daddy malam ini, Daddy janji tidak sampai penyatuan. Daddy hanya ingin kamu membantu, Daddy," katanya.


"Katakan sesuatu dulu padaku, apa yang membuatku harus membantu, Daddy? Bukankah Daddy, Daddy-ku? Tidak ada anak yang membantu orang tuanya mengeluarkan hasratnya. Yakinkan aku jika memang aku harus melakukannya."


Axel terdiam sejenak, haruskah ia jujur malam ini? Bagaimana jika gadis itu tak menerima kenyataan tentang ini? Justru itu akan membuatnya kehilangan putrinya.


"Ayo, katakan sesuatu padaku? Apa yang harus membuatku melakukan ini?" tanya Elle lagi.

__ADS_1


__ADS_2